LEGITIMASI HAKIM DAN KEPEMIMPINAN KAUM HAWA


KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahiim

Segala Puji hanya milik Allah, yang rahmat-Nya meliputi semua hamba, yang mengkhususkan orang-orang yang taat kepada-Nya untuk dituntun ke jalan yang lurus.Sholawat dan salam semoga tetap tercurah atas Rasulullah Shallallahu Alaiihi wa Sallam, para kerabat yang mulia dan terhormat, shalawat yang bisa menghantarkan kepada puncak tujuan dan harapan.

Kajian tentang perempuan dan kesetaraan merupakan sebuah kajian yang tidak pernah surut dalam tiap ruang dan waktu. Sekalipun telah berulang-kali dibahas dalam banyak ruang,selalu saja ada upaya penyegaran yang tidak kalah signifikan untuk mengkaji ulang tentang hal tersebut.

Hal ini disebabkan oleh sebuah konstruk masyarakat yang seolah menempatkan perempaun dalam posisi minor, dari dahulu, mungkin,hingga sekarang.Perbedaan pendapat beberapa tokoh masyarakat akhir-akhir ini, tentang boleh tidaknya seorang wanita menjadi. camat, kepala dinas, bupati, gubernur, presiden, hakim, menarik untuk dicermati.

Hampir seluruh tokoh masyarakat dan ulama di indonesia menghramkam kepemimpinan wanita. Mereka menyampaikan pemikirannya sesuai dengan pendapat para fuqaha (ahli fikih) bahwa seorang wanita tidak boleh menjadi pemimpin terlebih menjadi bupati, gubernur dan presiden, atau yang lazim disebut dalam bahasa agamanya adalah : raisul jumhuriyah atau sulthan atau imam atau waliyul-amri.

Keinginan beberapa bagian dari komponen bangsa tersebut, juga untuk memperjuangkan formalisasi syariat dalam tataran hukum positif di Indonesia Mereka beralasan, karena mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, juga sebagai tanggung jawab kelak di hadapan Allah SWT. Tentunya dalam setiap langkah, bahwa petimbangan ukhrawi tidak bisa diabaikan dalam pengambilan sikap yang akan menentukan urusan duniawi.

Terkait dengan fenomena tersebut, tulisan ini akan mencoba melacak perspektif hadis tentang kepemimpinan perempuan secara global yang akan mencoba untuk sedikit melakukan warming up, kemudian mencoba menawarkan sebuah upaya rekontruksi terhadap konstruk kemapanan dalam masyarakat yang terkait tentang kepemimpinan yang masih cenderung patriarkhal.

Terakhir  saya  ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh  pihak  yang  telah  membantu dalam pembuatan buku ini dan berbagai sumber yang telah penulis pakai sebagai data dan fakta pada buku ini.

Kemudian kepada Allah Azza wa Jalla,saya memohon Taufiq dan Hidayah-Nya, semoga buku ini berguna bagi diriku dan bagi saudara-saudaraku yang meminatinya. Allahumma barik lana fie ‘amalina.Amien….!!!

Selamat membaca.

 

Serang, 7 April 2011

Wassalam

 

H.A.Khudori Yusuf

LEGITIMASI KEPEMIMPINAN KAUM HAWA

Oleh:KH.Tb.A.Khudori Yusuf.Lc

  1. I. PROLOG

 

Salah satu tema utama sekaligus prinsip pokok dalam ajaran Islam adalah persamaan antara manusia, baik antara lelaki dan perempuan maupun antar bangsa, suku dan keturunan. Perbedaan yang digaris bawahi dan yang kemudian meninggikan atau merendahkan seseorang hanyalah nilai pengabdian dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Firman Allah SWT:”Wahai seluruh manusia,sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (terdiri) dari lelaki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal,sesungguhnya yang termulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa” (QS 49: 13).

Kepemimipinan merupakan sebuah tema yang tidak bisa dinafikan dalam kancah sosial, dengan piranti inilah sebuah tatanan sosial mampu diciptakan dengan tertib.Dari titik tolak ini, figur seorang pemimpin menjadi sorotan tajam dari semua pihak, sehingga segala polah,karakter,kapabelitas dan kemampuan menjadi sisi-sisi urgen untuk menentukan sosok pemimpin. Sebenarnya tidak ada kriteria yang sulit dalam permasalahan ini.Tapi yang menjadi kendala adalah bagaimana pemimpin mampu memimpin, mengayomi dan memberi solusi atas problematika yang ada. Maka, keahlian pemimpin menjadi tuntutan keras dalam mewujudkan cita-cita ini. Karena dengan keahlian dan kemampuanlah pemimpin bisa menjadi tetap eksis dalam dunianya dan mempunyai kharisma di semua lini kehidupannya.

Sekarang,bagaimana dengan wanita? Apakah ia mampu menjadi tonggak hidup dalam komunitasnya? Artinya,dengan segala kelebihan dan kekurangannya apakah ia tetap berdiri sebagai sosok yang mampu memberi solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang berkembang?

Masih Terdapat silang pendapat di kalangan ahli hukum Islam tentang peran sosial politik kaum wanita.Bolehkah seorang wanita menjadi pemimpin?. Sementara pro-kontra tetap ada, ternyata wanita-wanita yang menjadi pemimpin tetap eksis dan jalan terus.Sudah menjadi kenyataan sosial dibanyak negara,wanita sudah diterima menempati jabatan-jabatan publik.Singkatnya,  kepemimpinan wanita telah menjadi kenyataan sejarah yang tidak terbantahkan lagi.Menghadapi kenyataan ini,hukum Islam turut berbicara. Para fuquha dari berbagai madzhab mengemukakan  beragam pendapat. Kepemimpinan wanita menjadi polemik antara yang mendukung dan menolaknya.

Jika membicarakan perihal kepemimpinan, tidak bisa luput dari nuansa-nuansa sosial pilitik, karena entitas inilah yang mampu menciptakan dan mengatur segala urusan-urusan yang ada. Sebenarnya, masalah wanita dan politik sudah ada sejak zaman nabi. Bahkan pemberian hak berpolitik sudah diberikan langsung oleh al-Qur’an kepada wanita. Al-Quran berbicara tentang perempuan dalam berbagai ayatnya.Pembicaraan tersebut menyangkut berbagai sisi kehidupan.Ada ayat yang berbicara tentang hak dan kewajibannya, ada pula yang menguraikan keistimewaan-keistimewaan tokoh-tokoh perempuan dalam sejarah agama atau kemanusiaan. Secara umum surah Al-Nisa’ ayat 32, menunjuk kepada hak-hak perempuan: “Bagi lelaki hak (bagian) dari apa yang dianugerahkan kepadanya dan bagi perempuan hak (bagian) dari apa yang dianugerahkan kepadanya”.

Dalam pandangan islam perempuan memiliki hak dalam Bidang Politik Salah satu ayat yang seringkali dikemukakan oleh para pemikir Islam dalam kaitan dengan hak-hak politik kaum perempuan adalah yang tertera dalam surah Al-Tawbah ayat 71:

 

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah awliya’ bagi sebagian yang lain .Mereka menyuruh untuk mengerjakan yang ma’ruf,mencegah yang munkar, mendirikan shalat,menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Secara umum,ayat di atas dipahami sebagai gambaran tentang kewajiban melakukan kerja sama antarlelaki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan yang dilukiskan dengan kalimat menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar.(QS.At-Taubah:71)

 

Kata “awliya, dalam pengertiannya,mencakup kerja sama, bantuan dan penguasaan, sedang pengertian yang dikandung oleh “menyuruh mengerjakan yang ma’ruf” mencakup segala segi kebaikan atau perbaikan kehidupan, termasuk memberi nasihat (kritik) kepada penguasa.

Dengan demikian, setiap lelaki dan perempuan Muslimah hendaknya mampu mengikuti perkembangan masyarakat agar masing-masing mereka mampu melihat dan memberi saran (nasihat) dalam berbagai bidang kehidupan.

Kalau kita kembali menelaah keterlibatan perempuan dalam pekerjaan pada masa awal Islam, maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Islam membenarkan mereka aktif dalam berbagai aktivitas.Para wanita boleh bekerja dalam berbagai bidang, di dalam ataupun di luar rumahnya, baik secara mandiri atau bersama orang lain, dengan lembaga pemerintah maupun swasta, selama pekerjaan tersebut dilakukannya dalam suasana terhormat, sopan, serta selama mereka dapat memelihara agamanya,serta dapat pula menghindari dampak-dampak negatif dari pekerjaan tersebut terhadap diri dan lingkungannya.

Secara singkat, dapat dikemukakan rumusan menyangkut pekerjaan perempuan yaitu bahwa: “perempuan mempunyai hak untuk bekerja, selama pekerjaan tersebut membutuhkannya dan atau selama mereka membutuhkan pekerjaan tersebut”.Pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan oleh perempuan pada masa Nabi cukup beraneka ragam, sampai-sampai mereka terlibat secara langsung dalam peperangan-peperangan, bahu-membahu dengan kaum lelaki.Nama-nama seperti Ummu Salamah (istri Nabi), Shafiyah, Laila Al-Ghaffariyah, Ummu Sinam Al-Aslamiyah, dan lain-lain, tercatat sebagai tokoh-tokoh yang terlibat dalam peperangan. Ahli hadis, Imam  Bukhari, membukukan bab-bab dalam kitab Shahih-nya, yang menginformasikan kegiatan-kegiatan kaum wanita, seperti Bab Keterlibatan Perempuan dalam Jihad, Bab Peperangan Perempuan di Lautan, Bab Keterlibatan Perempuan Merawat Korban, dan lain-lain.

Dalam permasalahan dunia politik, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita. Semua sama-sama mempunyai hak untuk berpolitik, bahkan sampai dalam medan peperangan. Pada zaman Sahabat, banyak wanita-wanita ikut berpartisipasi dalam medan peperangan seperti saudara wanitanya Umar bin Khatab. Dalam sejarah dipaparkan bentuk perjuangan yang dilakukan wanita untuk memperjuangkan Islam, baik dalam bentuk materi ataupun non materi. Adapun wanita yang ikut serta dalam hal ini adalah “Samiyyah”, sosok ini bergabung dalam hijrah dari Habasah ke Yatsrib, selain itu ia juga ikut serta dalam bai’ah aqabah pertama dan kedua.

Selain itu, ada juga sahabat wanita yang ikut serta dalam peperangan, seperti cucu Abu Bakar Ra. yang bernama ‘Aisyah binti Talhah. Sahabat wanita ini ikut serta melakukan pemanahan di tengah-tengah peperangan berkecamuk. Banyak juga para sahabat wanita yang ikut serta dalam peperangan walaupun hanya sekedar merawat, mengobati atau memberi minum. Sehingga wajar dari mereka ada yang meninggal dunia dalam perperangan seperti Umayyah binti Qays. Disisi lain, ditemukan juga seorang pahlawan wanita yang menjadi pemimpin peperangan,walaupun akhirnya meninggal dunia ditengah medan peperangan didepan mata suaminya sendiri. Akhirnya, suaminya pun menyusul dengan mati syahid di jalan Allah Swt. Yang menjadi pertimbangan, bahwa mereka juga ikut peduli dengan fenomena sosial yang bergejolak dengan keikutsertaannya berpartisipasi. Tapi, ironisnya sejarah emas mereka tidak diketahui di khalayak umum.

Demikian sedikit dari banyak contoh yang terjadi pada masa Rasul saw. dan sahabat beliau menyangkut keikutsertaan perempuan dalam berbagai bidang usaha dan pekerjaan. Di samping yang disebutkan di atas.Tentunya masih banyak lagi yang dapat dikemukakan menyangkut hak-hak kaum perempuan dalam berbagai bidang. Dari pemaparan diatas dapatlah kita simpulkan bahwa mereka, sebagaimana sabda Rasul saw., adalah Syaqa’iq Al-Rijal (saudara-saudara sekandung kaum lelaki) sehingga kedudukannya serta hak-haknya hampir dapat dikatakan sama. Kalaupun ada yang membedakan, maka itu hanyalah akibat fungsi dan tugas-tugas utama yang dibebankan Tuhan kepada masing-masing jenis kelamin itu, sehingga perbedaan yang ada tidak mengakibatkan yang satu merasa memiliki kelebihan atas yang lain.

 

  1. II. LEGITIMASI KEPEMIMPINAN KAUM HAWA

  1. 1. Pengertian Legitimasi dan menyikapinya

Legitimasi adalah kualitas hukum yang berbasis pada penerimaan putusan dalam peradilan, atau penerimaan dan pengakuan akan kewenangan, keputusan atau kebijakan yang diambil oleh seorang pemimpin. Dalam konteks kepemimpinan legitimasi merupakan suatu bentuk pengakuan atau persetujuan warga negara (ummat) atas posisi suatu kepemimpinan. Hubungan antara pemimpin dan masyarakat yang dipimpin lebih ditentukan pada bagaimana keputusan masyarakat atau rakyat untuk menerima atau menolak kebijakan yang diambil oleh sang pemimpin, sudah barang tentu dalam proses penerimaanya sangat dipengaruhi oleh nilai;kepercayaan; keyakinan; budaya; perspektif dan sudut pandang masyarakat dalam menyikapi karakteristik pemimpin yang dapat diterima. Kapabilitas yang komprehensif menjadi karakateristik ideal yang diinginkan sehingga pemimpin dapat benar-benar menjadi leader.

Menyikapi legitimasi kepemimpinan kaum hawa, telah dibahas dalam buku Saatnya Wanita Memilih: Upaya Syari’at Lindungi Martabat oleh Nur Ihsan Shaleh et.al. (2007) dan dipresentasikan dalam salah satu acara pengajian Riyadhul Muhibbin. Dalam tulisan itu, sudut pandang penulis berdasarkan Al-Qur’an, Al-Hadits dan beberapa buku yang mendukung,ini akan memperkuat pendapat dan pemahaman akan hak wanita untuk turun serta dalam pengembangan pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, politik dan pemerintahan. Ketika berbicara tentang kepemimpinan kaum hawa,tak lepas juga dari paham feminisme dan budaya patriakhi, ini bisa menjadi dasar sudut pandang posisi wanita dalam keikutsertaannya mengisi pembangunan dan menjadi seorang pemimpin, karena pembaca dan pemerhati konteks ini datang dari pemahaman yang beragam. Saya mencoba untuk berbicara dari sudut pandang ini. Pada dasarnya pengakuan akan keberadaan wanita sudah dibicarakan di Islam dan hanya Islamlah yang benar-benar memposisikan wanita pada tempat yang agung, penghargaan akan kemampuan wanita dalam kapasitas sebagai wanita sholihah,ibu rumah tangga, mendapatkan hak milik, pekerjaan, pelaku sosial, pendidikan, ekonomi, politik, pemerintah bahkan perang sudah jelas dihargai dengan sebaik-baik penghargaan. Namun karena pemahaman yang tidak lengkap dan budaya patriakal yang mayoritas ada di seluruh belahan dunia membuat wanita termarginalkan bahkan diperlakukan tidak adil antara kewajiban tuntutan dan hak apresiasi.

Realitas sosial menunjukkan wanita tidak mendapatkan keberuntungan yang sama dengan laki-laki, wanita tidak mendapatkan hak untuk mendapatkan pendidikan, berpolitik, hak atas milik dan pekerjaan sehingga kedudukan wanita tidak sama dengan pria di mata hukum. Pemasungan atas kebebasan wanita terjadi dengan adanya penomorduaan wanita oleh kaummaskulin dalam bidang-bidang di atas khususnya pada masyarakat patriakal, termasuk hanya sebagai “ konco wingking” ( teman yang ada di belakang), dan hanya mempunyai pekerjaan di wilayah domestik, dianggap serta hanya dihargai rendah. Diskriminasi tidak hanya pada perolehan hak dasar, akan tetapi masuk dalam ranah pengambilan keputusan atau pemimpin negara, hal ini seiring dengan affirmative condition, violence in women, unfair gender and gender inequality, kondisi tersebut disebabkan karena paham patriakhal yang sudah membudaya.Para penganut patriakhi membenarkan perbuatannya yang melanggar HAM terhadap perempuan dengan dalil agama padahal mereka lupa akan posisi hamba yang paling bertaqwa, lupa akan kisah Khadijah, Ratu Balqis dan para pejuang muslimah lainnya.

Berbagai alasan mengemuka sebagai dasar perpektif di atas, antara lain karena wanita 1) bagian dari pria, 2) tercipta dari tulang rusuk pria sehingga selalu tergantung, 3) dominasi perasaan sehingga tidak bisa memutuskan sesuatu dengan tepat, 4) kaum yang lemah, 5) terbatas dalam hukum adat dan agama sesuai aturan dan ajaran yang telah didoktrinkan, 6) kurang memiliki kemampuan intelektual, 7) kurang mempunyai kemampuan dan kekuatan fisik, terbatas dengan kodratiyahnya, 9) pekerjaan domestik dianggap bukanlah pekerjaan, 10) wanita hanyalah sekedar sumber reproduksi dan seksual, 11) tak bisa memberikan kekuasaan karena faktor biologis, dll.

Sekali lagi hal-hal di atas disebabkan karena kultur patriakhi sudah mempengaruhi pola pikir masyarakat, perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan baik bagi penganut patriakhal sendiri (maskulin) dan terutama pada kaum wanita. Marginalisasi, subordinasi, pembentukan stereotipi dan pelabelan negatif masih mengemuka untuk wanita, termasuk sub-ordinasi yang ditekankan pada wanita yang hanya berperan sebagai:1) corector(fixer), menginginkan hubungan stabil harmonis dan menyenangkan,2) penenang (pleasurer), wanita sebagai penyenang sehingga mencoba untuk selalu memenuhi harapan laki-laki, dan 3) syuhada (martyr), yang ingin suaminya senang sekalipun mengorbankan dirinya. Kondisi ini sampai sekarang masih ditemukan di masyarakat dengan berbagai keyakinan (agama) yang dianutnya. Padahal dengan ketidakadilan gender ini akan menghasilkan konflik mulai dari organisasi terkecil di masyarakat yaitu keluarga sampai dengan negara dan dunia.

Jika ditilik dan dipahami dengan benar, wanita merupakan ciptaan Tuhan yang sempurna penuh dengan kharisma kewanitaan,kekuatan fisik dan psikis yang membuat pria tercengang. Sejak dalam proses penciptaannya wanita sudah berbeda, tulang rusuk pria sebagai awal wanita memberikan makna tidak hanya sekedar kaku dan keras tetapi bisa tegas, menjadi bagian dari kaum pria yang sangat dekat dengan hati, yang selalu didekap dan dipegang. Proses pertemuan sperma dan ovum untuk penentuan jenis kelamin wanita sudah banyak dijelaskan oleh kitab-kitab terdahulu, mulai dari perubahan posisi sampai dengan kisah rasa yang ada di hati sang ibu. Seiring dengan perkembangan kehamilan, kelahiran bayi wanita jauh lebih membutuhkan perjuangan bagi sang ibu, rasa nyeri yang sangat terasa di perut bawah dan pada umumnya lebih lama dilahirkan memberikan makna bahwa ada kekuatan besar yang dimiliki oleh wanita nantinya dalam mengarungi hidup.Tidak berhenti sampai di situ, ditindik dan dihitan, mulai muncul perubahan pada payudara di usia baligh dan menstruasi membuat wanita sudah terkondisikan untuk selalu menerima terpaan untuk bertahan hidup, suatu karakteristik mental kuat yang perlu diperhitungkan. Perkawinan, hamil dan melahirkan menjadi bukti kekuatan yang tak terelakkan dan tidak boleh tidak diakui.

Lalu mengapa masih saja wanita dimarginalkan? Semua yang terjadi dianggap hanya sebagai kodratiyyah alamiah yang tak berarti? Sampai kapan pemahaman ini terus dipertahankan? Padahal dalam mengkadapi proses alamiah itu sangat dibutuhkan ketahanan fisik, mental, pikiran, kepandaian, kecerdasan, kesabaran, keihlasan dan segudang strategi untuk dapat melaluinya, tidakkah itu dapat diambil pelajaran dan dianalisa kekuatan yang tersimpan di sana? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akhirnya melahirkan aliran feminisme.

Feminisme lahir dari belahan dunia Barat yang notabene pengikut liberalisme, kebebasan berpendapat dan kesamaan posisi peran serta tiap manusia, apapun status gender dan sosialnya. Yang menjadi pertanyaan, mengapa feminisme lahir di dunia pengagung kebebasan hak? Ternyata di manapun tidak pula di belahan Barat wanita masih berada pada subordinasi. Kisah subordinasi dan marginalisasi dapat diikuti pada sejarah berdirinya faham feminisme.

Seiring dengan  lahirnya kelompok-kelompok femenisme. Maka bangkit pula kelompok-kelompok yang menyerukan untuk mengaplikasikan nilai-nilai keislaman. Baik dalam permasalahan sosial,ekonomi,negara dan perpolitikan.Tapi yang menjadi permasalahan, mereka tidak mampu menciptakan balancing dalam nilai-nilai Islam itu sendiri. Karena secara umum, justru mereka membatasi ruang lingkup gerak wanita. Mereka tidak memberi kesempatan kepada wanita untuk ikut serta dalam dunia pemerintahan ataupun parlemen.

Statemen ini perlu dicemati, jika alasannya memang mereka menginginkan nilai-nilai Islam dapat diaplikasikan secara umum, kenapa mereka membatasi bahkan tidak memberi hak kepada wanita? Kemudian, apakah Islam hanya diperuntukan kepada kaum adam? Jika memang hak wanita dalam keikutsertaan dihalangi, berarti Islam hanya diperuntukan kepada kaum laki-laki saja.?

Yang lebih riskan, jika memang hanya diperuntukan kepada kaum adam, kenapa kaum hawa masih sering dituntut ikut serta untuk memecahkan problema serta bergabung dalam politik dan perang  (bahkan sampai mati). Tapi disisi lain, ketika kobaran semangat sudah tercipta, kekuatan sudah terbangun,ketika mereka para wanita sudah menyingsingkan lengan baju untuk berpartisipasi dalam sosial, politik dan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan, kenapa tiba-tiba lembaran pidato disuarakan dengan lantang  “wahai wanita kembalilah ke rumah kalian masing-masing”, himbauan yang tidak fair ini nampak begitu mendiskreditkan dan memarginalisasikan keadaan.

Tidak tahukah kita? Banyak para sahabat-sahabat wanita nabi ikut serta dalam perjuangan politik, sementara nabi tidak melarangnya. Keraguan dan ketidak percayaan sebagaimana telah dikemukan diatas bersumber dari budaya patriarkal,dogma masyarakat dan agama.

 

  1. 2. Dalil-Dalil yang digunakan untuk melarang wanita sebagai pemimpin

Berikut ini adalah dasar yang digunakan oleh mereka (interpreter) untuk melarang wanita sebagai pemimpin diantaranya  adalah:

 

  1. a. Pemimpin Wanita Pasti Merugi

Hadist yang diriwayatkan Abi Bakrah yang berbunyi:

 

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ أَيَّامَ الْجَمَلِ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فَارِسًا مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَة ً(صحيح البخاري,كتاب النبي الى كسرى وقيصر,ص 1610)

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,[1] dari Abi Bakrah Ra. berkata: “Semoga Allah memberi manfaat kepadaku dari kalimat yang saya dengar dari Rasulullah Saw. pada hari Jamal, setelah saya bersusah payah menyusul ashâbul jamal[2] untuk berperang bersama mereka, sahabat berkata: ketika Rasulullah Saw. datang, penduduk Persi dipimpin oleh anak wanita Kisra. Rasulullah Saw. berkata tidak akan berhasil suatu kaum jika kaum itu dipimpin seorang wanita”.[3] ( HR.Bukhari )

 

Hampir seluruh fuqoha,yang melarang keterlibatan perempuan menjadi pemimpin mengacu pada hadist ini sebagai dalil.(Lihat Adhwa’ul Bayan,3/34.Asy-Syamilah).

Al Baghowiy mengatakan dalam Syarhus Sunnah, (10/77) pada Bab ”Terlarangnya Wanita Sebagai Pemimpin”: ”Para ulama sepakat bahwa wanita tidak boleh jadi pemimpin dan juga hakim. Alasannya, karena pemimpin harus memimpin jihad. Begitu juga seorang pemimpin negara haruslah menyelesaikan urusan kaum muslimin. Seorang hakim haruslah bisa menyelesaikan sengketa. Sedangkan wanita adalah aurat, tidak diperkenankan berhias (apabila keluar rumah).Wanita itu lemah, tidak mampu menyelesaikan setiap urusan karena mereka kurang (akal dan agamanya).Kepemimpinan dan masalah memutuskan suatu perkara adalah tanggung jawab yang begitu urgen (penting). Oleh karena itu yang menyelesaikannya adalah orang yang tidak memiliki kekurangan (seperti wanita) yaitu kaum pria-lah yang pantas menyelesaikannya. Namun demikian, Imam Abu Hanifah membolehkan wanita menjadi seorang hakim, itupun dalam perkara hukum perdata, bukan pidana. Imam Ibnu Jarir ath-Thabari lebih lunak lagi dengan memperbolehkan wanita menjadi pemimpin disegala bidang yang kemudian oleh Imam Al-Mawardi, langsung dinilai sebagai pendapat syadz dan menentang ijmak (kesepakatan para ulama)

Yang perlu menjadi catatan adalah perlunya kita bersikap kritis pada hadist ini,karena bila kita telisik secara umum dan kita terima apa adanya maka, seakan-akan hadist ini memarginalkan keberadaan kaum hawa. Dan memang hadist inilah yang dijadikan sebagian kelompok untuk mendiskreditkan  kaum feminin supaya tidak sah kepemimpinannya.

Hadis ini perlu dianalisis dan disikapi bagaimana asbabul wurud-nya. Para ulama menanggapi hadits ini sebagai ketentuan bersifat baku-universal tanpa melihat aspek-aspek terkait dengan hadits seperti kapasitas diri Rasulullah ketika mengucapkan hadits tersebut; suasana yang melatarbelakangi munculnya hadits; dan setting sosial yang melingkupi sebuah hadits. Saat itu, Rasulullah SAW pernah mengirim surat kepada pembesar negeri lain dengan maksud mengajak mereka memeluk Islam, diantara pembesar itu adalah Kisra Persia. Abdullah bin Hudzaifah Al-Shami diutus rasulullah untuk mengirimkan surat tersebut ke pembesar Bahrain, oleh pembesar bahrein surat tersebut diberikan kepada Kisra. Namun Kisra menolak dan menyobeknya. Menurut riwayat Ibnu Al-Musayyab, setelah peristiwa itu sampai ke Rasulullah, beliau bersabda “Siapa saja yang telah merobek suratku, dirobek-robek pula (diri dan kerajaan) orang itu”.Tak lama kemudia kerajaan Persia dilanda kekacauan dan berbagai pembunuhan dilakukan oleh keluarga dekat raja. Akhirnya, karena Kisra meninggal dan anak laki-lakinya mati terbunuh dalam perebutan kekuasaan di tahun 9 H, maka diangkatlah Buwaran binti Syairawaih bin Kisra (cucu Kisra) sebagai ratu Kisra Persia, padahal saat itu derajat kaum wanita jauh di bawah laki-laki dan tidak dipercaya untuk menyelesaikan urusan dan kepentingan masyarakat umum terlebih urusan negara.Menyikapi situasi tersebut, sangatlah wajar Rasulullah mempunyai kearifan yang tinggi, melontarkan hadits bahwa tidak akan sukses bangsa yang menyerahkan urusan (kenegaraan dan kemasyarakatan) kepada perempuan. Bagaimana akan sukses jika keberadaan pemimpin tidak dihargai oleh masyarakat (sehubungan dengan kondisi dan situasi yang ada saat itu).

Kemudian yang perlu diperhatikan adalah, jika memang hadits ini benar, maka kita pun tidak bisa menganalogikan dengan masa sekarang. Karena hadits ini diperuntukan kepada pemimpin Roma kala itu, yang mana pada saat itu raja Roma meninggal dunia dan digantikan dengan putrinya yang bernama Buran binti Kisra. Dari fenomena ini Rasulullah Saw. menyatakan hadits yang mana telah disebutkan di atas. Di sisi lain, jika memang hadits ini benar-benar sahih, itupun tidak bisa dijadikan sebagai landasan syari’at, karena turunnya hadits tersebut dikhususkan kepada kondisi saat itu yang tidak masuk pada had, etika dan ibadah. Maka statemen:

  • · إذا صح الحديث فهو مذهبي

“Jika sahih sesebuah hadis maka itulah mazhabku

 

Statemen diatas digunakan oleh kelompok ini dengan mengatakan bahwa, jika kita menemui sebuah hadis yang sahih dan menemukan hadits tersebut bertentangan dengan pendapat Imam Mujtahid (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad bin Hambal radhiyallahu anhum), maka dahulukan hadis yang sahih karena ini juga merupakan pendapat sebagian para Imam tersebut.

 

Al-Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan di dalam muqaddimah Majmu ‘Syarah Muhazzab: “Memang benar al-Imam Syafi’i menyebutkan:

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه و سلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه و سلم و دعوا قولي

 

Maksudnya: “Jika kamu (para ulama) menemukan di dalam kitab yang aku tulis menyalahi Sunnah beliau shallallahu alaihi wasallam maka keluarkan pendapat kalian dengan Sunnah Beliau shallallahu alaihi wasallam dan tinggalkan pendapatku. “

 

Al-Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan lagi bahwa: Kata-kata Imam Syafi’i tersebut bukanlah berarti siapa saja yang menemukan hadits shahih maka terus mengatakan bahwa ia merupakan mazhab Imam Syafi’i itu sendiri.Bahkan beramal dengan zahir kalam itu semata-mata.Sebenarnya kalam al-Imam Syafi’i tersebut ditujukan kepada para ulama yang telah sampai ke tingkat ijtihad di dalam mazhab seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya (Lihat Muqoddimah Majmu’ Syarah Muhazzab).

Perlu kita ketahui pemahaman yang mengatakan bahwa Imam Syafi`i melarang mengikuti pendapatnya  adalah pemahaman yang salah, karena ungkapan Imam Syafi`i tersebut  memiliki pemahaman sebagai berikut .

a) Kamu boleh mengikuti pendapatku selama pendapatku tidak bertentangan dengan Hadits Rasulullah.

b) Perkataan ini menunjukkan betapa besarnya kedudukkan Hadits Nabi SAW dalam pandangan Imam Syafi`i.

c)      Karena begitu besarnya kedudukan Hadits di hadapan Imam Syafi`i sehingga beliau menjadikan al-Hadits adalah sumber kedua didalam madzhabnya. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak akan mungkin mendahulukan pendapatnya dari pada Hadits Rasul, kecuali apabila hadits tersebut tidak dianggap shahih dan memiliki beberapa sebab sehingga tidak boleh mengamalkannya, sebab tidak seluruh Hadits shahih boleh diamalkan.

d)     Imam Syafi` hanya berpegang dengan hadits yang shahih menurut pandangannya, bukan hadits mansukh, atau hadits yang memiliki permasalahan dan `illat, karena beliau adalah seorang ahli hadits yang masyhur.

Dengan demikian ketentuan diatas tidak akan dapat disempurnakan atau diamalkan kecuali setelah kita mempelajari dan menelaah keseluruhan kitab-kitab karangan al-Imam Syafi’i, kitab-kitab para ulama Syafieyah lainnya dan yang semisal dengannya. Inilah merupakan syarat yang agak sulit untuk dipenuhi. Hanya sedikit yang dapat menyempurnakan syarat ini.

Maksud Perkataan al-Imam Nawawi diatas sudah sangat jelas. Oleh karena itu agak mengherankan bagi kita, kelompok yang mengklaim kalam (perkataan) al-Imam Syafi’i terkadang bertentangan dengan hadits ini merupakan pernyataan yang ternyata menyimpang. Bahkan kitab-kitab al-Imam Syafi’i mereka tidak memahaminya dengan baik (maksudnya membutuhkan penguasaan bahasa Arab yang tinggi karena al-Imam Syafi’i radhiyallahu anhu adalah seorang fakar dalam bahasa Arab yang hebat), apalagi membacanya. Ini seharusnya yang disadari oleh mereka. Tetapi ego yang menyebabkan mereka tidak mau mengerti pendapat ulama sekaliber al-Imam Nawawi.

Al-Imam Nawawi juga menukilkan kata-kata Imam Abu Amru Ibn Salah rahimahumallah:”Kalam al-Imam Syafi’i tersebut bukanlah dapat dilaksanakan dengan zahir luarnya semata, Bukanlah semua ulama yang Faqih (hebat dalam ilmu fiqhnya) beramal secara langsung dari hadits yang dirasakan argumen baginya.”

Al-Imam Abu Amru Ibn Salah berkata: “Jika seorang ulama bermazhab Syafi’i tersebut menemukan sebuah hadits yang menurutnya bertentangan dengan mazhab yang dipegangnya, Maka perlu dilihat kembali keahlian orang tersebut. Jika ulama tersebut telah mencapai tingkat Ijtihad, tidak masalah baginya untuk beramal dengan hadis tersebut. Tetapi jika dia masih tidak mencapai tingkat Ijtihad dan menyulitkan baginya menemukan sebab-sebab pertentangan hadits tersebut dengan kalam Imam Mazhab itu sendiri maka bisa baginya beramal dengan hadis tersebut jika ada seorang lagi Imam Mujtahid Mutlak selain Imam Syafi’i (seperti Imam Abu Hanifah, Malik , Ahmad dan lain-lainnya). (Lihat Muqadimah Al Majmu Syarh Al Muhadzab (1/99-100), Terbitan Dar Al Fikr 1426 H, Tahqiq Dr. Mahmud Mathraji ).

 

Al-Syeikh wahbi Sulaiman Ghawuji al-Albani hafizahullah (bukan Syeikh Nasiruddin al-Albani) dalam leafle (catatan) kecilnya mengomentari tentang statemen  tersebut adalah : Berkata para imam, kalam tersebut ditujukan kepada para ulama yang benar-benar berkelayakkan di dalam mengeluarkan hukum. Mereka (resmi) adalah merupakan para ulama yang ahli di dalam ilmu hadis. Ini berarti, jika sahih sebuah hadis sahih tersebut yang bertepatan dengan kondisi pengambilan sebuah hadis dan kaidahnya berdasarkan mazhab yang mereka gunakan, maka gunakan hadits tersebut. Bukannya kalam tersebut menyuruh setiap kali membaca hadis yang sahih maka tinggalkan beramal dengan pendapat imam mazhab.(Lihat Risalahإذا صح الحديث فهو مذهبي oleh Syeikh al-Allamah Wahbi Sulaiman Ghawuji al-Albani al-Hanafi hafizahullah. Cetakan Darul Iqra’.Cetakan Pertama 2005.)

Al-Allamah Syeikh Muhammad Awwamah hafizahullah menukilkan kalam al-Imam Kairanawi radhiyallahu anhu: “Maksud sebenarnya kalam al-Imam Syafi’i (Jika sahih suatu hadits maka itulah Mazhabku) dan kalam ulama yang lain yang menyebutkan demikian adalah tidak lain selain ingin menunjukkan kepada kita hakikat bahwa kalam yang menjadi hujjah adalah kalam Beliau shallallahu alaihi wasallam bukan kalam kami (para Imam Mujtahid). Seolah-olah Imam Syafi’i ingin mengatakan: Jangan kamu menyangka kalam aku adalah hujjah dibandingkan kalam Beliau Sallallahu alaihi wasallam dan aku juga mengharap pahala jika pendapat yang aku sebutkan bertentangan dengan sabda beliau shallallahu alaihi wasallam. “Hakikatnya, kalam al-Imam Syafi’i radhiyallahu anhu adalah merupakan sifat tawaddhuk yang ada pada beliau. Mustahil seseorang Imam tersebut akan mengeluarkan sesuatu hukum dengan hawa nafsunya melainkan setelah dikaji secara rinci dengan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya dan iman yang mendalam.

 

Statemen kedua yang sering digunakan oleh mereka adalah pendapat yang dikeluarkan oleh al-Imam Abu Hanifah radhiyallahuanhu yaitu:

 

  • · لا ينبغي لمن لم يعرف دليلي أن يفتي بكلامي

 

Maksudnya:Tidak sepatutnya bagi seseorang yang tidak mengetahui dalil yang aku keluarkan untuk berfatwa dengan pendapatku”.

 

Statemen diatas” tidak bisa dijadikan sebagai kaidah dalam permasalahan ini, karena pendapat ini jelas menunjukkan bahwa ia disebutkan ke golongan ulama yang benar-benar alim di dalam bidang tersebut. Ini karena kata “berfatwa” tersebut tidak lain dan tidak bukan semata-mata ditujukan kepada para ulama ahli fatwa, bukan mujtahid jadi-jadian. Ini perlu dipahami dengan baik dan benar.

Disamping itu bagi sesorang yang hendak berfatwa, ia harus melihat dulu kepada kondisi atau kapasitas dan kafebelitas dirinya, apakah dia telah memenuhi  syarat-syarat berfatwa atau sebaliknya. Antara ulama yang menyusun tentang adab-adab fatwa ini adalah al-Imam Abu Qasim al-Soimuri rahimahullah (guru ke al-Imam Mawardi rahimahullah), al-Imam al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah, dan al-Imam Abu Amru Ibn Salah rahimahullah . Ketiga kitab ini telah diringkas pembahasannya oleh al-Imam Nawawi rahimahullah dan beliau meletakkan pembahasan tersebut di dalam kitabnya Majmu ‘Syarah Muhazzab.

Jika kita mengkaji ulang persyaratan-persyaratan berfatwa dan mufti yang begitu sulit dan rumit,niscaya kita akan menyadari betapa jauhnya jurang pemisah antara kita dan para mujtahid sebagai ulama yang benar-benar layak untuk mengeluarkan fatwa.Bahkan Al-Imam An-Nawawi sendiri menyebutkan bahwa bidang fatwa adalah merupakan bidang yang sangat berbahaya untuk diselami.oleh karena itu orang yang telah mencapai pada tingkatan mujtahid sangat tinggi keilmuan dan kedudukannya.

Al-Imam Malik radhiyallahu anhu menyebutkan:

 

ما أفتيت حتى شهد لي سبعون أني أهل لذلك

Maksudnya: Aku tidak akan berfatwa melainkan setelah disaksikan oleh tujuh puluh orang ulama bahwa aku benar-benar layak di dalam bidang fatwa ini.

Perkataan imam ini tidak  dilihat oleh kaum  dimasa sekarang. Mereka hanya mengambil pendapat-pendapat secara dzahirnya saja.

Berkata Imam Ibnu Wahab seorang murid Imam Malik yang alim dalam ilmu Hadits:

الحديث مضلة إلا للعلماء

Artinya :al-Hadits dapat menyesatkan seseorang ( yang membacanya ) kecuali bagi para ulama .

Berkata Imam Sufyan Bin Uyainah ( seorang ulama besar yang ahli dalam fiqih dan hadits guru Imam Syafi`i ) :

 

الحديث مَضِلّة إلا للفقهاء

Artinya : al-Hadits itu dapat menyesatkan seseorang kecuali bagi ulama yang faqih. ( al-Jami` li Ibni Abi Zaid al-Qairuwani : 118 )

 

Kembali kepada pembahasan Hadist”lan yufliha qawmun wallaw imruhum imra’atan. Selain itu hadits diatas adalah hadits infirâd.[4] Karena terdapat perawi yang bernama “Abu Bakrah”, yang mana perawi ini pernah melakukan persaksian bohong dalam permasalahan zina yang ditunjukan kepada sahabat Mughirah bin Syu’bah pada zaman Khalifah Umar bin Khattab.[5] Kesimpulannya hadits yang selama ini digembor-gemborkan oleh kelompok-kelompok misoginis (sebuah kelompok yang merendahkan harkat dan martabat wanita) adalah hadits yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Karena terdapat satu perawi yang bohong.

Mengenai hadis Abu Bakrah di atas,dari segi metodologi kritik hadis,ia adalah sahih. Pertanyaan yang harus dijawab ialah bagaimana kita harus memahami hadis.Di sini ditawarkan satu pendapat bahwa hadis-hadis dapat dikategorikan sebagai termasuk umurud dunya dan keuniversalannya tidak didukung oleh kenyataan harus ditafsirkan menurut semangatnya dan dalam konteks sosio-historisnya. Kalau tidak ia akan menjadi kering, memosil dan tidak bermakna.Untuk itu jika preseden-preseden historis terutama dari kebijaksanaan-kebijaksanaan Umar seperti mengenai masalah kharaj di mana ia mengubah praktek Rasulullah yang memberikan tanah-tanah kepada para prajurit yang mendapatkannya yangkemudian oleh Umar praktek itu dirubah di mana tanah-tanah tidak ia berikan kepada prajurit. Umar tidak memahami hadis-hadis Rasulullah dalam arti harfiyahnya melainkan dalam semangatnya. Dengan kalimat yang lebih teknis, hadis-hadis itu harus dipahami menurut illatnya, sekalipun illat-illat itu harus dicari melalui ijtihad (artinya tidak dinaskan).

Hadis-hadis semacam ini cukup banyak terutama dalam masalah kemasyarakatan dan politik (mu’amalah), seperti hadis al-Aimmah min Quraisy yang oleh Ibn Khaldun dipahami melalui teori sejarahnya yang terkenal itu, yaitu teori asabiyah. Secara singkat menurut Ibn Khaldun Nabi menyerahkan imamah kepada kaum Quraisy karena pada waktu itu hanya merekalah yang memiliki asabiyah yang diperlukan bagi kelangsungan sebuah tata politik.Teori Ibn Khaldun ini dapat diperluas lagi dengan menyatakan : karena orang-orang Quraisylah yang memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang masalah-masalah politik dan ekonomi waktu itu wajarlah Rasul menyerahkan imamah kepada mereka.Hadis Abu Bakrah di atas pun kiranya dapat ditafsirkan dengan cara yang sama. Pada zaman Rasulullah wanita tidak begitu beruntung, bahkan anak wanita yang lahir dikubur hidup-hidup. Rasulullah sendiri berjuang untuk membebaskan kaum wanita. Walapun beliau telah banyak berhasil,  suatu struktur sosial yang sudah begitu kokoh dan melembaga tidak dapat dirubah total seratus persen dalam waktu singkat,seperti lembaga perbudakan misalnya. Bahkan sampai beberapa abad kemudian posisi kaum wanita belum begitu menguntungkan.Mereka dikurung di rumah dengan sangat ketat. Apabila seorang lelaki hendak meninggalkannya , ia mengutus seorang wanita pemantau untuk melihat dan menyelidiki kelayakannya,sedangkan si lelaki itu tidak akan pernah dapat melihatnya sebelum akad nikah. Wanita-wanita itu hanya dapat dipandang oleh mata keluarga mereka. Dari segi pendidikan mereka juga kurang beruntung. Kaum lelaki malah lebih tertarik untuk mendidik dan mengajar budak karena faktor komersial, sebab budak yang terampil terutama pandai tulis baca akan mahal harganya. Hanya kalangan amat terbatas saja yang mendidik wanita. Pendek kata wanita tidak keluar dari tembok-tembok rumah suami atau orang tuanya. Artinya mereka tidak tahu menahu mengenai urusan masyarakat.

Jadi dengan demikian wajarlah Rasulullah menyatakan bahwa suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada kepada orang yang tidak banyak memahami soal-soal kemasyarakatan akan mengalami kegagalan. Akan tetapi sekarang situasi telah jauh berubah dan wanita telah banyak yang pandai dan terlibat secara inten dalam berbagai lapangan kehidupan. Jadi mereka sudah tahu seluk beluk masalah. Karena menurut teori hukum Islam, hukum itu berlaku menurut ada-tidaknya illatnya, maka dapatlah dikatakan bahwa tidak melanggar hukum Islam, wanita yang karena kecakapannya menjadi kepala pemerintahan, karena illat mengapa Rasulullah dulu melarang telah hilang. Dengan  demikian hadis yang tidak memperbolehkan wanita menjadi pemimpin negara tersebut bersifat kondisional, artinya larangan Nabi dalam hadis tersebut dilatarbelakangi olah adat Arab dan sekitarnya, sehingga bila adat berubah, illat larangan hilang; syarat-syarat yang ditunjuk dalam nas.

Disamping itu, dari aspek dalil, hadis ini sebenarnya kurang cukup syarat untuk dijadikan pelarangan keterlibatan wanita menjadi pemimpin.Sebab menurut ushul fiqih, sebuah nas baru dapat dikatakan menunjukan larangan (Pengharaman) jika memuat setidaknya hal-hal berikut:

  1. Secara redaksional,nas tersebut dengan tegas mengatakan haram.
  2. Nas tersebut dengan tegas melarangnya dalam bentuk nahi.
  3. Nas tersebut disertai oleh ancaman siksa (uqubah)
  4. Menggunakan redaksi lain yang menurut gramatika bahasa Arab menunjukan tuntunan yang harus dilaksanakan.

Sedangkan Hadist diatas hanya menggunakan ungkapan لن يفلح dimana “lan” memiliki fungsi sebagai huruf nafi lil-istiqbal, yang menafikan kemungkinan yang akan terjadi. Sementara ”yuflih” yang berasal dari fi’il madhiaflaha” dalam kamus al-munawwir memiliki arti berhasil baik (sukses; najah) terdiri dari fi’il mudhari’ memberikan pemaknaan akan sebuah kesuksesan pada waktu itu dan atau di masa mendatang. Kemudian kalimat “wallau” yang memiliki arti menguasakan atau mempercayakan.

Dalam Kitab Jam’ul Jawami (1/360) Al-Imam Tajudin Abdil Wahab bin As-Syubki berpendapat bahwaلن adalah huruf nafi nasab istiqbal yang tidak menunjukan kuatnya larangan dan tidak menunjukan  penedian untuk selamanya” berbeda dengan pendapat Az-zamakhsyari” yang berpendapat bahwa lafadz “lan” adalah linafiyil abad (peniadaan untuk selamanya,”)

Dengan demikian dapatlah kita fahami dari pendapatnya Al-Imam Tajudin Abdil Wahab,bahwa dari bangunan kalimat tersebut adalah tiadanya” forbidden statement” (ungkapan pelarangan), melainkan sebatas “peramalan” akan sesuatu yang masih belum pasti karena masih bersifat asumtif yang tidak niscaya,walaupun“ disampaikan oleh Nabi”.Tapi kemungkinan mengandung makna lain di balik statemen tersebut, masih perlu untuk dilacak bersama lewat sentuhan historis-sosiologis.Kalau hadits ini dipaksakan sebagai syarat bagi kepemimpinan politik, termasuk di negara yang bukan Negara Islam maka sangat tidak rasional dan  juga tidak faktual.Artinya, jika penetapan syarat pemimpin harus laki-laki, maka bagaimana dengan negara Islam saat ini yang sebagian ada yang dipimpin perempuan, namun tetap sukses.

Didalam Alquran pun dijumpai kisah tentang perempuan memimpin negara dan meraih sukses besar, yaitu Ratu Balqis di negeri Saba’.Analisis seperti ini juga diperkuat dengan tidak ditemukannya sebuah hadits pun yang secara jelas mensyaratkan pemimpin harus laki-laki untuk sebuah Negeri.Ini berarti, hadits di atas harus dipahami secara kontekstual karena memiliki sifat temporal, tidak universal. Hadits tersebut hanya mengungkap fakta yang nyata tentang kondisi sosial pada saat hadits itu terjadi dan berlaku untuk kasus negara Persia saja.Meski hadits larangan kepempimpinan politik perempuan dinilai sahih, ternyata masih dapat didiskusikan.Di kalangan ulama ada yang tidak sepakat terhadap pemakaian hadits tersebut sebagai larangan terhadap kepemimpinan  perempuan .Tetapi ada juga yang menggunakan hadits tersebut sebagai argumen untuk menggusur perempuan dari proses pengambilan keputusan, padahal sebenarnya banyak hadits Rosulullah yang mengangkat dan memberi tempat tersendiri bagi kaum hawa , Ketika Seorang Sahabat bertanya kepada Rosulullah “Siapakah di Dunia ini yang utama harus kita hormati ? Rosulullah menjawab : ”Ibumu .lalu siapa lagi Ya Rosulullah ? Ibumu dan Ibumu lalu bapakmu , tigakali untuk ibu dan hanya sekali untuk bapak .

Dari hadits tersebut ternyata Rosulullah mengapresiasi exsistensi kaum Wanita dengan kepercayaan yang tinggi , namun yang terpenting adalah dengan perbedaan pemahaman ini,Kita harus pandai mengambil hikmahnya , agar perbedaan bisa menjadi Rahmat Allah bagi kita semua , sehingga kita bisa menemukan persamaan, karena terbukti sukses kepemimpinan perempuan, di Indonesia kita bisa menerima Presiden Wanita, Menteri Wanita, Gubernur Wanita dan Bupati atau Wali Kota Wanita bahkan camat, lurah dan ketua RW/RT pun adayang di jabat oleh Wanita, Mengapa tidak ? karena semua telah diatur oleh system dan peraturan serta dilindungi Undang-undang dalam berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia tercinta.

 

  1. b. Laki-laki adalah pemimpin Kaum Wanita

 

Alasan lain yang mengindikasikan mereka untuk melarang wanita menjadi pemimpin adalah Firman Allah Swt:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

 

Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[6] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).[7]Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya,[8] maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.[9] Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.[10]( QS. Al-Nisâ`: 34 )

 

Harus diakui bahwa ada sementara ulama yang menjadikan firman Allah dalam surah Al-Nisa’ ayat 34, Lelaki-lelaki adalah pemimpin perempuan-perempuan.sebagai bukti tidak bolehnya perempuan terlibat dalam persoalan politik. Karena kata mereka, kepemimpinan berada di tangan lelaki, sehingga hak-hak berpolitik perempuan pun telah berada di tangan mereka. Pandangan ini bukan saja tidak sejalan dengan ayat-ayat yang dikutip di atas, tetapi juga tidak sejalan dengan makna sebenarnya yang diamanatkan oleh ayat yang disebutkan itu.Ayat Al-Nisa’ 34 itu berbicara tentang kepemimpinan lelaki (dalam hal ini suami) terhadap seluruh keluarganya dalam bidang kehidupan rumah tangga. Kepemimpinan ini pun tidak mencabut hak-hak istri dalam berbagai segi, termasuk dalam hak pemilikan harta pribadi dan hak pengelolaannya walaupun tanpa persetujuan suami.

 

Mereka (interprener) menyatakan bahwa wanita berada dibawah laki-laki. Maka, laki-lakilah yang mempunyai tanggung jawab dan wajib memelihara (qawwamah) wanita, artinya wanita harus tunduk patuh dan dilarang menjadi pemimpin  terhadap laki-laki. Maka dari itu, mereka mengambil kongklusi, bahwa kaum hawa tidak punya hak untuk menjadi pimpinan terhadap kaum adam.

Sebenarnya, penafsiran ayat ini perlu didaur ulang. Karena, bila pemahamannya seperti itu,seakan-akan terjadi penyetiran makna dan maksud dalam pemahaman ayat ini.Perlu dipahami, “al-qawwamah disini bukanlah yang mempunyai arti pemimpin atas permasalahan-permasalahan secara umum, seperti qadha’ atau kepemimpinan sebuah negara.Tapi al-qawwâmahmempunyai maksud hanya pada tataran tanggung jawab sebagai pemimpin dalam sebuah keluarga. Sebagaimana yang diceritakan Rasulullah Saw., laki-laki terhadap keluarganya adalah pemimpin dan dia akan dimintai pertanggung jawababan atas kepemimpinannya”. Artinya hendaklah seorang istri ta’at dan mempunyai etika terhadap suaminya.[11]

Penafsiran seperti ini juga di perkuat dengan fakta sejarah yang  menunjukkan sekian banyak di antara kaum wanita yang terlibat dalam soal-soal politik praktis. Ummu Hani misalnya, dibenarkan sikapnya oleh Nabi Muhammad saw. ketika memberi jaminan keamanan kepada sementara orang musyrik (jaminan keamanan merupakan salah satu aspek bidang politik). Bahkan istri Nabi Muhammad saw. sendiri, yakni Aisyah r.a.,memimpin langsung peperangan melawan ‘Ali ibn Abi Thalib yang ketika itu menduduki jabatan Kepala Negara. Isu terbesar dalam peperangan tersebut adalah soal suksesi setelah terbunuhnya Khalifah Ketiga, Utsman r.a. Peperangan itu dikenal dalam sejarah Islam dengan nama Perang Unta (656 M).

 

Keterlibatan Aisyah r.a. bersama sekian banyak sahabat Nabi dan kepemimpinannya dalam peperangan itu, menunjukkan bahwa beliau bersama para pengikutnya itu menganut paham kebolehan keterlibatan perempuan dalam politik praktis sekalipun.

Muhammad Al-Ghazali, salah seorang ulama besar Islam kontemporer berkebangsaan Mesir, menulis: “Kalau kita mengembalikan pandangan ke masa sebelum seribu tahun, maka kita akan menemukan perempuan menikmati keistimewaan dalam bidang materi dan sosial yang tidak dikenal oleh perempuan-perempuan di kelima benua. Keadaan mereka ketika itu lebih baik dibandingkan dengan keadaan perempuan-perempuan Barat dewasa ini, asal saja kebebasan dalam berpakaian serta pergaulan tidak dijadikan bahan perbandingan.

Almarhum Mahmud Syaltut, mantan Syaikh (pemimpin tertinggi) lembaga-lembaga Al-Azhar di Mesir, menulis:”Tabiat kemanusiaan antara lelaki dan perempuan hampir dapat (dikatakan) sama. Allah telah menganugerahkan kepada perempuan sebagaimana menganugerahkan kepada lelaki. Kepada mereka berdua dianugerahkan Tuhan potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab dan yang menjadikan kedua jenis kelamin ini dapat melaksanakan aktivitas-aktivitas yang bersifat umum maupun khusus. Karena itu, hukum-hukum Syari’at pun meletakkan keduanya dalam satu kerangka. Yang ini (lelaki) menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum, menuntut dan menyaksikan,dan yang itu (perempuan) juga demikian, dapat menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum serta menuntut dan menyaksikan.

Banyak faktor yang telah mengaburkan keistimewaan serta memerosotkan kedudukan tersebut. Salah satu di antaranya adalah kedangkalan pengetahuan keagamaan, sehingga tidak jarang agama (Islam) diatasnamakan untuk pandangan dan tujuan yang tidak dibenarkan itu.

 

Berikut ini akan dikemukakan pandangan sekilas yang bersumber dari pemahaman ajaran Islam menyangkut perempuan, dari segi (1) asal kejadiannya, dan (2) hak-haknya dalam berbagai bidang. Asal Kejadian Perempuan Berbedakah asal kejadian perempuan dari lelaki? Apakah perempuan diciptakan oleh tuhan kejahatan ataukah mereka merupakan salah satu najis (kotoran) akibat ulah setan? Benarkah yang digoda dan diperalat oleh setan hanya perempuan dan benarkah mereka yang menjadi penyebab terusirnya manusia dari surga?

Demikian sebagian pertanyaan yang dijawab dengan pembenaran oleh sementara pihak sehingga menimbulkan pandangan atau keyakinan yang tersebar pada masa pra-Islam dan yang sedikit atau banyak masih berbekas dalam pandangan beberapa masyarakat abad ke-20 ini.

Pandangan-pandangan tersebut secara tegas dibantah oleh Al-Quran, antara lain melalui ayat pertama surah Al-Nisa’: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jenis yang sama dan darinya Allah menciptakan pasangannya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak.

Demikian Al-Quran menolak pandangan-pandangan yang membedakan (lelaki dan perempuan) dengan menegaskan bahwa keduanya berasal dari satu jenis yang sama dan bahwa dari keduanya secara bersama-sama Tuhan mengembangbiakkan keturunannya baik yang lelaki maupun yang perempuan.
Benar bahwa ada suatu hadis Nabi yang dinilai shahih (dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya) yang berbunyi:Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah).

Benar ada hadis yang berbunyi demikian dan yang dipahami secara keliru bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam, yang kemudian mengesankan kerendahan derajat kemanusiaannya dibandingkan dengan lelaki. Namun, cukup banyak ulama yang telah menjelaskan makna sesungguhnya dari hadis tersebut.

Muhammad Rasyid Ridha, dalam Tafsir Al-Manar, menulis: “Seandainya tidak tercantum kisah kejadian Adam dan Hawa dalam Kitab Perjanjian Lama (Kejadian II;21) dengan redaksi yang mengarah kepada pemahaman di atas, niscaya pendapat yang keliru itu tidak pernah akan terlintas dalam benak seorang Muslim.Tulang rusuk yang bengkok harus dipahami dalam pengertian majazi (kiasan), dalam arti bahwa hadis tersebut memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana. Karena ada sifat, karakter, dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan lelaki, hal mana bila tidak disadari akan dapat mengantar kaum lelaki untuk bersikap tidak wajar. Mereka tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan. Kalaupun mereka berusaha akibatnya akan fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.

Memahami hadis di atas seperti yang telah dikemukakan di atas, justru mengakui kepribadian perempuan yang telah menjadi kodrat (bawaan)-nya sejak lahir.Dalam Surah Al-Isra’ ayat 70 ditegaskan bahwa:“Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (untuk memudahkan mencari kehidupan). Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk-makhluk yang Kami ciptakan”.

Tentu, kalimat anak-anak Adam mencakup lelaki dan perempuan, demikian pula penghormatan Tuhan yang diberikan-Nya itu, mencakup anak-anak Adam seluruhnya, baik perempuan maupun lelaki. Pemahaman ini dipertegas oleh ayat 195 surah Ali’Imran yang menyatakan: Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain, dalam arti bahwa “sebagian kamu (hai umat manusia yakni lelaki) berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki dan sebagian yang lain (yakni perempuan) demikian juga halnya.” Kedua jenis kelamin ini sama-sama manusia. Tak ada perbedaan antara mereka dari segi asal kejadian dan kemanusiaannya.Dengan konsideran ini, Tuhan mempertegas bahwa:”Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal, baik lelaki maupun perempuan”. (QS 3:195).

Pandangan masyarakat yang mengantar kepada perbedaan antara lelaki dan perempuan dikikis oleh Al-Quran. Karena itu, dikecamnya mereka yang bergembira dengan kelahiran seorang anak lelaki tetapi bersedih bila memperoleh anak perempuan:“Dan apabila seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, hitam-merah padamlah wajahnya dan dia sangat bersedih (marah). Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebabkan “buruk”-nya berita yang disampaikan kepadanya itu. (Ia berpikir) apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). Ketahuilah! Alangkah buruk apa yang mereka tetapkan itu”. (QS 16:58-59). Ayat ini dan semacamnya diturunkan dalam rangka usaha Al-Quran untuk mengikis habis segala macam pandangan yang membedakan lelaki dengan perempuan, khususnya dalam bidang kemanusiaan.

Dari ayat-ayat Al-Quran juga ditemukan bahwa godaan dan rayuan Iblis tidak hanya tertuju kepada perempuan (Hawa) tetapi juga kepada lelaki. Ayat-ayat yang membicarakan godaan, rayuan setan serta ketergelinciran Adam dan Hawa dibentuk dalam kata yang menunjukkan kebersamaan keduanya tanpa perbedaan, seperti:“Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya”. (QS 7:20). Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan keduanya dikeluarkan dari keadaan yang mereka (nikmati) sebelumnya”.(QS 2:36).Kalaupun ada yang berbentuk tunggal, maka itu justru menunjuk kepada kaum lelaki (Adam), yang bertindak sebagai pemimpin terhadap istrinya,seperti dalam firman Allah: ”Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya (Adam) dan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan punah?” (QS 20:120).

 

Demikian terlihat bahwa Al-Quran mendudukkan perempuan pada tempat yang sewajarnya serta meluruskan segala pandangan yang salah dan keliru yang berkaitan dengan kedudukan dan asal kejadiannya.

Selain itu ada beberapa alasan yang menjustifikasi bahwa ayat diatas menjelaskan tentang kepemimpinan (al-qawwamah) yang difokuskan pada permasalahan keluarga:

Alasan Pertama: Asal muasal ayat ini diturunkan karena ada kasus keluarga sahabat. fenomena ini dalam sebuah riwayat diceritakan, bahwa Istri Sa’ad bin Rabi’ durhaka kepadanya, maka sa’ad bin Rabi’ menamparnya. Kemudian isrtrinya mengadukan kepada Rasulullah Saw. dan berkata kepda istrinya “kalian berdua mendapat hukuman qishâsh”.Maka kemmudian Allah menurunkan ayat sebagai berikut:

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Artinya: “Maka Maha Tinggi, Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu,[12] dan Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan“.[13]

 

Lalu Rasulullah diam sampai turun ayat yang artinya “kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita”,[14] kemudian Rasulullah Saw. berkata “saya menghendaki sesuatu, tapi Allah menghendaki yang lain”.[15] Ini menunjukan bahwa kepemimmpin yang termaktub dalam ayat di atas adalah kepemimpinan seorang suami terhadap istrinya.

Alasan kedua: Melihat susunan ayat dan hubungan dengan ayat lainnya. Dalam ayat ini menunjukan kepada pemberian mahar dan nafkah dari suami kepada istri, dengan firman Allah yang artinya: “dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”. Ayat ini juga mengisyaratkan kewajiban terhadap suami untuk mengemban amanah dengan firman Allah “maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah Swt. lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah memelihara mereka”.Dan ayat ini memberi isyarat atas kekuasaan suami terhadap istri dengan firman Allah Swt “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Maka ayat ini menunjukan bahwa yang dimaksud “kepemimpinan” disini adalah kepemimipinan suami terhadap istrinya. Bukanlah kepemimpinan yang bersifat pada kekuasaan umum seperti kepala negara, qadha’ dan lain sebagainya.

 

Alasan ketiga;Kelayakan wanita memimpin hal-hal yang khusus, seperti mengemban wasiat atas anak yatim dan diperbolehkannya menjadi pengawas atau direktris terhadap harta waqaf-an. Karena mereka (para wanita) mampu mengemban tugas-tugas yang dibebankan mereka. Maka dari itu, seorang wanita diperbolehkan memimpin hal-hal yang bersifat umum juga. Dengan catatan mereka (para wanita)  mampu melaksanakan tugas-tugasnya. Dari sini, tidak ada pengaruh apakah kepemimpinannya bersifat umum atau khusus. Yang menjadi fokus utama adalah kemampuan seorang wanita melaksanakan kewajibannya.[16]

Adapun jika mereka mengemukakan, bahwa ayat di atas mencakup kepemimpinan secara umum, maka terjadi pemahaman dalil yang tidak sesuai dengan maksud aslinya. Karena dakwaan tidak diperbolehkannya wanita menjadi pemimpin secara mutlak, tidak bolehnya menjadi hakim (baik yang dipimpin adalah lak-laki, wanita atau pada permasalahan secara umum) adalah dakwaan yang keliru, karena para ulama menganjurkan kepada wanita untuk menjadi hakim jika terjadi permasalahan diantara mereka.[17]

 

  1. c. Wanita kurang akal dan agama

 

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ‏ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ‏ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ‏ إِحْدَاكُنَّ

”Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menggoyangkan laki-laki yang teguh selain salah satu diantara kalian wahai wanita”(HR.Bukhori no,304)

Selanjutnya, bagaimanakah dengan hadis diatas yang menyatakan bahwa akal perempuan adalah kurang dan agamanya ? Apakah perempuan diciptakan dalam keadaan kapasitas akal yang kurang? Jika benar demikian, apakah Tuhan adil? Jika jawabnya tidak, lantas apakah maksud dari hadis tersebut? Begitu banyak tuduhan-tuduhan negatif yang ditujukan kepada Islam, bahwa Islam tidak menghormati hak asasi perempuan (HAP), sehingga akhirnya pun banyak diadakan seminar-seminar, diskusi-diskusi, program program “pemberdayaan” diberbagai tempat untuk mengusung tema ini. Dan tema yang diusung adalah seputar “Akal perempuan dan pandangan Islam tentang kurangnya akal perempuan”.Dan ini bisa dibuktikan dengan adanya hadits sah dari Rasulullah -yang termaktub di dalam shahihain, Bukhari dan Muslim- bahwasannya perempuan akalnya kurang. Maka, apakah yang akan mereka katakan bahwa itu adalah benar memang adanya? Dan apakah para perempuan memang memiliki akal yang kurang ? Dan apakah Rasulullah mensifati perempuan dengan sidat itu memang demikian maksudnya, ataukah justeru maksudnya kebalikan dari itu?

Makna hadits Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam:

ما رأيت من ناقصات عقل ودين أغلب للب الرجل الحازم من إحداكن. فقيل يا رسولا لله ما نقصان عقلها؟ قال أليست شهادة المرأتين بشهادة رجل؟ قيل يا رسول الله ما نقصان دينها ؟ قالأ ليست إذا حاضت لم تصل ولم تصم ؟

Artinya:“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menggoyangkan laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.”Lalu ada yang menanyakan kepada Rasulullah,”Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud kurang akalnya?” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam pun menjawab, ”Bukankah persaksian dua wanita sama dengan satu pria?”Ada yang menanyakan lagi,”Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan kurang agamanya?”Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam pun menjawab, ”Bukankah ketika seorang wanita mengalami haidh, dia tidak dapat melaksanakan shalat dan tidak dapat berpuasa?”(HR.Bukhari dan Muslim).

Hadits ini tidaklah mungkin kita fahami tanpa kita korelasikan dengan ayat Al-Qur’an yang mulia tentang perempuan menjadi saksi.Allah berfirman:

وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى

Artinya: “Maka ambilah dua orang laki-laki menjadi saksi, maka jika tidak tidak ada dua orang, maka seorang laki-laki dan dua orang perempuan yang kalian ridhai agamanya untuk menjadi saksi. Yang demikian itu agar kalau salah seorangnya lupa, maka yang lain mengingatkannya (Q.S. Al-Baqarah: 282).

Menurut ayat ini persaksian dalam muamalah sekurang-kurangnya dilakukan oleh dua orang laki-laki atau jika tidak ada dua orang laki-laki boleh dilakukan oleh seorang laki-laki dan dua orang perempuan.Mengenai syarat-syarat laki-laki bagi yang akan menjadi saksi adalah sebagai berikut:

  1. Saksi itu hendaklah seorang muslim.Pendapat ini berdasarkan perkataan “min rijaalikum” (dari orang laki-laki di antara kamu orang-orang yang beriman) yang terdapat di dalam ayat. Dari perkataan ini dipahami bahwa saksi itu hendaklah seorang muslim.Menurut sebagian ulama, beragama Islam bukanlah merupakan syarat bagi seorang saksi dalam muamalah. Karena tujuan persaksian di dalam muamalah ialah agar ada alat-alat bukti seandainya terjadi perselisihan atau perkara antara pihak-pihak yang berjanji di kemudian hari. Karena itu orang yang tidak beragama Islam dibolehkan menjadi saksi asal saja tujuan mengadakan persaksian itu dapat tercapai.
  2. Saksi itu hendaklah seorang yang adil, tidak memihak sehingga tercapailah tujuan diadakannya persaksian,sesuai dengan firman Allah swt.: Artinya: dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu. (Q.S At Talaq: 2)

Dalam ayat ini Allah swt, membedakan persaksian laki-laki dengan persaksian perempuan. Seorang saksi laki-laki dapat diganti dengan dua orang saksi perempuan. Para ulama berbeda pendapat tentang apa sebabnya Allah membedakan jumlah saksi laki-laki dengan jumlah saksi perempuan itu. Alasan yang sesuai dengan akal pikiran ialah bahwa laki-laki dan perempuan itu masing-masing diciptakan Allah mempunyai kelebihan dan kekurangan. Masing-masing mempunyai kesanggupan dan kemampuan dalam suatu lapangan lebih besar dari kesanggupan pihak yang lain. Dalam bidang muamalah laki-laki lebih banyak mempunyai kemampuan dibandingkan dengan perempuan dan pada umumnya muamalah itu lebih banyak laki-laki yang mengerjakannya. Karena perhatian perempuan kurang dibandingkan dengan perhatian laki-laki dalam bidang muamalah,maka pemikiran dan ingatan mereka dalam bidang ini pun kurang pula. Bila persaksian dilakukan oleh seorang wanita, kemungkinan ia lupa, karena itu hendaklah ada wanita yang lain yang ikut sebagai saksi yang dapat mengingatkannya.

Menurut Syekh Ali Ahmad Al-Jurjani: “Laki-laki lebih banyak menggunakan pikiran dalam menimbang suatu masalah yang dihadapinya, sedang wanita lebih banyak menggunakan perasaannya. Karena itu wanita lebih lemah iradahnya, kurang banyak menggunakan pikirannya dalam masalah pelik, lebih-lebih apabila ia dalam keadaan benci dan marah, ia akan gembira atau sedih karena sesuatu hal yang kecil. Lain halnya dengan laki-laki, ia sanggup,tabah dan sabar menanggung kesukaran, ia tidak menetapkan sesuatu urusan kecuali setelah memikirkannya dengan matang.”

Namun walaupun demikian. Nash-nash Al-Qur’an dan Al-Sunnah tidak membedakan antara kemampuan akal laki-laki dengan kemampuan akal perempuan. Hal ini terlihat jelas dalam konteks pembicaraan iman secara umum, baik perempuan atau pun laki-laki. Ini bila kita kaitkan antara nash-nash yang membicarakan kecerdasan, kemampuan, pendapat-pendapat yang benar dari perempuan dalam sejumlah permasalahan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Oleh karena itu, tidak pernah ada secara ilmiah, adanya perbedaan kemampuan akal wanita dengan laki-laki. Dan nash Al-Qur’an dan Sunnah tidak bertentangan dengan hal ini. Maka, yang dimaksud dengan kurang akalnya perempuan sebagaimana yang disebutkan di dalam nash adalah bukan pada kemampuan akal. Sebab aktivitas berfikir adalah aktivitas yang terpaut dengan hal-hal lain dari kerja syarat, dan terkandung di dalamnya kemampuan akal, dan hal-hallain semisal data empirik dan eksperien dan pengalaman.

Jika kita tilik pada ayat di atas, kita kan mendapatkan bahwa alasan dari hal itu adalah kadar kesaksian. bila lupa diingatkan. Dan lupa atau ingat adalah hal yang terkait dengan data empirik dan pengalaman. Dan ini sama antara laki-laki atau perempuan. Akan tetapi perempuan memiliki kekhususan-kekhususan, dimana ia banyak mengalami keadaan yang berbeda-beda “banyak mengalami siklus hidup”, seperti siklus yang berkaitan dengan tubuhnya, perasaannya, dimana keduanya sangat berpengaruh kepada proses berfikirnya. Ini, bila kita kaitkan pada hadits tersebut yang berbicara tentang hukum-hukum Islam dalam masyarakat Muslim, dan wanita dihukumi sesuai tabiat dan kehidupan kesehariannya dalam masyarakat islami secara lebih khusus dimana pengalamannya lebih sedikit dibandingkan dengan laki-laki secara umum, apalagi pada moment yang memang wanita jarang berkecimpung di dalamnya. Jadi, kurang akal di sini terkait dengan hal-hal lain, bukan kemampuan akal itu sendiri, sebagaimana yang difahami kebanyakan orang sehingga ia menghukumi sesuatu tanpa di landasi dengan analisis atau pemahaman yang benar.

Pemahaman yang salah dari hadits diatas:

Terbersit di dalam perpepsi sebagian orang. Mereka menyimpulkan bahwa kurangnya akal perempuan adalah kurangnya kemampuan otak, daya fikir perempuan lemah di bandingkan laki-laki, Andai mereka mau memperhatikan hadits tersebut, tentu mereka akan menemukan jawabannya, yaitu bahwa salahnya kesimpulan mereka bahkan bertentangan dengan hadits itu sendiri. Rinciannya adalah sbb.:

  1. Disebutkan di dalam hadits tersebut tentang adanya seorang perempuan yang menyela Rasulullah dengan bertanya. Dan orang yang menyela tersebut sebagaimana penjelasan ulama adalah memiliki akal, fikiran, dan dewasa. Maka bagaimana mungkin perempuan ia memiliki kurang akal sedangkan pada saat yang sama ia dewasa dan punya fikiran?
  2. Rasulullah takjub dengan kemampuan perempuan dan bahwasannya seorang dari mereka bisa mengungguli seorang laki-laki yang cerdas sekalipun. Maka bagaimana mungkin ia dikatakan kurang akal padahal mengalahkan kecerdasan seorang laki-laki?
  3. Dialog tersebut adalah antara Rasulullah dengan wanita muslimah yang terkait dengan hukum-hukum Islam: kadar kesaksian wanita dan shalat, serta puasa. Lalu, andai ada seorang wanita kafir lagi cerdas lalu ia pun masuk Islam, apakah ia tiba-tiba menjadi kurang akalnya? Pemahaman-pemahaman yang demikian adalah karena mengambil sepotong-sepotong nash hadits dan tidak melihat kepada keseluruhan nash, ia tidak mengkorelasikan antar sebagian nash dengan sebagian nash lainnya, atau ayat Al-Qur’an. Padahal hadits tersebut hanya membicarakan tentang alasan kurangnya akal wanita, yaitu bahwa kesaksian dua orang wanita adalah sama dengan kesakisian seorang laki-laki. Dan ayat Al-Qur’an pun demikian, yang jika ada seorang perempuan saksi lupa, maka diingatkan oleh yang lainnya. Dan Al-Qur’an tidak menyatakan bahwa perempuan lemah akalnya, dan juga tidak menyatakan bahwa dibutuhkannya dua orang saksi perempuan karena daya fikir wanita lebih lemah daripada daya fikir laki-laki.

Jika kita mau meneliti saat ini,kita akan menemukan adakalanya perempuan lebih unggul daripada laki-laki dalam banyak hal. Betapa banyak perempuan yang lebih unggul akal (kecerdasannya), agama dan kekuatan ingatannya daripada kebanyakan laki-laki. Sesungguhnya yang diberitakan oleh Nabi Shalallaahu alaihi wasalam di atas adalah bahwasanya secara umum kaum perempuan itu di bawah kaum lelaki dalam hal kecerdasan akal dan agamanya dari dua sudut pandang yang dijelaskan oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tersebut.

Kadang ada perempuan yang amal shalihnya sangat banyak sekali mengalahkan kebanyakan kaum laki-laki dalam beramal shalih dan bertaqwa kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala serta kedudukannya di akhirat; dan kadang dalam masalah tertentu perempuan itu mempunyai perhatian yang lebih, sehingga ia dapat menghafal dan mengingatnya dengan baik melebihi kaum laki-laki dalam banyak masalah yang berkaitan dengan dia (perempuan). Ia bersungguh-sungguh dalam menghafal dan memperbaiki hafalannya sehingga ia menjadi rujukan (referensi) dalam Sejarah Islam dan dalam banyak masalah lainnya. Hal seperti ini sudah sangat jelas sekali bagi orang memperhatikan kondisi dan perihal kaum perempuan di zaman Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan zaman sesudahnya.

Dari sini dapat diketahui bahwa kekurangan tersebut tidak menjadi penghalang bagi kita untuk menjadikan perempuan sebagai sandaran di dalam periwayatan, perempuan jadi presiden, gubernur, bupati, camat, kepala dinas,hakim, demikian pula dalam kesaksian apabila dilengkapi dengan satu saksi perempuan lainnya; juga tidak menghalangi ketaqwaannya kepada Allah dan untuk menjadi perempuan yang tergolong hamba Allah yang terbaik jika ia istiqamah dalam beragama, sekalipun di waktu haid dan nifas pelaksa-naan puasa menjadi gugur darinya (dengan harus mengqadha’),dan shalat menjadi gugur darinya tanpa harus mengqadha.

Semua itu tidak berarti kekurangan perempuan dalam segala hal dari sisi ketaqwaannya kepada Allah, dari sisi pengamalannya terhadap perintah-perintah-Nya dan dari sisi kekuatan hafalannya dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan dia. Kekurangannya hanya terletak pada akal dan agama seperti dijelaskan oleh Nabi Shalallaahu alaihi wasalam. Maka tidak sepantasnya seorang lelaki beriman menganggap perempuan mempunyai kekurangan dalam segala sesuatu dan lemah agamanya dalam segala hal. Kekurangan yang ada hanyalah kekurangan tertentu pada agamanya dan kekurangan khusus pada akalnya, yaitu yang berkaitan dengan validitas kesaksian. Maka hendak-nya setiap Muslim berlaku adil dan obyektif, serta menginterpretasikan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam sebaik-baik interpretasi.

Apa yang dimaksud dengan Daya Fikir dan Akal ?

Daya fikir adalah aktivitas otak dengan bantuan data empirik sesuai dengan eksperien dan kecerdasan untuk mendapatkan tujuan, atau mendapatkan hujjah atau menghilangkan kendala.Data empirik adalah sesuatu yang bisa dilihat atau disaksikan dan dibuktikan. Dan Eksperien adalah pengetahuan yang diperoleh manusia sesuai dengan fakta empirik dan melalui metodologi ilmiah. Adapun kecerdasan adalah gambaran tentang kemampuan dasar otak yang ada pada manusia yang berbeda-beda tingkatannya. Daya pikir membutuhkan hujah/dalil untuk membantunya. Dan hal itu tidak mungkin tercapai kecuali dengan menghilangkan kendala-kendala dan menghindarkan dari terjerumus dalam kesalahan dengan skill dan semangat untuk melakukannya.

Penjelasan tentang batasan daya fikir ini tidak berbeda antara laki-laki atau pun perempuan. Pun penjelasan ini tidak menunjukkan adanya perbedaan perolehan ilmu yang terkait dengan penelaahan otak, berfikir, dan belajar antara laki-laki dan perempuan dari aspek daya pikir dan belajar. Juga, tidak menunjukkan adanya perbedaan kemampuan otak dan kecerdasan, syaraf otak, cara memperoleh informasi, serta tidak ada keunggulan pada masing-masingnya kecuali hanya dalam hal-hal yang mempribadi.

Oleh karena itu, daya fikir bukanlah kemampuan akal atau kecerdasan semata, bahkan daya fikir lebih luas dari hal itu, termasuk di dalamnya hal-hal lain yang berjalan dalam tahapan berfikir ilmiah.Yaitu aktivitas yang terstruktur dan bukan sederhana. Sebagaimana demikian juga akal dalam perspektif Al-Qur’an dan Al-Sunnah adalah lebih luas daripada sekedar berfikir. Akan tetapi aktivitas berfikir yang ditujukan untuk beramal atau beraktivitas. Oleh karena itu, kami akan memberikan catatan tambahan terhadap hadits di atas dengan penjelasan yang detail. yaitu bahwa kurangnya akal wanita adalah kurang dalam hal metode dan tahapan berfikir ilmiah yang berpengaruh kepada fikiran, dan bukan pada kemampuan alami fikir itu sendiri atau kemampuan otak sebagaimana anggapan sebagian besar manusia.

Dan sudah datang masanya bagi kita untuk kembali kepada pemahaman yang benar ini,dan adil di dalam mensikapi Islam dengan seadil-adilnya.Dan bagi wanita, maka berjalanlah mengikuti nash-nash tersebut dan yakinlah kepada Rabb kalian,yakinlah kepada agama kalian (Islam), dan berbanggalah dengan Islam ini.(lihat At-Tafkir Wa-Muharatu Tafkir.Aziz Muhammad Abu Khalaf )

 

Untuk mengetahui esensi akal manusia perlu dianalisa apa yang dimaksud akal dalam prespektif Rasulullah SAW dan Imam Ali karamallahu wajhah, sebagai pelengkap dalam memahami makna dari teks-teks yang telah disebutkan di atas.Hadis-hadis yang berkenaan dengan akal diantaranya;

 

Rasulullah SAW bersabda:“Sesungguhnya semua kebajikan diketahui melalui akal”.

 

Imam Ali  berkata:“Akal adalah merupakan modal alami manusia, melalui belajar dan pengalaman akal dapat bertambah”.“Akal adalah agama dalam (hujjah bathin) bagi manusia sebagaimana syari’at (hujjah zahir) sebagai agama luar bagi manusia”.“Akal terbagi kepada dua bagian, akal alami (tabi’i) dan akal yang dihasilkan melalui pengalaman (tajrubi) yang mana hasil keduanya adalah menguntungkan manusia”.“Akal petunjuk kebenaran”.

Dan siapakah orang yang berakal? Imam Ali  dan Imam Ja’far Shodiq memberikan ciri-ciri bagi mereka yang berakal. Imam Ali  berkata:“Orang berakal bukan hanya sekedar dapat membedakan kebaikan dari keburukan, tapi orang berakal adalah orang yang dapat membedakan kebaikan diantara dua keburukan”.“Orang yang berakal adalah orang yang meletakan sesuatu pada tempatnya”.Imam Ja’far Shadiq  berkata: “Orang yang berakal adalah orang yang mengetahui (situasi dan kondisi) zamannya, posisi (diri)-nya dan menjaga lisannya”.

Melihat hadis-hadis di atas, secara umum,yang dimaksud dengan akal adalah parameter bagi manusia untuk membedakan kebaikan dan keburukan. Dalam hal ini tergantung pada perempuan dan laki-laki itu sendiri sebagai pemilik akal.

Berdasarkan jawaban-jawaban dia atas, secara ringkas dapat kita mengambil beberapa kesimpulan. Pertama, andaikan hadis tersebut tidak bermasalah dari segi sanad (silsilah para perawi), maka maksud dari hadis di atas bukan tertuju pada substansi perempuan yang dinyatakan lemah iman, karena kalau menunjukkan substansinya maka tidak akan ada satupun perempuan yang mencapai kesempurnaan. Sementara realitanya betapa banyak perempuan yang mencapai kesempurnaan bahkan ia lebih tinggi derajatnya dari para lelaki sebagaimana yang dapat kita lihat dari beberapa ayat dan hadis yang telah disebut di atas.

Kedua,hadis di atas tidak berkenaan dengan semua perempuan,tapi situasi dan kondisilah yang menyebabkan Imam Ali as ketika dalam perang Jamal mengatakan hal itu (lihat kembali kitab Nahjul-Balaghah khutbah ke-80).Dengan istilah lain, ungkapan Imam Ali berkaitan dengan proposisi eksternal(qadziyqh-kharijiyah) yang maksudnya tidak mencakup semua perempuan secara universal.

Tetapi mungkin muncul pertanyaan lain,kalaulah hadis tersebut tidak mencakup semua perempuan dan merupakan proposisi eksternal lantas kenapa dalam riwayat tersebut kata”nisa” (berarti: perempuan) memakai alif-lam sehingga dibaca ‘an-nisa’.Sementara dalam kaidah bahasa Arab penggunaan alif-lam istighraq digunakan untuk menunjukkan umum dan mencakup semua yang sejenisnya, apakah ini tidak terjadi kontradiksi?

Secara ringkas dapat dijawab bahwa, memang maksud riwayat tersebut tidak mencakup semua perempuan dan maksud dari perkataan Imam Ali  ialah perempuan pada peristiwa perang Jamal, akan tetapi beliau ingin mengisyaratkan bahwa jika ada perempuan yang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh perempuan di perang Jamal itu maka hadis tersebut pun akan mencakup perempuan itu.

Dari rancang bangun ini, tidak ada larangan terhadap wanita untuk menjadi  pemimpin. Baik pemimpin formal atau non formal, pemimpin yang skopnya kecil ataupun yang lebih besar, negara sekalipun dengan syarat mereka mampu mengemban amanah yang ada dengan kapabilitas yang mereka miliki.

 

  1. III. PERBEDAAN PEMIMPIN NEGARA DENGAN AL-IMAMAH AL-UDHMA(KHALIFAH)

 

Sebelum kita membahas perbedaan pemimpin negara (presiden) dengan al-Imamah al-Udhma atau juga disebut dengan  khilafah terlebih dahulu kita membicarakan apakah NKRI termasuk kepada Daar al- islam atau Daar-al-kufr .

Sebagian kaum Muslimin ada yang beranggapan bahwa Indonesia bukan termasuk negara Islam karena didalamnya tidak dijalankannya hukum-hukum Islam, oleh karena itu mereka menghalalkan  untuk bejihad memerangi NKRI. Berjihad terhadap Pemerintah RI dengan tuduhan sebagai negara kafir tidak bisa dibenarkan, karena NKRI sudah memenuhi tuntutan kreteria sebagai dar al-Islam, disamping dalam pasal 29 ayat (2) UUD 1945 bahwa negara menjamin kebebasan beragama bagi warga negaranya.

Dalam kitab Hasyiah al-Jamal juz 7 halam 208, beliau berkata:Kemudian saya melihat Imam Rafi’i dan yang lain menuturkan pendapat yang dinukil dari para ulama’madzhab Syafi”i bahwa dar al-Islam (negara Islam) itu ada tiga bagian :

1) Negara yang dihuni umat Islam.

2) Negara yang ditaklukkan umat Islam dan menetapkan penduduknya untuk tetap tinggal disana dengan membayar jizyah baik mereka itu memilikkannya atau tidak.

3) Negara yang dihuni oleh umat Islam kemudian dikuasai oleh orang-orang kafir.

Imam Rafi’i berkata : Para ulama’ menggolongkan bagian kedua sebagai negara Islam, hal itu menjelaskan bahwa tentang penganggapan sebagai negara Islam cukup adanya negara itu dibawah kekuasaan seorang imam walaupun disana tidak terdapat satupun orang muslim. Imam Rafi’i berkata : Adapun para ulama’ menggolongkan bagian ketiga sebagai negara Islam karena terkadang dijumpai dalam perbincangan para ulama’ suatu pendapat yang memberikan pengertian bahwa penguasaan yang sudah berlalu cukuplah untuk melestarikan hukum sebagai negara Islam

 

Dalam kitab bughiyah al-Mustarsyidiin,halaman 254:

 

(مسئلة ى) كل محل قدر مسلم ساكن به على الامتناع من الحربيين فى زمن من الازمان يصير دار اسلام تجرى عليه احكام فى ذلك الزمان وما بعده وان انقطع امتناع المسلمين باستيلاء الكفار عليهم ومنعهم من دخوله واخراجهم منه وحينئذ فتسميته دار حرب صورة لا حكما فعلم أن أرض بتاوي بل وغالب أرض جاوة دار اسلام لاستيلاء المسلمين عليها سابقا قبل الكفار.

 

“Setiap tempat dimana penduduk muslim disana kuasa mempertahankan dari ancaman orang-orang kafir harby pada suatu masa dari beberapa masa jadilah tempat itu dar al-Islam (negara Islam) yang boleh diberlakukan hukum-hukum Islam pada zaman itu dan sesudahnya sekalipun pertahanan kaum muslimin terputus sebab orang-orang kafir telah menguasai umat Islam, menghalangi memasuki negara itu dan mengusir umat Islam dari sana. Dalam keadaan seperti diatas maka tempat itu dinamakan dar al-harb secara de facto dan bukan dar al-harb secara de jure. Jadi bisa diketahui bahwa Betawi bahkan kebanyakan tanah Jawa adalah negara Islam karena umat Islam telah menguasainya jauh sebelum orang-orang kafir.”

 

Dalam Kitab Jihad fil-Islam halaman 81:

 

ويلاحظ من معرفة هذه الاحكام أن تطبيق احكام الشريعة الاسلامية ليس شرطا لاعتبار الدار دار الاسلام ولكنه حق من حقوق دار الاسلام فى اعناق المسلمين فاذا قصر المسلمون فى إجراء الاحكام الاسلامية غلى اختلافها فى دارهم التى أورثهم الله اياها فان هذا التقصير لا يخرجها عن كونها دار اسلام ولكنه يحمل المقصرين ذنوبا واوزارا.

 

“Dilihat dari mengetahui hukum-hukm ini bahwa menerapkan hukum syariat Islam bukan suatu syarat bagi negara dianggap sebagai negara Islam, akan tetapi merupakan salah satu dari hak-hak negara Islam yang menjadi tanggung jawab umat Islam. Jadi apabila umat Islam ceroboh dalam menjalankan hukum Islam atas cara yang berbeda-beda dinegara yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadanya, maka kecerobohan ini tidak merusak adanya negara dinamakan negara Islam, akan tetapi kecorobohan itu membebani mereka dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan.

 

Dengan melihat keterangan diatas maka Indonesia termasuk kepada negara Islam dan Jihad dengan target mengganti NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan daulah Islamiyyah tidak bisa dibenarkan, karena jika hal itu dilakukan sudah pasti menimbulkan kekacauan dalam berbagai aspek kehidupan bernegara dan bermasyarakat dimana-mana dan bahkan bisa terjadi perang saudara yang justru semakin jauh dari target jihad yang dicita-citakan.

 

Lalu apa yang dimaksud dengan Khilafah atau al-Imamah al-Udhma?

 

Khilafah secara etimologis mempunyai arti pengganti,dari kata khalafa-yakhlufu. Khilafah adalah yang mengganti orang lain dalam mengemban sebuah tanggaung jawab tertentu baik pergantian disebabkan karena kematian yang diganti, kepergiannya,ketidak mampuannya atau karena berdasarkan sebuah ketulusan niat penghormatan dari yang diganti kepada yang mengganti. Sementara dalam terminologi Fiqh Siyasah Islam,” khilafah” dapat disimpulkan sebagai upaya mengarahkan seluruh manusia atas dasar syariat yang meliputi semua bidang kemaslahatan dunia dan kemaslahatan akhirat.

Imam Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah hal. 190 : “Telah kami jelaskan hakikat kedudukan ini [khalifah] dan bahwa ia adalah pengganti dari Pemilik Syariah [Rasulullah SAW] dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama. [Kedudukan ini] dinamakan Khilafah dan Imamah dan orang yang melaksanakannya [dinamakan] khalifah dan imam.”[Lihat Ad-Dumaiji, Al-Imamah Al-‘Uzhma ‘Inda Ahl As-Sunnah wa Al-Jama’ah, hal. 34].

Dalam kitab yang sama juga diterangkan:“Mayoritas golongan ahlussunnah wal jama’ah berpendapat bahwa tidak diperbolehkan membangkang terhadap pemimpin-pemimpin yang dhalim dan menyeleweng dengan jalan memerangi selama kedhaliman dan penyelewengannya tidak sampai kepada kekufuran yang jelas atau meninggalkan shalat dan da’wah kepadanya atau memimpin umat tanpa berdasarkan kitab Allah sebagaimana dijelaskan oleh hadits-hadits yang sudah lalu dalam menerangkan sebab-sebab pemecatan imam“. [ Lihat Al-Imamah Al-‘Uzhma ‘Inda Ahl As-Sunnah wa Al-Jama’ah, hal. 502 ].

Yang perlu dicermati, sekiranya ada catatan-catatan sebagai bentuk pembedaan antara wanita sebagai “pemimpin negara” dengan “al-Imamah al-Udhma”, karena piranti inilah yang sebenarnya menjadi tolak ukur perselisihan para ulama. Adapun yang dimaksud “al-Imamah al-Udhma” adalah seorang pemimpin yang mengurusi segala urusan yang ada di dalam negaranya. Baik dalam kondisi damai atau peperangan. Dalam hal ini, “al-Imamah al-Udhma” menjadi titik tolak sebagai pelaksana lapangan secara langsung.[18]

Adapun pemimpin negara yang terjadi sekarang ini, sebuah kepemimpinan yang mana seorang pemimpin tidak terjun langsung dalam norma-norma ataupun dalam tatanan realitasnya, karena ada instansi yang mewakili tugas-tugasnya secara menyeluruh seperti yang terdapat dalam sebuah parlemen.[19] Maka dengan hal ini, seorang pemimpin negara hanya menjadi simbol kepemimpin. [20]

Dari landskap ini, perlu adanya pembedaan secara fokus antara terma al-Imamah al-Udhma” dengan pemimpin negara kontemporer (dengan segala aturan politiknya).Tidak bisa dipungkiri bahwa terma “al-Imamah al-Udhma” (khilafah) sudah tidak bisa direalisasikan dalam negara-negara Islam yang sebagian terbagi sebagai negara kerajaan, pemerintahan dan kesultanan. Selain itu, ada juga negara Islam yang memakai majelis permusyawaratan rakyat ataupun majlis Syura`. Dalam kondisi seperti ini, sebuah pemerintahan tidak bisa dipegang dengan hanya satu tangan saja.  Adapun “al-Imamah al-Udhma” lebih identik dengan kekuasaannya yang tidak terbatas. Artinya, dengan segala kekuasaan dan urusannya ia mampu menduduki di segala jurusan yang ada. Baik dalam urusan dunia atau akhirat. Inilah yang membedakan antara pemerintahan secara umum dengan “al-Imamah al-Udhma” Maka, tidak aneh jika ulama fikih melarang wanita menjadi seorang khilafah, karena melihat beban dan tanggung jawab yang diemban dalam kepemimpinan khilafah.

Dari sini, jika melihat realitas pemerintahan sekarang, kebanyakan menggunakan sistem pemerintahan yang demokrasi dibawah pengawasan parlemen atau diwakili dengan para menteri-menteri. Artinya, urusan-urusan yang ada tidak ditanggung secara mutlak oleh seorang pemimpin.

Bisa dijadikan sample dan justifikasi terhadap hak wanita ikut berpartisipasi dalam dunia politik dan menjadi pemimpin, adalah irâdah (kehendak) Allah Swt. yang menjadikan Ratu Balqis menjadi penguasa di negeri Saba’. Jika kita masih mengimani kisah-kisah al-Qur’an, maka tidak sepatutnya kita mengingkari kepemimpinan wanita, karena dalam al-Qur’an dikisahkan dengan jelas bagaimana kiprah Ratu Balqis di negaranya.Adapun yang menjadikan Nabi Sulaiman diutus kepada Ratu Balqis, bukan karena negeri Saba’ dipimpin oleh seorang wanita. Tapi, disebabkan karena mereka menyembah matahari, maka datanglah Nabi Sulaiman untuk mengislamkannya.[21] Di dalam al-Qur’an diterangkan. Firman Allah Swt:

 

إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ. وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ. وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ.

 

Artinya: “Sesungguhnya Aku menjumpai seorang wanita[22] yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapat petunjuk”.[23]

 

Selajutnya,al-Qur’an menerangkan sistem pemerintahannya yang memakai sistem “suluk al-Isyarah“. Firman Allah Swt:

 

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنْتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونِ . قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ . قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً وَكَذَلِكَ يَفْعَلُونَ

 

Artinya: “Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah Aku pertimbangan dalam urusanku (ini) Aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)”. Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan Keputusan berada ditanganmu: Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”. Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat”.[24]

 

Yang menjadi titik tekan disini, setidaknya ada nalar kritis terhadap teks-teks yang berbau misoginis. Karena Islam tidak mungkin memandang rendah terhadap keberadaan wanita, di akui atau tidak bahwa wanita menjadi simbol humansime dalam kehidupan. Maka, sekali lagi jika memang benar hadits itu shahih dari Nabi Saw.,[25] tapi tetap tidak bisa dikatakan bahwa hadits tersebut bisa dijadikan sebagai landasan syari’at. Karena sebagaimana telah dikemukakan bahwa kondisi kultur sosial, budaya, politik terus mengalami pergolakan dan perubahan. Artinya, turunnya hadits diatas hanyalah sebagai respon balik terhadap fenomena masa itu.

 

  1. IV. KAUM HAWA SEBAGAI HAKIM DAN PEMIMPIN NEGARA

 

Sebenarnya dalam permasalahan kepemimpinan wanita dalam hal memberi hukum (menjadi Qadhi) terdapat perbedaan pendapat antara para ulama.

Pendapat pertama; (seperti mayoritas Ulama Maliki, Syafi’i, Hambali, Syi’ah Imamiyyah, Syi’ah Zaidiyyah dan Ibadiyyah) menyatakan bahwa syarat pemimpin harus laki laki, maka haram bagi wanita menjadi pemimpin dalam sebuah Qadhi, baik dalam kasus harta benda, qishash dan pidana. Jika wanita tetap memimpin dalam sebuah Qadha’ maka hukumnya adalah dosa.[26] Dalam kitab minahul jalil juz 17 halaman 277 dikatakan bahwa seorang perempuan tidak bisa menjadi kepala Negara yang ibarohnya sebagai berikut”

(ذَكَرٌ ) فَلَا تَصِحُّ تَوْلِيَةُ امْرَأَةٍ لِحَدِيثِ الْبُخَارِيِّ} لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً } ( فَطِنٌ ) بِفَتْحِ الْفَاءِ وَكَسْرِ الطَّاءِ الْمُهْمَلَةِ صِفَةٌ مُشَبَّهَةٌ مِنْ الْفَطَانَةِ ، أَيْ النَّبَاهَةِ وَجَوْدَةِ الْعَقْلِ فَلَا تَصِحُّ تَوْلِيَةُ الْمُغَفَّلِ الَّذِي يَنْخَدِعُ بِتَحْسِينِ الْكَلَامِ ، وَلَا يَتَنَبَّهُ لِمَا يُفِيدُ الْإِقْرَارُ وَحِيَلِ الْخُصُومِ وَالشُّهُودِ.

 

Mazdhab Syafi’iah: Dalam Kitab Tuhfatul Muhtaj Imam Ibnu Hajar menambahkan dikarenakan seorang wanita ditaqdirkan memiliki akal dibawah kadar seorang laki-laki,hal ini seperti yang telah di taqrir oleh Al- Imam Romli dalam kitab Nihayatul Muhtaj dan juga Al-Imam Khotib As-Syarbini dalam kitab mughninya. Adapaun ibarohnya sebagaimana berikut:

 

(ذَكَرًا ) لِضَعْفِ عَقْلِ الْأُنْثَى وَعَدَمِ مُخَالَطَتِهَا لِلرِّجَالِ وَصَحَّ خَبَرُ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً وَأُلْحِقَ بِهَا الْخُنْثَى احْتِيَاطًا فَلَا تَصِحُّ وِلَايَتُهُ ، وَإِنْ بَانَ ذَكَرًا كَالْقَاضِي بَلْ أَوْلَى

Mazdhab Hanbali: Dalam kitab Kasyful Qonna juz 22 halaman 51dan juga dalam kitab Al-Kaafi juz 4 halaman 221dikatakan hal yang sama.Adapun ibarohnya sebagaimana berikut:

 

(ذَكَرًا ) لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمَرَهُمْ امْرَأَةً } وَلِأَنَّ الْمَرْأَةَ نَاقِصَةُ الْعَقْلِ قَلِيلَةُ الرَّأْيِ لَيْسَتْ أَهْلًا لِحُضُورِ مَحَافِلِ الرِّجَال

Ibaroh Al-Kaafi :

الخامس:الذكورية فلا يصح تولية المرأة لقول النبي صلى الله عليه و سلم : لن يفلح قوم ولوا أمرهم امرأة ( رواه البخاري) ولأن المرأة ناقصة العقل غير أهل لحضور الرجال ومحافل الخصوم ولا يصح تولية الخنثى لأنه لم يعلم كونه ذكرا

 

Pendapat kedua; (dari Madzhab Hanafi) menyatakan diperbolehkan seorang wanita memimpin dalam sebuah Qadha’,[27] tapi dalam kasus-kasus yang diperbolehkannya menjadi saksi yaitu selain qishâsh dan tindak pidana.[28] Artinya, laki-laki dalam sebuah kepemimpinan bukan menjadi syarat kecuali dalam masalah hukuman pidana dan qishâsh.[29] Adapun selain tindak pidana, wanita boleh menjadi pemimpin.Seperti apa yang termuat dalam kitab tuhfatul ahwadzi juz 6 halaman 48 ,dan juga halaman 447, adpun ibaratna adalah sebagai berikut

 

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ اِمْرَأَة قَالَ الْخَطَّابِيُّ فِي الْحَدِيثِ : إِنَّ الْمَرْأَةَ لَا تَلِي الْإِمَارَةَ وَلَا الْقَضَاءَ وَفِيهِ إِنَّهَا لَاتُزَوِّجُ نَفْسَهَا وَلَا تَلِي الْعَقْدَ عَلَى غَيْرِهَا كَذَا قَالَ وَهُوَ مُتَعَقَّبٌ وَالْمَنْعُ مِنْ أَنْ تَلِيَ الْإِمَارَةَ وَالْقَضَاءَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ وَأَجَازَهُ الطَّبَرِيُّ وَهِيَ رِوَايَةٌ عَنْ مَالِكٍ وَعَنْ أَبِي حَنِيفَةَ عَمَّا تَلِي الْحُكْمَ فِيمَا تَجُوزُ فِيهِ شَهَادَةُ النِّسَاءِ

 

Namun dalam kitab Fathul Qodir juz 16 halaman 410 dikatakan perempuan bisa menjadi seorang qodhi dalam setiap masalah kecuali Had dan Qishos,berbeda dengan Imam tiga yaitu Al-Imam Malik. Al-Imam Syafi’I dan Al-Imam Ahmad bin Hanbali.Adapun iborohnya sebagai berikut:

 

قَوْلُهُ وَيَجُوزُ قَضَاءُ الْمَرْأَةِ فِي كُلِّ شَيْءٍ إلَّا فِي الْحُدُودِ وَالْقِصَاصِ ) وَقَالَ الْأَئِمَّةُ الثَّلَاثَةُ : لَا يَجُوزُ لِأَنَّ الْمَرْأَةَ نَاقِصَةُ الْعَقْلِ لَيْسَتْ أَهْلًا لِلْخُصُومَةِ مَعَ الرِّجَالِ فِي مَحَافِلِ الْخُصُومِ ، قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً } رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ .قَالَ الْمُصَنِّفُ ( وَقَدْ مَرَّ الْوَجْهُ ) يَعْنِي وَجْهَ جَوَازِ قَضَائِهَا ، وَهُوَ أَنَّ الْقَضَاءَ مِنْ بَابِ الْوِلَايَةِ كَالشَّهَادَةِ وَالْمَرْأَةُ مِنْ أَهْلِ الشَّهَادَةِ فَتَكُونُ مِنْ أَهْلِ الْوِلَايَةِ

Pendapat Ketiga; seperti yang dikatakan oleh Ibnu Qayim dari mazhab Maliki, Hasan Basri, Ibnu Hazm al-zhahiri. Ibnu Hazm menyatakan bahwa laki-laki bukanlah syarat untuk menjadi qadhi. Artinya wanita diperbolehkan menjadi pemimpin qadha’ (hakim) di dalam segala urusan sampai dalam urusan qishâsh dan pidana. Karena menurutnya seorang wanita dipebolehkan menjadi saksi tindak pidana dan qishâsh.[30] Seperti apa yang di nuqil imam ibnu hajar al asqollany dalam fathul bari juz 20 halaman 107 namun ini adalah pendapat yang tidak mu’tamad menurut madzhab maliky ,dap un ibarotnya sebagai berikut “

 

قَالَ اِبْن التِّين : اِحْتَجَّ بِحَدِيثِ أَبِي بَكْرَة مَنْ قَالَ لَا يَجُوز أَنْ تُوَلَّى الْمَرْأَة الْقَضَاء وَهُوَ قَوْل الْجُمْهُور ، وَخَالَفَ اِبْن جَرِير الطَّبَرِيُّ فَقَالَ يَجُوز أَنْ تَقْضِي فِيمَا تُقْبَل شَهَادَتهَا فِيهِ ، وَأَطْلَقَ بَعْض الْمَالِكِيَّة الْجَوَاز

 

Dalam permasalahan ini, yang menjadi sorotan adalah pendapat yang ketiga, karena melihat fenomena yang ada didalam masyarakat sosial, bahwa mereka sudah terdoktrin dalam fatwa pengharaman wanita sebagai hakim. Padahal dalam permasalahan ini terjadi perbedaan pendapat antara para ulama. Ironisnya, yang lebih banyak diekspos dalam mass media adalah fatwa pengharaman kepada wanita dalam keikutsertaanya di dalam politik, pemerintahan atau yang lainnya dengan memakai penafsiran dalil yang kurang bisa dipertanggung jawabkan. Padahal banyak dalam hadits-hadits dan qaul-qaul (ucapan sahabat) yang memperbolehkan wanita memimpin.Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Maryam dari Ibnu Qasim yang memperbolehkan kepemimpinan wanita.[31]Dikatakan juga oleh sosok yang dinisbahkan dengan nama Imam al-Baji, salah seorang pembesar Ulama Maliki pada abad ke-V kepada ImamMuhammad Syaibani muridnya Abu Hanifah, ia menyatakan diperbolehkannya wanita menjadi hakim dalam semua permasalahan (kondisi).[32]

 

  1. V. EPILOG

 

Dari rancang bangun ini, walaupun secara ijma’ menyatakan dilarangya wanita menjadi pemimpin negara atau gubernur, tapi dengan beberapa alasan diatas wanita tetap bisa menjadi pemimpin dalam tataran kekuasaan umum atau khusus.[33] Jadi, wanita muslimah tetap mempunyai hak ntuk menduduki berbagai jabatan kenegaraan semisal anggota parlemen, menteri, bahkan menjadi presiden, dan juga jabatan pada dewan fatwa. Wanita juga brerhak untuk dipilih dan memilih, dan menjalankan tugas agung pada suatu kenegaraan dan selain itu wanita tetap mempunyai hak untuk ikut serta dalam shalat jama’ah bersama laki-laki, kepemimpinan syari’at.”Logika Islam dalam kasus ini berdiri di atas prinsip jika perempuan adalah entitas masyarakat yang juga paripurna, mereka memiliki hak sebagaimana lelaki,”dengan catatan  ada syarat-syarat kapabilitas yang ketat yang harus dipenuhi terlebih dahulu oleh perempuan tersebut,tidak sembarangan.

Sebagai penutup dalam tulisan ini marilah kita renungkan firman Allah SWT,yang artinya: ”Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain, karena bagi lelaki ada bagian dari apa yang mereka peroleh (usahakan) dan bagi perempuan juga ada bagian dari apa yang mereka peroleh (usahakan) dan bermohonlah kepada Allah dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS 4:32).

Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya.Inilah paparan singkat tentang kepemimpinan wanita, adapun kebenarannya hanya ada di tangn-Nya.Dengan kemurahan-Nya kami memohon kemurahan-Nya, sesungguhnya Dia Maha dekat lagi Maha mengabulkan.

Segala Puji bagi Allah Rabbul-alamin dengan pujian yang banyak,baik lagi penuh baraokah,seperti yang dicintai dan di ridhai Rabb,Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada pemimpin kita, Nabi Muhammad,kerabat dan para sahabatnya.

 

 

Daftar Pustaka

[1] Al-Qur’anul kariem

Ali Abdul Wahid Wafi, Huqûq al-Insan fî al-Islam,

[2] Al Baghowiy , Syarhus Sunnah,terbitan Daar fikr

[3] Al-Imam An-Nawawi, Al Majmu Syarh Al Muhadzab Terbitan Dar Al Fikr 1426 H, Tahqiq Dr. Mahmud Mathraji

[4] Al Asqalani, Ibn Hajar, Fath al Bari Syarh Shahih al Bukhari, Beirut: Dar Ma’rifah

[5]  Al Hajar al-Asqalani, Sahih Bukhari, Dar al-Fajalah

[6] Al Bukhari, Shahih al Bukhari, Beirut : Dar al Janan

[7] al-Allamah Wahbi Sulaiman Ghawuji al-Albani al-Hanafi hafizahullah. Risalahإذا صح الحديث فهو مذهبي Cetakan Darul Iqra’.Cetakan Pertama 2005

[8] Al Hanbali, Ibnu Qudamah, al Mughni, Beirut: Dar al Fikr

Muhammad Syahrur, Op.cit.,

[9] Ad-Dumaiji, Al-Imamah Al-‘Uzhma ‘Inda Ahl As-Sunnah wa Al-Jama’ah

[10] At-Tafkir Wa-Muharatu Tafkir.Aziz Muhammad Abu Khalaf

[11] Al-Mawardi, al-Ahkâm al-Sulthaniyyah,

[13] Ibnu Hazm, al-Muhalla, Maktabah al-Jadidah, Beirut,

[13] Ibnu ‘Arabi, Ahkâm al-Qur’an,

[14] Imam Qurthubi, al-Jâmi’ li ahkam  al-Qur’an

[15]Ibrahim Abdul Hamid, Nidhâm al-Qadhâ’ fi al-Islâm, t. Penerbit, t.t,

[16] Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid wa nihâtul Muqtashid,

[17] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathu al-Bary syarh Sahil al-Bukhari, Maktabah Salafiyya, t.t,

[18] Ibnu Hazm, al-Muhalla, Maktabah al-Jadidah, Beirut,

[24] Muhammad Ra’fit Usman, op. cit.,

[25] Al-Kamal bin Al-Hamam, Syarh FathulQadîr, Dar al_fikr, Beirut,

[26]Ibnu Hazm, op. cit., juz IX,

[27]Imam al-Baji, Al-Muntaqa Syarh Muwattha` al-Imam Malik,

[28]Dr. Abdul Hamid, Nizhâm al-Qadhâ` fî al-Islâm,

[29]Muhammad Syahrur, op.cit.,

 

BIOGRAFI SINGKAT PENULIS

 

H.TB.A.Khudori Yusuf.Lc,lahir diserang 12 juli 1975,pengasuh dan pendiri Pondok Pesantren Jami’atul Ikhwan,Malanggah Tunjung Teja-Serang-Banten.Anggota NU kabupaten serang dan ketua forum Pondok Pesantren Salafiyah Propinsi Banten.Jenjang pendidikan formal dan non formal, di antaranya: Pondok Pesantren Himmatul Aliyah Serang (1992), Pondok Pesantren Bani Ali pejaten (1993) Pondok Pesantren Al-Wardayani Sukabumi ( 1995) Islamic Universty of Madinah (IUM) (2000) , Ma’had Aly Makkah (Tafsir dan Hadits) (2003), “Ngaji face to face” (Tallaqqi Bi al-Musyafahah) untuk mendapatkan sanad beberapa disiplin ilmu kepada beberapa Kiyai dan Haba-ib di wilayah Jawa Barat, Banten, dan khususnya di Mekah al MukaromahKhadim pada Syabab Ahlussunnah Wal Jama’ah (Syahamah) Banten, sebuah organisasi yang aktif membela aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah. Selain sebagai  pengajar di beberapa Pondok Pesantren dan memimpin beberapa Majalis ‘Ilmiyyah di wilayah  Banten dan sekitarnya.Ijazah sanad (mata rantai) keilmuan yang telah didapat di antaranya; dalam seluruh karya Syekh Nawawi al-Bantani dari KH. Muhammad Arja , KH.Abbas Ali ( Pejaten ) KH. Arsyudin(Bogor)dari Syekh Nawawi Banten. Syaikh KH .Muhammad Dimyati (Cidahu) sanad dari Syaikh Abu Hasan Syadzili (Pendiri Thariqoh Syadziliyyah).Kemudian dalam seluruh disiplin ilmu Islam; mendapatkan Ijazah ‘Ammah dari Syaikh Sayyid Alwi Al-Maliki Mekkah.KH.M.Ruyani  dari Syaikh Yasin Al-Padani Mekkah.KH. Abdul Majid dari Syaikh Abdul Mutholib Mekkah dan Syaikh Al-Imam At-Taqruni. Serta sanad ke Ilmuan lainnya dari Al-Alamah Syaikh Abdullah Al-Harori Al-Habsy. Dan sekarang penulis tengah menyelesaaikan Buku Masa’ilul Bid’ah ( Kupas Tuntas Masah Bid’ah menurut Ahlussunnah Wal Jama’ah) sebagai studi kritis dan bantahan terhadap tokoh  ulama wahabi diantaranya Syaikh Ustaimin,Syaikh Abdul Aziz bin Baz.Syaikh Doktor Fauzan.Nashirudin Al-Bani.


[1] Ibnu Hajar al-Asqalani, Sahih Bukhari, Dar al-Fajalah juz IX, t.t, hal. 55,

2 Masa-masa peperangan yang terjadi antara Ali bin Abi Thalib dan yang  berbeda dengannya yaitu Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awam dan orang-orang yang bersamanya.

[3] رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُول : لَنْ يُفْلِح قَوْم تَمْلِكهُمْ اِمْرَأَة . و في رواية أخرى

قَوْله ( لَنْ يُفْلِح قَوْم وَلَّوْا أَمْرهمْ اِمْرَأَة ) فِي رِوَايَة حُمَيْدٍ ” لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ اِسْتَخْلَفُوا ؟ قَالُوا : اِبْنَته “

 

[4]Muhammad Syahrur, Op.cit., hal. 625

[5]Ibid., hal. 625

[6]Maksudnya adalah tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya

[7]Maksudnya adalah Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli istrinya dengan baik.

[8]Nusyuz yaitu meninggalkan kewajiban bersuami istri. Nusyuz dari pihak istri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.

[9]Maksudnya adalah untuk memberi pelajaran kepada istri karena pembangkangannya, haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Jika cara pertama berpengaruh janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

[10]QS. Al-Nisâ`: 34

[11]Muhammad Ra’fit Usman, Buhûts al-Fiqh al-Islâmiy al-Muqarin. Maktabah Al-Azhar.Kairo.2006, hal. 128

[12] Maksudnya adalah nabi Muhammad Saw. dilarang oleh Allah menirukan bacaan Jibril As. kalimat demi kalimat, sebelum Jibril As. selesai membacakannya, agar Nabi Muhammad Saw. dapat menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan.

[13] QS. Thâhâ: 114

[14] QS. Al-Nisâ`: 34

[15] Ibnu ‘Arabi, Ahkâm al-Qur’an, juz I, hal 415. Dituturkan juga oleh Imam  Qurthubi, al-Jâmi’ li ahkam  al-Qur’an dengan riwayat lain.

[16] Muhammad Ra’fit Usman, op. Cit., hal. 129

[17] Ibrahim Abdul Hamid, Nidhâm al-Qadhâ’ fi al-Islâm, t. Penerbit, t.t, hal. 32

[18] Jamaluddin Mahmud, Huqûq al-Mar’ah fî al-Mujtama’ al-Islâmiy wa al-Tasyrî’ al-Mishriy. Al-Majlis al-A’la lisyu`un al-Islamiyyah.Kairo.2006, hal. 52

[19] Yang dimaksud parleman adalah sebuah tata aturan yang mana seorang pemimpin negara hanya menjadi simbol kepemimpinan. Artinya, sang pemimpin tidak secara langsung memimpin dalam tatanan realitasnya. Adapun tugas-tugas kenegaraan diambil alih secara penuh oleh parlemen-parlemen yang ada, seperti tugas-tugas yang diberikan kepada badan kementrian. Maka dari itu, sebagai hak balik, badan yang terbentuk dalam parlemen mempunyai hak penuh  untuk menarik kekuatan yang ada di dalam instansi pemerintahan. Berbeda dengan pemimpin  negara yang disebut sebagai “raja” atau “amîr” yang mana tidak mempunyai aturan formal, maksudnya, semua tugas-tugas dalam permerintahan berada dikedua tangannya.

[20] Jamaluddin Mahmud, op. cit., hal. 52

[21] Muhammad Syahrur, op.cit., hal. 626

[22] Yaitu ratu Balqis yang memerintah kerajaan Sabaiyah di zaman nabi Sulaiman.

[23] QS. Al-Naml: 23- 24

[24] QS. Al-Naml: 32-34

[25] Dari Abi Bakrah Ra. berkata: semoga Allah memberi manfaat kepadaku dari kalimat yang saya dengar dari Rasulullah Saw. pada hari Jamal, setelah saya bersusah payah menyusul ashâbul jamal untuk berperang bersama mereka, sahabat berkata: ketika Rasulullah Saw. datang, penduduk Persi dipimpin oleh anak wanita Kisra. Rasulullah Saw. berkata “Tidak akan berhasil suatu kaum jika kaum itu dipimpin seorang wanita”.

[26]Muhammad Ra’fit Usman, opcit, hal. 100

[27]Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathu al-Bary syarh Sahil al-Bukhari, Maktabah Salafiyya, t.t, juz 13, hal. 146. Bandingkan dengan Al-Mawardi, al-Ahkâm al-Sulthaniyyah, Maktabah Salafiyyah, Kairo, hal 72. Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid wa nihâtul Muqtashid, juz II, hal. 564. Bandingkan pula dengan: Ibnu Hazm, al-Muhalla, Maktabah al-Jadidah, Beirut, juz IX, hal. 429. Tapi semua pendapat yang ada dinafikan, karena bagi mereka yang tidak setuju dengan kepemimpinan wanita mengatakan, bahwa semua pendapat yang ada tidak berasal dari Madzhab Hanfi tapi, mereka memberi penafsiran lain terhadap pendapat madzhab Hanafi.

[28] Muhammad Ra’fit Usman, op. cit., hal. 100

[29] Al-Kamal bin Al-Hamam, Syarh FathulQadîr, Dar al_fikr, Beirut, juz. 7, hal. 253

[30] Ibnu Hazm, op. cit., juz IX,  hal. 395

[31]Tapi Ibnu Urfah berkata, bahwa Ibnu Zarqun berkata “saya menyangka bahwa diperbolehkannya wanita memimpin dalam qadha` khusus pada hal-hal yang diperbolehkannya ia menjadi saksi. Tapi pendapat ini dibantah oleh Ibnu Abdu al-Salam, bahwa ucapan Ibnu Qasim tidak butuh penjelasan lagi, seperti halnya yang dikatakan oleh Hasan Basri dan Ibnu Jarir al-Thabari yang menyatakan diperbolehkannya wanita menjadi hakim secara mutlak. (Lihat: Muhammad Ra’fit Usman, op.cit., hal 120). Sudah dikatakan di depan, bahwa permasalahan ini terdapat perbedaan pendapat antara para ulama. Mereka mempunyai pertimbangan masing-masing demi mencapai kemaslahatan. Maka yang menjadi titik poin dan catatan adalah mampukah mereka mengemban tugas yang ada? Jika mereka para wanita ataupun laki-laki mampu mengemban dan melaksanakan tugas yang ada, kenapa harus tolak? Adapun hadits atau al-Qur’an yang mempunyai tafsiran pengharaman perlu di kritisi kembali. Karena dalam hal ini harus dibedakan antara tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an. Antara pemahaman hadits dengan hadits itu sendiri. Karena terkadang para penafsir teks telah terkontamenasi dengan kondisi budaya yang ada, sehingga mereka terpengaruh dengan lingkungan mereka.

[32]Imam al-Baji, Al-Muntaqa Syarh Muwattha` al-Imam Malik, juz. V, hal. 182

[33]Dr. Abdul Hamid, Nizhâm al-Qadhâ` fî al-Islâm, hal. 31-32

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: