TUJUAN PENCIPTAAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN


TUJUAN PENCIPTAAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Oleh: H. A. Khudori Yusuf.Lc. MA

Umat Islam menerima bahwa tujuan dibalik penciptaan jin dan manusia baik laki-laki maupun perempuan adalah mereka harus beribadah kepada Allah Swt, menjalani kehidupannya sebagaimana yang Allah perintahkan serta berjuang menghadapi godaan syaithan, untuk mencapai  kebahagian hidup didunia dan akhirat.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.(QS. 51:56)

Dalam ayat ini Allah Swt menegaskan kepada kita bahwa tidaklah menjadikan jin dan manusia baik laki-laki maupun perempuan melainkan untuk mengenal-Nya dan supaya menyembah-Nya. Hal ini diterangkan juga dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Mujahid, yang berbunyi sebagai berikut:

كنت كنزا مخفيا فأردت أن أُعْرَفَ فخلقت الخلق فبي عرفوني

Artinya: “Aku laksana perbendaharaan yang tersembunyi, lalu Aku ingin supaya diketahui, maka kujadikanlah makhluk, maka dengan adanya (ciptaan-Ku) itulah mereka mengetahui-Ku[1].

Firman Allah SWT:

وما أمروا إلا ليعبدوا إلها واحدا لا إله إلا هو سبحانه عما يشركون

Artinya: “Tidaklah mereka itu diperintahkan untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (Q.S. At Taubah :31)

Pendapat tersebut sama dengan pendapat AZ Zajjaj, tetapi ahli tafsir yang lain berpendapat bahwa maksud ayat tersebut ialah bahwa Allah Swt tidak menjadikan jin dan manusia kecuali untuk tunduk kepada-Nya dan untuk merendahkan diri. Maka setiap makhluk Allah Swt, baik jin atau manusia wajib tunduk kepada peraturan Tuhan, merendahkan diri terhadap kehendak-Nya  Menerima apa yang Ia takdirkan, mereka dijadikan atas kehendak-Nya dan diberi rezeki sesuai dengan apa yang telah Ia tentukan Tak seorang pun yang dapat memberikan manfaat atau mendatangkan mudarat karena kesemuanya adalah dengan kehendak Allah Swt. Ayat tersebut menguatkan perintah mengingat Allah Swt dan menghimbau manusia supaya melakukan ibadah kepada Allah. Karena Itu Allah berfirman:

بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُن مِّنْ الشَّاكِرِينَ

Artinya:Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur (QS. Az-Zumar [39]:66)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي

Artinya: Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”.(QS. Az-Zumar [39]:11)

Dalam Kapasitas manusia sebagai hamba, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya sama-sama memiliki peluang yang sama untuk menjadi hamba Allah yang ideal. yaitu dalam al-Qur’an biasa di istilahkan sebagai orang-orang yang bertaqwa ini tidak di kenal dengan adanya perbedaan jenis kelamin, suku bangsa atau kelompok etnis tertentu. Dalam kapasitas sebagai hamba, laki-laki dan perempuan masing-masing akan mendapatkan pahala dari Allah sesuai dengan kadar ketakwaannya. Allah Swt berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl [16] : 97)

Dalam ayat ini All Swt berjanji bahwa Dia benar-benar akan memberikan kehidupan yang bahagia dalam dunia kepada hamba-Nya baik laki-laki maupun perempuan yang mengerjakan amal saleh yaitu segala amal yang mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunah Rasul, sedang hati mereka penuh dengan keimanan. Kehidupan bahagia dalam dunia ini suatu kehidupan di mana jiwa manusia memperoleh kesenangan dan kedamaian berkat dia merasakan kelezatan iman dan kenikmatan keyakinan. Jiwanya penuh dengan kerinduan akan janji Allah tetapi rela dan ikhlas menerima takdir Jiwanya bebas dari perbudakan benda duniawi, dan hanya tertuju kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mendapatkan limpahan cahaya dari pada Nya. Jiwanya selalu merasa puas terhadap segala apa yang diperuntukkan kepadanya, karena ia mengetahui bahwa rezeki yang diterimanya itu adalah hasil dan penakdiran Allah Swt. Adapun di akhirat dia akan memperoleh dari Allah balasan pahala yang besar dan paling baik karena kebijaksanaan dan amal saleh yang telah diperbuatnya dan berkat iman yang bersih yang mengisi jiwanya.

Al-Qur’an memberikan bukti yang nyata bahwa wanita benar-benar setara dengan pria di dalam hak dan kewajibannya Hal itu dinyatakan dalam Al-Qur’an:

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. (QS AlMumtahanah:38)

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan  (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.” (QS Al-Imran:195)

Ayat-ayat ini mengisyaratkan kesetaraan gender yang ideal dan memberikan ketegasan bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spiritual maupun urusan karier profesional tidak mesti dimonopoli oleh satu jenis kelamin saja. Laki-laki dan perempuan memperoleh kesempatan yang sama untuk meraih prestasi yang optimal. Namun dalm kenyataanny dimasyarakat, konsep ideal ini masih butuh tahapan dan sosialisasi, karena masih terdapat sejumlah kendala, terutama kendala budaya yang sulit di selesaikan. Salah satu obsesi al-Qur’an adalah terwujudnya keadilan di dalam masyarakat. Keadilan dalam al-Qur’an mencakup segala segi kehidupan umat manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarkat. Karena itu al-Qur’an tidak mentolerir segala bentuk penindasan, baik berdasarkan kelompok etnis, warna kulit, suku bangsa dan kepercayaan maupun berdasarkan jenis kelamin. Jadi jika terdapat suatu hasil hasil pemahaman yang menindas dan menyalahi nilai-nilai luhur kemanusian, maka hasil pemahaman tersebut terbuka untuk diperdebatkan.

Di Kutip dari buku Legitimasi Hakim & Kepemimpinan Kaum Hawa.( Karya. H.A.Khudori Yusuf.Lc.MA,


[1]  lihat Tafsir AI Maragi hal. 13, juz 27, jilid IX

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: