Iddah (Masa Tunggu) Bagi Wanita Karier


Diskripsi masalah

Lapangan pekerjaan, baik di kota maupun di desa hampir seluruhnya diduduki kaum perempuan, baik di perkantoran, pertokoan, pabrik-pabrik, tentara maupun lainnya, sehingga timbul berbagai masalah hukum, di antaranya adalah pelaksanaan iddah bagi kaum perempuan pekerja atau wanita karier .

 

Pertanyaan:

a. Bolehkah orang perempuan yang mengalami iddah tetap bekerja agar tidak kehilangan pekerjaannya (tidak di PHK)?

b. Bila tidak boleh, bagaimana solusinya?

Jawaban  a:

Ditafsil:

1. Jika mu’taddah (perempuan yang ‘iddah) itu bukan perempuan yang sedang menjalani iddah roj’i (tertalak satu/dua) atau iddah ba’in (talak tiga) hamil maka boleh bekerja mengingat ada kekhawatiran PHK

2. Jika mu’taddah (perempuan yang iddah) itu perempuan yang sedang menjalani iddah roj’i atau iddah ba’in hamil maka tidak boleh bekerja kecuali atas izin mantan suami atau darurat.

Keterangan kitab

بجيرمي على الخطيب جزء 4 ص 61 | الإقناع للشربيني ج: 2 ص: 473

حاشية البجيرمي على الخطيب – (ج 11 / ص 284)

قَوْلَهُ : ( إلَّا لِحَاجَةٍ ) أَيْ فَيَجُوزُ لَهَا الْخُرُوجُ فِي عِدَّةِ وَفَاةٍ وَعِدَّةِ وَطْءِ شُبْهَةٍ وَنِكَاحٍ فَاسِدٍ وَكَذَا بَائِنٌ وَمَفْسُوخٌ نِكَاحُهَا وَضَابِطُ ذَلِكَ كُلُّ مُعْتَدَّةِ لَا تَجِبُ نَفَقَتُهَا وَلَمْ يَكُنْ لَهَا مَنْ يَقْضِيهَا حَاجَتَهَا لَهَا الْخُرُوجُ فِي النَّهَارِ لِشِرَاءِ طَعَامٍ وَقُطْنٍ وَكَتَّانٍ وَبَيْعِ غَزْلٍ وَنَحْوِهِ لِلْحَاجَةِ إلَى ذَلِكَ ، أَمَّا مَنْ وَجَبَتْ نَفَقَتُهَا مِنْ رَجْعِيَّةٍ أَوْ بَائِنٍ حَامِلٍ أَوْ مُسْتَبْرَأَةٍ فَلَا تَخْرُجُ إلَّا بِإِذْنٍ أَوْ ضَرُورَةٍ كَالزَّوْجَةِ ، لِأَنَّهُنَّ مُكَفَّيَاتٌ بِنَفَقَةِ أَزْوَاجِهِنَّ وَكَذَا لَهَا الْخُرُوجُ لِذَلِكَ لَيْلًا إنْ لَمْ يُمْكِنْهَا نَهَارًا وَكَذَا إلَى دَارِ جَارَتِهَا لِغَزْلٍ وَحَدِيثٍ وَنَحْوِهِمَا لِلتَّأَنُّسِ لَكِنْ بِشَرْطِ أَنْ تَرْجِعَ وَتَبِيتَ فِي بَيْتِهَا . تَنْبِيهٌ : اقْتَصَرَ الْمُصَنِّفُ عَلَى الْحَاجَةِ إعْلَامًا بِجَوَازِهِ لِلضَّرُورَةِ مِنْ بَابِ أَوْلَى كَأَنْ خَافَتْ عَلَى نَفْسِهَا تَلَفًا أَوْ فَاحِشَةً أَوْ خَافَتْ عَلَى مَالِهَا أَوْ وَلَدِهَا مِنْ هَدْمٍ أَوْ غَرَقٍ . فَيَجُوزُ لَهَا الِانْتِقَالُ لِلضَّرُورَةِ الدَّاعِيَةِ إلَى ذَلِكَ ، وَعُلِمَ مِنْ كَلَامِهِ كَغَيْرِهِ تَحْرِيمُ خُرُوجِهَا لِغَيْرِ حَاجَةٍ وَهُوَ كَذَلِكَ ، كَخُرُوجِهَا لِزِيَارَةٍ وَعِيَادَةٍ وَاسْتِنْمَاءِ مَالِ تِجَارَةٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ .

 

“(Tidak boleh keluar rumah kecuali ada keperluan atau hajat), maka bagi wanita yang dalam masa iddah karena ditinggal mati suaminya, iddah bersetubuh karena syubhat, iddah dari nikah yang fasid, iddah dalam talak ba’in, maupun wanita yang pernikahannya dibatalkan (faskh), mereka ini diperbolehkan untuk keluar rumah karena adanya hajat. Kriterianya adalah setiap wanita dalam masa iddah yang tidak wajib dinafkahi dan tak ada yang bisa memenuhi kebutuhannya (secara finansial), maka wanita ini diperbolehkan keluar rumah di siang hari untuk membeli sandang-pangan dll, karena faktor hajat. Adapun wanita yang wajib dinafkahi, yakni wanita yang dalam talak raj’i, dalam talak bain yang sedang hamil, dan wanita yang sedang menjalani sterilisasi kandungan (istbra’) maka ia tidak boleh keluar rumah kecuali mendapat izin (dari orang yang menanggung nafkahnya, mantan suami) atau ada faktor darurat, seperti para wanita yang telah tercukupi nafkahnya dari para (mantan) suaminya. Perempuan yang iddah sebaiknya mengajukan cuti terlebih dahulu atau menggantikan pekerjannya pada orang lain. Keterangan kitab Seperti halnya di siang hari, wanita tersebut juga boleh keluar rumah di malam hari, karena adanya keperluan yang tidak dapat dijalankan di siang hari, atau ke rumah tetangganya untuk menenun, mengobrol, ramah tamah dll, dengan syarat wanita itu harus kembali dan menginap di rumahnya sendiri. (Penjelasan) Mushannif (Khotib Syirbini) yang hanya menyantumkan kata ‘hajat’, merupakan bentuk pemberitahuan bahwa kalau ia boleh keluar rumah hanya karena unsur hajat, maka kalau ada unsur darurat tentu lebih diperbolehkan lagi, seperti ia takut pada petaka yang menimpanya, perbuatan buruk orang lain, takut akan harta dan anaknya dari bencana robohnya rumah atau banjir, karena alasan darurat inilah wanita ini diperkenankan untuk pindah. Bisa diketahui pula dari pernyataan Musannif di atas akan haramnya wanita dalam masa iddah untuk keluar rumah tanpa unsur hajat, dan memang demikianlah yang benar, seperti keluar untuk berziarah, menjenguk orang sakit, mengembangkan bisnisnya dll”.

Jawaban b:

Perempuan yang iddah sebaiknya mengajukan cuti terlebih dahulu atau menggantikan pekerjannya pada orang lain. Keterangan kitab sama dengan sub a.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: