HUKUM PERAYAAN MAULID


Hukum perayaan maulid telah menjadi perdebatan para ulama sejak lama dalam sejarah Islam, yaitu antara kalangan yang memperbolehkan dan yang melarangnya karena dianggap bid’ah. Hingga saat ini pun masalah hukum maulid, masih menjadi topik hangat yang diperdebatkan kalangan muslim. Yang ironisnya, di beberapa lapisan masyarakat muslim saat ini permasalahan peringatan maulid sering dijadikan tema untuk berbeda pendapat yang kurang sehat, dijadikan topik untuk saling menghujat, saling menuduh sesat dan lain sebagainya. Bahkan yang tragis, masalah peringatan maulid nabi ini juga menimbulkan kekerasan sektarianisme antar pemeluk Islam di beberapa tempat. Seperti yang terjadi di salah satu kota Pakistan tahun 2006 lalu, peringatan maulid berakhir dengan banjir darah karena dipasang bom oleh kalangan yang tidak menyukai maulid.

Banyak sekali analisa para ulama dalam menyusun hipotesa dan membuktikan alasan dan argumen adanya dalil yang menganjurkan untuk merayakan maulid.

Untuk mengetahui hukum perayaan Maulid dalam buku ini kami sajikan dalam bentuk soal jawab. Adapun Pertanyaan-pertayaan  mereka  yang sering diajukan kepada penulis seperti berikut:

1)                 Kalangan anti Maulid biasanya mereka berkata: Mengapa merayakan Maulid ?

Jawab:

a. Kami merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW karena kami memuliakannya . Allah SWT berfirman:

فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُ ۥۤ‌ۙ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ (١٥٧)

Artinya:”Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.(Qs.Al-A’raf:157)

Didalam ayat ini Allah SWT secara tegas menyatakan bahwa orang yang memuliakan Rasulullah SAW adalah orang-orang yang beruntung. Merayakan Maulid termasuk dalam rangka memuliakannya.

وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا وَقَالَ اللَّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنْتُمْ بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

Artinya: “Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman: `Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus`.(QS. Al-Maidah:12)

Dalam Tafsir At-Thabari juz VI hal 151 arti lafazd “azzartumuhum” ialah “memuliakan mereka”.Orang yang memuliakan Nabi akan dimasukkan ke dalam syurga. Dan menyambut Maulid Nabi adalah dalam rangka memuliakannya.

b. Kami merayakan Maulid karena kami ingin menumbuhkan dan merealisasikan persaan cinta kepada  Nabi SAW disaat banyak orang  yang kini semakin jauh dari perasaan cinta kepada beliau. Bukankah Rasulullah SAW telah bersabda:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من نفسه وولده وماله

Artinya:“Tidak beriman seorang di antara kalian, hingga aku menjadi yang lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, anaknya dan hartanya”. (HR. Bukhari, Muslim, Imam Ahmad).

Ahh…!bukankah kita sendiri merayakan ulang tahun kelahiran sendiri? Ibu dan ayah kita. Bahkan ada pula golongan yang merayakan kelahiran ‘mujaddid’ mereka sendiri? Jika kita sendiri pun menyambut hari ulang tahun pernikahan, hari lahir diri dan juga orang lain. Mengapa kita tidak menyambut hari kelahiran manusia agung yang telah diutus oleh Allah ke muka bumi ini sebagai  rahmat untuk alam semesta ?

كنا مع النبي وهو آخذ بيد عمر بن الخطاب فقال عمر والله يا رسول الله لأنت أحب إلي من كل شيء إلا نفسي فقال لا والذي نفسي بيده حتى أكون أحب إليك من نفسك قال عمر فأنت الآن أحب إلي من نفسي فقال رسول الله الآن يا عمر

Artinya: “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu. Lalu Umar berkata, ”Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, ”Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya (imanmu belum sempurna). Tetapi aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Kemudian ’Umar berkata, ”Sekarang, demi Allah. Engkau (Rasulullah) lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, ”Saat ini pula wahai Umar, (imanmu telah sempurna(.” HR. Bukhari no. 6632.)

Hadist di atas menyimpulkan bahwa Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Dan tentunya masih banyak sekali dalil-dalil lain yang senada, yang menekankan wajibnya mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena hal itu merupakan salah satu inti agama, hingga keimanan seseorang tidak dianggap sempurna hingga dia merealisasikan cinta tersebut. Bahkan seorang muslim tidak mencukupkan diri dengan hanya memiliki rasa cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saja, akan tetapi dia dituntut untuk mengedepankan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentunya setelah kecintaan kepada Allah atas kecintaan dia kepada dirinya sendiri, orang tua, anak dan seluruh manusia.

c. Kami merayakan maulid karena kami bergembira dengan Rahmat Allah SWT. Bukankah Allah SWT, menganjurkan kepada kita untuk bergembira atas rahmat dan karunia-Nya, termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang membawa rahmat kepada alam semesta, Allah SWT berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“ Katakanlah:‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS.Yunus:58).

Al-Imam Imam As-Suyuti meriwayatkan:

وأخرج أبو الشيخ عن ابن عباس رضي الله عنهما في الآية قال:فضل الله العلم، ورحمته محمد صلى الله عليه وسلم

Abu As-Syeikh  telah meriwayatkan daripada Sayyidina Ibn Abbas r.a. tentang tafsiran ayat ini:Karunia Allah adalah Ilmu dan Rahmat-Nya adalah Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam.( Lihat Ad-Durr Al-Manthsur oleh Imam As-Suyuti, dan lihat juga dalam Al-Bahr Al-Muhith oleh Imam Abu Hayyan)

Hal ini berdasarkan firman Allah s.w.t.:

وَمَا أرْسَلنَاكَ إلا رَحْمَةً لِلعَالمِين

Maksudnya:“Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”(QS.Al-Anbiya,107)

Dalam ayat ini Allah SWT menyuruh kepada kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya. Bukankah Nabi Muhammad SAW merupakan rahmat yang terbesar ?. Adakah rahmat yang lebih besar selain diutusnya Nabi SAW ?.

Dalam sebuah hadist disebutkan:

وذكر السهيلي أن العباس بن عبد المطلب رضي الله عنه قال : لما مات أبو لهب رأيته في منامي بعد حول في شر حال فقال ما لقيت بعدكم راحة الا أن العذاب يخفف عني كل يوم اثنين قال وذلك أن النبي صلى الله عليه وسلم ولد يوم الإثنين وكانت ثويبة بشرت أبا لهب بمولده فاعتقها

Artinya: As-Suhaeli menyebutkan” bahwa Abbas bin Abdul mutholib melihat abu lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya, “Bagaimana keadaanmu? Abu lahab menjawab, di neraka, cuma setiap senin siksaku diringankan karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw.” (Shahih bukhari hadits no.4813, sunan Baihaqi al-kubra hadits no.13701, syi’bul Iman no.281, fathul Baari al-Masyhur juz 11 hal431)

Peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari seni tiba. Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati, karena kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?

d. Kami merayakan Maulid Nabi karena untuk meneguhkan hati kami dengan hikmah dikisahkannya para rasul Allah SWT berfirman:

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu.. (Hud :120)”

Dari ayat ini nyatalah bahwa hikmah dikisahkannya para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak diragukan lagi bahwa saat ini kita pun butuh untuk meneguhkan hati kita dengan berita-berita tentang beliau, lebih dari kebutuhan beliau akan kisah para nabi sebelumnya

e. Kami merayakan Maulid karena kami bersyukur kepada Allah SWT atas kelahiran Nabi SAW. Dalam sebuah Hadits riwayat Imam al- Bukhari dan Imam Muslim dalam kedua kitab Shahih-nya. Diriwayatkan bahwa “Ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram). Rasulullah bertanya kepada mereka: “Untuk apa mereka berpuasa?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari ditenggelamkan Fir’aun dan diselamatkan Nabi Musa, dan kami berpuasa di hari ini adalah karena bersyukur kepada Allah “. Kemudian Rasulullah bersabda:

أنا أحقُ بموسى منكم فصا مه و أمر بصيامه

“Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”. Lalu Rasulullah berpuasa dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa

Pelajaran penting yang dapat diambil dari hadits ini ialah bahwa sangat dianjurkan untuk melakukan perbuatan syukur kepada Allah pada hari-hari tertentu atas nikmat yang Allah berikan pada hari-hari tersebut. Baik melakukan perbuatan
syukur karena memperoleh nikmat atau karena diselamatkan dari marabahaya. Kemudian perbuatan syukur tersebut diulang pada hari yang sama disetiap tahunnya. Bersyukur kepada Allah dapat dilakukan dengan melaksanakan berbagai bentuk ibadah, seperti sujud syukur, berpuasa, sedekah, membaca al-Qur’an dan semacamnya.Bukankah kelahiran Rasulullah adalah nikmat yang paling besar bagi umat ini?! Adakah nikmat yang lebih agung dari dilahirkannya Rasulullah pada bulan Rabi ‘ul Awwal ini?! Adakah nikmat dan karunia yang lebih agung dari pada kelahiran Rasulullah yang menyelamatkan kita dari jalan kesesatan?! Demikian inilah yang telah dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani.

f. Kami merayakan Maulid karena kami ingin mendorong kepada umat muslim agar mau membaca Shalawat dan Salam kepada Nabi SAW. Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيما

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).

Apa saja yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara’, berarti hal itu juga dituntut oleh syara’. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan Sholawat dan Salam kepadanya.Peringatan Maulid Nabi SAW mendorong umat untuk membaca shalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala,

2)    Kalangan anti Maulid biasanya berkata : Mana dalilnya atau dasarnya merayaan Maulid ? karena dalil-dalil diatas bukanlah dalil Maulid.

Jawab:

Ini adalah pertanyaan yang salah, kenapa kami katakan pertanyaan yang salah. karena tidak ada ceritanya yang namanya wasa’il (Pelantara) ada dalil qoth’inya. Contoh kita menulis artikel untuk dimuat di majalah dengan tujuan untuk dakwah, kegiatan menulis itu bukan ibadah maka hukumnya mubah.Tapi karena tujuan menulisnya mengharapkan ridho Allah dalam rangka dakwah dengan jalan menulis artikel untuk dimuat di majalah maka dalam Islam ini berpahala dan termasuk ibadah (wasa’ilnya kita menulis  untuk dimuat di majalah, maqoshidnya mengharapkan ridho Allah dalam rangka berdakwah).Tapi jika anda menganggap kegiatan menulis ini sebuah ibadah yang dzatnya adalah ibadah seperti ibadah mahdhoh sudah pasti ini namanya bid’ah dholalah.

Kami beri contoh lagi, kegiatan pengajian dan tabligh, awalnya bentuk kedua kegiatan ini bukan ibadah dan tidak ada contoh dari rasul jadi hukumnya mubah, tapi karena isi dari kegiatan ini adalah ibadah (seperti tholabul ilmi dan tauziyah atau bahkan dakwah)maka kegiatan pengajian dan tabligh insyaallah berpahala dan bernilai ibadah (wasailnya kegiatan pengajian dan tabligh, maqoshidnya mengharapkan ridho Allah dalam rangka tholabul ilmi dan berdakwah). Sekali lagi jika anda menganggap kegiatan pengajian dan tabligh ini sebuah ibadah yang dzatnya adalah ibadah seperti ibadah mahdhoh sudah pasti ini namanya bid’ah dholalah.

Begitu juga dengan merayakan maulid, maulid adalah wasail (perantara atau ada yang bilang sarana), maqoshidnya adalah mengenal Rasul dan mengagungkannya. Bagaimanakah hukum awal dari Maulid? Jawabannya adalah mubah, boleh dilakukan dan boleh tidak dilakukan. hal ini sesuai dengan riwayat yang menyebutkan:

كم من عمل يتصور بصورة أعمال الدنيا فيصير بحسن النية من أعمال الآخرة ، وكم من عمل يتصور بصورة أعمال الآخرة فيصير بسوء النية من أعمال الدنيا

Banyak amal perbuatan yang berbentuk amal dunia lalu menjadi am akherat,sebab niat yang bagus.Dan banyak juga amal perbuatan yang kelihatannya amal akherat namun karena niat yang buruk maka menjadi amal dunia.”

Makan, minum dan tidur merupakan hal mubah dan duniawi, namun jika diniati dengan kebaikan semisal diniati agar kuat dalam melakukan ibadah maka bisa mendatangkan pahala, jika makan, minum dan tidur saja bisa bernilai ibadah jika dibarengi tata niat yang bagus apalagi merayakan maulid jika diniati untuk bergembira dan bersyukur karena lahirnya Nabi serta meneladani perilaku mulianya.

Dan sudah kami jelaskan dimuka bahwa merayakan maulid Nabi bukan merupakan ritual ibadah. tetapi merayakan Maulid hanyalah tradisi yang baik jadi statemen:

اْلأَصْلُ فِي الْعِبَادَةِ التَّوْقِيْفُ

“Asalnya ibadah adalah ketetapan (dari Rasulullah Saw.)”

atau dalam kaidah lain, “Asal hukum ibadah adalah haram, kecuali bila ada dalil yang menyuruhnya

Statemen ini tidak bisa dijadikan kaidah dalam maslah perayaan Maulid, sebab kaidah itu pun bersifat umum, dan harus dijelaskan pengertian dan macam ibadah yang yang dimaksud (meskipun sebenarnya para ulama yang membuat kaidah tersebut sudah membahasnya dengan gamblang, namun bagi kaum anti Maulid, kaidah itu dipahami berbeda). Bagaimana mungkin kita samakan ibadah yang punya ketentuan dalam hal Cara, jumlah, waktu, atau tempat seperti: Sholat, puasa, zakat, dan haji (yang dikategorikan sebagai ibadah mahdhoh), dengan ibadah yang tidak terikat oleh hal-hal tersebut seperti: Do’a, zikir, shalawat, sedekah, husnuzh-zhann (sangka baik) kepada Allah, atau istighfar (yang dikategorikan sebagai ibadah ghairu mahdhoh) yang boleh dilakukan kapan saja, di mana saja dan berapa saja, bahkan dalam keadaan junub sekalipun. Jangankan itu, menyamakan ibadah yang hukumnya wajib dengan ibadah yang hukumnya sunnah.saja tidak mungkin.

Untuk memahami kaidah ushul diatas mari kita perhatikan hal-hal berikut ini. Tauqif dalam ibadah itu terbagi kepada empat macam:

1. Tauqif Dalam Sifat Ibadah

العبادة توقيفية في كل شيء، توقيفية في صفتها -في صفة العبادة- فلا يجوز لأحد أن يزيد أو ينقص، كأن يسجد قبل أن يركع مثلاً أو يجلس قبل أن يسجد، أو يجلس للتشهد في غير محل الجلوس، فهيئة العبادة توقيفية منقولة عن الشارع

“Ibadah itu tauqifi dalam semua hal dalam sifatnya. maka tidak boleh untuk menambah dan megurangi. seperti sujud sebelum ruku’, atau duduk sebelum sujud atau duduk tasyahud tidak pada tempatnya…oleh karena itu, yang namanya ibadah itu tauqifi dinuqil dari syari’ ( Allah )

2. Tauqifi Dalam Waktu Pelaksanaan Ibadah

زمان العبادة توقيفي -أيضاً- فلا يجوز لأحد أن يخترع زماناً للعبادة لم ترد،

Waktu pelaksanaan ibadah juga termasuk tauqifi. maka oleh sebab itu tidak boleh seseorang itu membuatbuat ibadah di waktu tertentu yang syari’ tidak memerintahkannya.

3. Tauqifi Dalam Macamnya Ibadah

كذلك لابد أن تكون العبادة مشروعة في نوعها، وأعني بنوعها أن يكون جنس العبادة مشروعاً، فلا يجوز لأحد أن يتعبد بأمر لم يشرع أصلاً، مثل من يتعبدون بالوقوف في الشمس، أو يحفر لنفسه في الأرض ويدفن بعض جسده ويقول: أريد أن أهذب وأربي وأروض نفسي مثلاً، فهذه بدعة

“Begitu juga ibadah harus disyaratkan sesuai dengan syari’at. artinya termasuk dari jenis ibadah yang di syariatkan, maka tidak sah bagi orang yang menyembah matahari atau memendam jasadnya sebagaian sambil berkata: Saya ingin melatih badanku misalkan, maka ini  semua termasuk perkara bid ‘ah.

4. Tauqifi Dalam Tempat Ibadah

كذلك مكان العبادة لابد أن يكون مشروعاً، فلا يجوز للإنسان أن يتعبد عبادة في غير مكانها، فلو وقف الإنسان -مثلاً- يوم عرفة بالـمزدلفة فلا يكون حجاً أو وقف بـمنى، أو بات ليلة المزدلفة بـعرفة، أو بات ليالي منى بالـمزدلفة أو بـعرفة، فإنه لا يكون أدّى ما يجب عليه، بل يجب أن يلتزم بالمكان الذي حدده الشارع إلى غير ذلك.

Begitu juga tauqifi dalam tempat ibadah maka ini juga harus masyru’. maka tidak boleh beribadah tidak pada tempat yang sudah disyari’atkan seperti jika seseorang wukuf di muzdalifah, maka ini bukan haji. atau wuquf dimina, atau bermalam (muzdalifah) di ‘arafah, dan sebaliknya, maka ini semua bukanlah sesuatu yang masyru’. kita wajib melaksanakan ibadah sesuai tempat yang sudah disyari’atkan oleh syari’

Dengan memperhatikan penjelas diatas dapatlah kita menarik kesimpulan bahwa ibadah yang sifatnya Tauqif itu adalah ibadah mahdoh… faham ?? Jadi yang dimaksud ibadah dalam kaidah “Asal semua ibadah adalah haram”, sampai ada dalil yang menghalalkannya atau menyuruhnya”, adalah ibadah yang sifatnya mahdoh saja, bukan termasuk semua ibadah

Untuk bisa membedakannya ibadah harus dilihat dari wasail (perantara) dan maqoshidnya (tujuan). Untuk ibadah yang sifatnya mahdhoh hanya ada maqoshid, sedangkan untuk goir mahdoh ada maqoshid dan ada wasail.

Kembali lagi kepersoalan maulid, Apakah perayaan maulid bisa menjadi sesuatu yang bid’ah (dholalah)? jawabannya ya bisa, jika anda menganggap maulid adalah sebuah ibadah yang dzatnya adalah ibadah seperti sholat wajib. Tetapi kalau anda bertanya mana dalilnya perayaan maulid ? Jelas tidak ada!!!  karena ia adalah wasa’il atau sarana.

Maka dari itu mohon jangan  sedikit-sedikit bertanya mana dalilnya? tanpa mengetahui apakah hal itu butuh dalil atau tidak. Bagaiman mungkin sebuah  pertanyaan itu bisa dijawab kalau dari pertayaannya saja salah,  faham?

 Dikutip dari Buku Maulid Nabi Muhammad SAW Dalam Pandangan Syari’at( Menjawab Tuduhan Sesatnya Perayaan Maulid)

Karya:H.A.Khudori Yusuf.Lc.MA

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: