RASULULLAH SAW BUKAN SEKADAR MANUSIA BIASA


Para ulama’ salafus-soleh tidak pernah berkata bahwasanya Rasulullah SAW. itu sekadar manusia biasa, tetapi para sahabat r.a., para tabi’in dan para ulama’ salafus-soleh mengangungkan Rasulullah SAW. dan menghormati Baginda SAW dengan penghormatan yang tinggi.

Sebahagian golongan pengaku salafi dewasa ini telah melampaui batas dengan berkata bahwasanya Rasulullah SAW, itu sekadar manusia biasa yang tidak memiliki keistimewaan Rasulullah SAW hanyalah sekadar menyampaikan risalah kepada umat manusia. Itu saja keistimewaan Rasulullah SAW. Bahkan menurut sebahagian daripada mereka, sebelum Rasulullah SAW. diangkat menjadi nabi, Baginda s.a.w. sama seperti manusia biasa saja. Artinya Rasulullah SAW tidak maksum.

Na’uzubillah…dari perkataan seperti itu.

Ibn Muni’e berkata dalam buku “Al-Hiwar” (bukunya yang mengkritik Sheikh Al-Syarif as-Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki r.a.):

Adapun apa yang kita percaya pada Rasulullah SAW adalah, bahwasanya beliau SAW sekedar seorang rasul yang tidak ada keistimewaan atasnya melainkan sekedar menyampaikan risalah … Beliau SAW tidak mengetahui yang gaib dan tidak memiliki manfaat bagi diri beliau saw dan tidak juga mudarat dan kebaikan melainkan sesuai dengan kehendak Allah. Beliau makan makanan dan berjalan di pasar-pasar … dan sesungguhnya Beliau adalah seorang manusia seperti kita yang diutus ke kita … Beliau saw juga hamba Allah dan Rasul-Nya yang memiliki tabiat kemanusiaan yang sama seperti manusia-manusia yang lain. “ (Al-Hiwar. hal.35)

Hakikatnya, ungkapan tersebut tidak pernah diungkap oleh setiap sahabat ra, para tabi’in dan para ulama ‘salafus-saleh. Mereka tidak pernah mengungkapkan: “Rasulullah saw manusia seperti kita …”. Mereka bahkan mengungkapkan kata-kata yang memuji Rasululllah SAW dan mengagungkan posisi Beliau SAW..

Allah SWT sendiri mengungkap pujian terhadap Rasulullah SAW dengan berfirman:

Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Surah Al-Qalam: 4)

Bahkan, para sahabat r.a. selalu memuji dan mengagungkan Rasulullah saw.

Hissan bin Tsabit ra, seorang sahabat Rasulullah SAW menuturkan sajak yang memuji Rasulullah SAW.:

يا ركن معتمد وعصمة لائـذ    

ومـلاذ منتـجـع وجـارمجـاور

يا من تخـيّـره الإلـه لخلقه   

فحبـاه بالخلـق الزكـي الطاهـر

 أنت النبي وخير عصبـة آدم   

 يـا مـن يجود كفيـض بـحر زاخر

ميكال معك وجبرئيل كلاهما  

    مــدد لنصـرك مـن عزيـز قادر

Wahai tiang, tempat bersandarnya orang yang bersandar,Tempat berlindung orang yang berlindung kepadanya, Tempat meminta tolong orang yang kesusahan, Dan penyelamat orang yang memohon perawatan! Wahai makhluk pilihan Allah untuk makhlukNya, Maka Allah menganugerahkan kepadanya akhlak yang suci, Engkau adalah Nabi dan sebaik-baik keturunan Adam, Hai

Nabi yang Pemurah bagai limpahan lautan yang luas,

Mikail dan Jibril selalu menyertaimu.Keduanya bersedia untuk menolongmu, Sebagai bantuan dari Tuhan yang Maha Mulia lagi Maha Perkasa

Nah, betapa agungnya ungkapan seorang sahabat terhadap Rasulullah SAW, bukan seperti mereka yang mengungkapkan: “Rasulullah manusia sebagaimana manusia lain”, yang biadab dalam tutur katanya terhadap Sayyidina Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda sendiri dalam menunjukkan keagungan Beliau SAW yang bukan sekedar manusia biasa:

( أنا أكرم الأولين والآخرين ولا فخر )

 Aku adalah semulia-mulia manusia di antara manusia yang pertama maupun yang terakhir dan aku tidak pula bangga” (HR At-Tirmizi dan Ad-Darimi)

Rasulullah SAW bersabda lagi:

أنا أتقى ولد آدم وأكرمهم على الله ولا فخر

Aku yang paling bertakwa di kalangan anak Adam dan yang paling mulia dari kalangan mereka dan tidaklah aku bermegah dengannya”.(HR. At-Tabrani dan Al-Baihaqi)

Nah, wahai yang berkata Rasulullah SAW manusia yang sama seperti kamu, apakah kamu semulia-mulia manusia? Memang tidak sama antara orang yang dimuliakan oleh Allah, yang beradab dengan Allah dan makhluk-makhluk, dengan orang yang tidak beradab dengan Rasulullah SAW.

Para salafus-saleh juga selalu beradab dengan Rasulullah SAW. Bahkan, tidak pernah didengar kata seperti yang diungkapkan oleh Ibn Muni’e tersebut. Bahkan, kata “Rasulullah manusia seperti kita …” hanya diungkapkan oleh orang-orang kafir kepada para nabi mereka.

Kaum Nuh berkata kepada Nuh a.s. seperti yang direkam di dalam Al-Qur’an:

(( فَقَالَ الْمَلأُ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قِوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلاَّ بَشَراً مِّثْلَنَا ))

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami…“. (QS. Hud: 27)

Begitu juga perkataan orang-orang kafir dari kalangan kaum Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. kepada Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.:

(( فَقَالُوا أَنُؤْمِنُ لِبَشَرَيْنِ مِثْلِنَا وَقَوْمُهُمَا لَنَا عَابِدُونَ ))

” Dan mereka berkata: “Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?” (QS. Al-Mu’minun: 47)

Kaum Thamud berkata begitu juga kepada nabi mereka sebagaimana yang direkam dalam Al-Qur’an:

(( مَا أَنتَ إِلاّ بَشَرٌ مِّثْلُنَا فَأْتِ بِآيَةٍ إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ))

Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; Maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar”. (QS. As-Syu’ara’: 154)

Bahkan, Al-Qur’an juga merekam perkataan orang-orang kafir Quraisy kepada Rasulullah s.a.w.:

وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ

            “Dan mereka berkata: “Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?… (Surah Al-Furqan: 7)

Ungkapan ini sama dengan ungkapan yang dikemukakan oleh penulis kitab Al-Hiwar tersebut takkala berkata: Baginda s.a.w. makan maknanan dan berjalan di pasar-pasar…” (Al-Hiwar hal.35)

Nah… Sebenarnya, ungkapan-ungkapan tersebut merupakan ungkapan-ungkapan orang-orang kafir pada waktu kaum Nabi-nabi yang terdahulu. Ungkapan tersebut tidak pernah diungkapkan dari golongan orang-orang yang beriman kepada para rasul karena mereka menghormati dan memuliakan para Rasul a.s., terutamanya Rasulullah s.a.w. yang merupakan penghulu bagi sekalian nabi dan rasul

Para salafus-soleh dan para imam mujtahidin tidak pernah mengungkapkan perkataan tersebut sama sekali. Inilah adab para salafus-soleh terhadap Rasulullah SAW.

Antara sifat-sifat utama bagi para rasul itu sendiri adalah: Benar, Amanah, Menyampaikan, Bijaksana, Selamat dari aib (kekurang atau sifat-sifat tercela) dan dipelihara dari berbuat dosa (ma’sum). Inilah antara ciri-ciri keistimewaan para rasul a.s. yang mulia.

Bahkan, antara ciri-ciri khusus keistimewaan Rasulullah SAW. itu sendiri adalah sepertimana sabda Beliau SAW:

((هل ترون قبلتي هاهنا ؟ فوالله ما يخفى عليَّ ركوعكم ولا سجودكم إني لأراكم من وراء ظهري))

Adakah kamu dapat melihat kiblatku di sini? Demi Allah. Ruku’ dan sujud kamu tidak sesekali tersembunyi darip penglihatanku. Sesungguhnya aku melihat kamu dari belakangku” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Apakah penulis buku Al-Hiwar yang mengklaim Rasulullah SAW. manusia yang sama sepertinya ia hanya dapat melihat dari belakangnya?

Saudaraku…! Ikutilah adab dan aqidah salafus-soleh yang sebenarnya!, yang menghormati dan memuliakan Rasulullah SAW. Janganlah sekali-kali terpengaruh oleh golongan salafi modern yang tidak menjaga adabnya terhadap Rasulullah SAW

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: