Pembahasan Dasar Berkenaan dengan Nas-nas Mutasyabihat Menurut Ulama Salaf&Khalaf.Bag I


Kalangan ulama’ salafi (wahabi) dan para pengikutnya yang konon mereka mengaku mengikut salafus soleh, namun pada kenyataannya mereka berpegang dengan fahaman tajsim (menjisimkan Allah SWT.), dalam waktu yang sama, mereka menafikan tajsim tersebut sebagai tasybih sedangkan para salafus soleh menafikan secara mutlak, apapun makna kejisiman untuk dinisbahkan kepada Allah SWT.

Penyebab kekeliruan mereka adalah disebabkan sikap jumud (statik) mereka dalam berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat (ayat-ayat yang mempunyai makna yang samar), di mana mereka menafikan majaz (kiasan), kaedah ta’wil (memalingkan makna perkataan tersebut daripada makna zahirnya atau menjauhkan makna dari segi zahirnya kepada makna yang lebih layak bagi Allah SWT) dan tafwidh (menyerahkan makna dan hakikat perkataan tersebut kepada Allah SWT.) ketika berinteraksi dengan nas-nas tersebut.

Akhirnya, mereka menetapkan makna untuk perkataan-perkataan mutasyabihat tersebut dengan makna zahirnya yang membawa maksud kejisiman, lalu dinisbahkan kepada Allah SWT, serta kejahilan mereka tentang ketinggian bahasa Arab itu sendiri yang mengandungi konsep majaz (kiasan).

Hasilnya, mereka menisbahkan jisim untuk zat Allah SWT, seperti tangan, wajah, mata dan lain sebagainya, sehingga akhirnya mereka menisbahkan tempat bagi Allah s.w.t., yaitu di atas Arasy. Inilah antara kesesatan dan bid’ah terbesar bagi sebahagian besar golongan salafi modern yang mengaku salaf, padahal kaum salafus soleh berlepas tangan dariapda kesesatan dan bid’ah mereka.

Silahkan lihat buku-buku aqidah mereka seperti buku Risalah At-Tadammuriyyah, Al-Arasy, Fatawa, At-Ta’sis dan lain sebagainya, karangan Ibn Taimiyah, dan buku para penganut faham beliau seperti buku-buku syarah Aqidah Tohawiyah versi salafi, (syarah Bin Baz dan sebagainya), dan sebagainya.

Mereka (salafi modern) tanpa segan-segan dan tanpa merasa malu, menisbahkan faham tajsim mereka kepada salafus soleh sedangkan salafus soleh berlepas tangan daripada faham mereka.

Contoh-contoh sebahagian perkataan para pelopor mereka: Kitab Al-Kawasyif Al-Jaliyyah ‘an Ma’ani Al-Wasathiyyah yang disusun oleh Syaikh Abdul Aziz Al-Muhammad Al-Sulaiman (h:195) menuliskan: “Makna istiwa adalah ketinggian, naik dan menetap” Dalam buku masa’il wa fatawa, Syaikh Ahmad bin Nasir berkata (h:560):

” Allah di atas Arasy dan kursi adalah tempat letaknya kakiNya.” Dan sebagainya.

Adapun para salafus soleh. Apabila mereka berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat, maka mereka akan menekankan konsep tanzih (menyucikan Allah s.w.t. daripada karakteristik yang tidak layak di Allah) dan taqdis (menyucikan sifat-sifat Allah sw.t. daripada sifat-sifat makhluk). Dua manhaj utama mereka takkala berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat adalah apakah tafwidh (menegaskan bahawa mereka tidak tahu makna sebenarnya perkataan tersebut, lalu menyerahkan makna perkataan tersebut kepada Allah s.w.t.) maupun ta’wil qarib (memberi makna lain kepada perkataan tersebut, sesuai dengan aqidah Islam yang murni dan kaedah bahasa Arab yang tinggi/kaedah kiasan).

Untuk memahami tema ini harus diketahui terlebih dahulu bahwa di dalam Al Qur’an terdapat ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat, Allah berfirman:

هُوَ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَـأَمَّا الَّذِيْنَ فِي قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِـغَاءَ الْفِـتْنَةِ وَابْتِـغَاءَ تَأْوِيْلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْـلَهُ إِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُوْنَ فِي الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ ءَامَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوْا اْلأَلْبَابِ “

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada Muhammad. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat muhkamat, itulah Umm Al Qur’an (yang dikembalikan dan disesuaikan pemaknaan ayat-ayat al Qur’an dengannya) dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya sesuai dengan hawa nafsunya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya (seperti saat tibanya kiamat) melainkan Allah serta orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu berasal dari Tuhan kami”.Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya kecuali orang-orang yang berakal” (QS. Al Imran : 7)

Dalam ayat ini, Allah s.w.t. membagi ayat-ayat Al-Qur’an kepada dua jenis yaitu mutasyabihat dan muhkamat. Fokus kita dalam pembahasan kali ini adalah memahami pendapat salafus-soleh dan mayoritas ulama’ Islam terhadap ayat-ayat mutasyabihat dengan makna yang dimaksud dari surah Ali Imran ayat ketujuh ini. Adapun mengenai ayat pertama dalam QS. Hud dan QS. Az-Zumar ayat ke-23, maka lafadz muhkam dan mutasyabih dalam kedua ayat tersebut berbeda makna dan penggunaannya dibandingkan dengan ayat ke-7 surat Ali Imran ini. Oleh sebab itu, pembahasan kita fokuskan kepada Surah Ali Imran ayat ke-7 ini kerana tafsiran-tafsirannya di sisi para ulama’ tafsir berbeza jika dibandingkan dengan pembahasan mereka dalam surat Az-Zumar (ayat 23) dan surat Hud (ayat pertama). Muhkamat dalam surat Ali Imran (ayat ketujuh) berbeda dengan maksud Muhkam dalam surat Hud (ayat pertama) karena Muhkam dalam Surah Ali Imran bermaksud: sesuatu ayat yang tidak mempunyai kesamaran maknanya yang bertentangan dengan mutasyabih. Adapun Muhkam dalam surah Hud maknanya adalah suatu ayat yang telah diputuskan dan ditetapkan oleh Allah sw.t. yang tidak mengandung kebatilan. Jadi ia bukan lawan kata bagi mutasyabih. Begitu juga Mutasyabih dalam surah Ali Imran ayat ke-7 ini berbeda maknanya dengan Mutasyabih yang terdapat dalam surah Az-Zumar kerana Mutasyabih dalam surah Ali Imran bermaksud, mengandung kesamaran sedangkan Mutasyabih dalam surah Az-Zumar bermaksud, saling menyamai antara satu lafad dengan lafad yang lain. Maka, mutasyabih dalam surah Az-Zumar bukan lawan kata bagi muhkam sedangkan Mutasyabih dalam surah Ali Imran adalah lawan kata bagi Muhkam dalam surah yang sama.

Al-Imam Al-Qurtubi misalnya, ketika membahas perkataan Muhkam dalam surah Hud ayat pertama, beliau berkata:

وأحسن ما قيل في معنى )) أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ (( قول قَتَادة؛ أي جعلت محكمة كلّها لا خَلَل فيها ولا باطل.

Maksudnya: “Sebaik-baik perkataan yang menjelaskan makna “…Uhkimat Ayatuhu” (ayat-ayatnya disusun dengan rapi) adalah perkataan Qatadah yaitu: “Dijadikan ayat-ayat Al-Qur’an muhkamah seluruhnya karena ia (ayat-ayat Al-Qur’an) didalamnya tiada kecelaan dan tiada kebatilan…” [Al-Jami’e li Ahkam Al-Qur’an pada surah Hud ayat pertama]

Namun, ketika Imam Al-Qurtubi menafsirkan perkataan Muhkamat dalam surah Ali Imran ayat ketujuh, beliau berkata:

فقال جابر بن عبد الله، وهو مقتضى قول الشعبي وسفيان الثوري وغيرهما: المحكمات من آي القرآن ما عرِف تأويله وفهم معناه وتفسيره. والمتشابه ما لم يكن لأحد إلى علمه سبيل مما ٱستأثر الله تعالى بعلمه دون خلقه.

Maksudnya: “Jabir bin Abdullah berkata, berdasarkan perkataan As-Syi’bi, Sufian At-Thauri dan sebagainya: “Muhkamat dari ayat Al-Qur’an manapun, adalah apa yang diketahui ta’wilnya dan apa yang difahami maknanya dan tafsirnya sedangkan Mutasyabih adalah apa yang tidak ada jalan bagi seseorangpun untuk mengetahuinya karena ia(Mutasyabihat) disembunyikan oleh Allah dengan ilmuNya tanpa (pengetahuan) makhlukNya” [Al-Jami’e Li Ahkam Al-Qur’an pada surah Ali Imran ayat ketujuh]

Ini jelas sekali menunjukkan pembahasan muhkam dan mutasyabih dalam dua ayat berbeda (surah Hud dan surah Az-Zumar) berbeda dengan pembahasan muhkam dan mutasyabih dalam satu ayat yang disertakan kedua perkataan tersebut (Ali Imran ayat ketujuh). Begitu juga kalau kita lihat dalam tafsir Al-Jalalain ada menyebut tentang membezakan kedua-dua penggunaan lafaz muhkam dan mutasyabih dalam surah Ali Imran dengan lafaz muhkam dan mutasyabih dalam surah Hud dan surah Az-Zumar. Ianya berbunyi:

}هُوَ ٱلَّذِى أَنزَلَ عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ مِنْهُ ءَايَٰتٌ مُّحْكَمَٰتٌ } واضحات الدلالة { هُنَّ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ } أصله المعتمد عليه في الأحكام { وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٌ } لا تفهم معانيها كأوائل السور وجعله كله محكماً في قوله { أُحْكِمَتْ آياته [1:11] بمعنى أنه ليس فيه عيب ومتشابهاً في قوله)) كِتَابَاً مَّتَشَابِهاً [23:39] بمعنى أنه يشبه بعضه بعضاً في الحسن والصدق

Maksudnya: “((Dia yang menurunkan kepadamu Al-Kitab yang di antaranya ada ayat-ayat muhkamat…)) yaitu yang jelas petunjuk (maknanya), ((ia adalah ummul kitab…)) yaitu yang mana ia merupakan suatu asas yang dipegang dalam panduan hukum-hukum, ((…dan yang lain adalah mutasyabihat…)) yaitu tidak diketahui maknanya seperti awal-awal Surah…

“Allah juga menyebutkan bahwa Al-Qur’an seluruhnya sebagai muhkam pada firmanNya: “putus/jelas ayat-ayatnya…” (Surah Hud ayat pertama) dengan makna bahwasanya tiada keaiban padanya (keseluruhan Al-Qur’an). Begitu juga Allah s.w.t. menyebut Al-Qur’an (keseluruhannya) sebagai mutasyabih pada firmanNya: ((suatu kitab yang mutasyabih…)) [Surah Az-Zumar: 23] dengan makna: saling menyamai antara sesetengah ayat dengan ayat yang lain dari sudut keindahan dan kebenarannya…” [Tafsir Jalalain: Ali Imran ayat ke-7] Ini menunjukkan secara jelas, perbedaan antara muhkam dan mutasyabih dalam ayat ketujuh surah Ali Imran dengan muhkam dan mutasyabih dalam surah Hud dan surah Az-Zumar.

Insya Allah Bersambung .

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: