Berpasangan Adalah Fitrah


BERPASANGAN ADALAH FITRAH

Oleh:H.A.Khudori Yusuf.Lc

Mendambakan pasangan  merupakan  fitrah  sebelum  dewasa,  dan dorongan yang sulit dibendung setelah dewasa. Oleh karena itu, agama  mensyariatkan  dijalinnya  pertemuan  antara  pria   dan wanita,   dan  kemudian  mengarahkan  pertemuan  itu   sehingga terlaksananya “perkawinan”, dan beralihlah kerisauan pria  dan wanita   menjadi   ketenteraman  atau  sakinah  dalam   istilah Al-Quran surat Ar-Rum (30): 21.  Sakinah  terambil  dari  akar kata   sakana  yang  berarti  diam/tenangnya  sesuatu   setelah bergejolak.  Itulah  sebabnya  mengapa  pisau  dinamai   sikkin karena ia adalah alat yang menjadikan binatang yang disembelih tenang, tidak bergerak, setelah tadinya  ia  meronta.  Sakinah–karena  perkawinan–  adalah  ketenangan  yang  dinamis   dan aktif, tidak seperti kematian binatang.Guna tujuan tersebut Al-Quran antara lain menekankan  perlunya kesiapan  fisik,  mental, dan ekonomi bagi yang ingin menikah. Walaupun para wali diminta untuk tidak menjadikan kelemahan di bidang  ekonomi sebagai alasan menolak peminang: “Kalau mereka (calon-calon  menantu)  miskin,  maka  Allah  akan   menjadikan
mereka  kaya  (berkecukupan)  berkat  anugerah-Nya” (QS An-Nur [24]: 31). Yang tidak memiliki  kemampuan  ekonomi  dianjurkan untuk  menahan  diri  dan  memelihara  kesuciannya  “Hendaklah mereka yang belum mampu (kawin)  menahan  diri,  hingga  Allah menganugerahkan mereka kemampuan” (QS An-Nur [24]: 33)

Di  sisi  lain  perlu  juga  dicatat,  bahwa walaupun Al-Quran menegaskan bahwa berpasangan atau  kawin  merupakan  ketetapan Ilahi  bagi  makhluk-Nya,  dan walaupun Rasul menegaskan bahwa“nikah adalah sunnahnya”, tetapi dalam saat yang sama Al-Quran dan   Sunnah   menetapkan   ketentuan-ketentuan    yang   harus diindahkan –lebih-lebih  karena  masyarakat  yang  ditemuinya melakukan  praktik-praktik yang amat berbahaya serta melanggar nilai-nilai  kemanusiaan,  seperti  misalnya  mewarisi  secara paksa  istri  mendiang  ayah (ibu tiri) (QS Al-Nisa’ [4]: 19).

Bahkan menurut Al-Qurthubi  ketika  larangan  di  atas  turun, masih  ada  yang  mengawini  mereka  atas dasar suka sama suka sampai dengan turunnya surat  Al-Nisa’  [4]:  22  yang   secara tegas menyatakan. Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayahmu tetapi apa yang telah 1a1u (dimaafkan oleh Allah). Imam  Bukhari  meriwayatkan  melalui istri Nabi, Aisyah, bahwa pada masa Jahiliah, dikenal empat macam  pernikahan.  Pertama, pernikahan  sebagaimana  berlaku kini, dimulai dengan pinangan kepada orang tua atau wali, membayar mahar dan menikah. Kedua,adalah   seorang  suami  yang  memerintahkan  kepada   istrinya apabila telah suci dari haid untuk menikah (berhubungan  seks) dengan  seseorang,  dan  bila  ia telah hamil, maka ia kembali untuk digauli suaminya; ini dilakukan guna mendapat  keturunan yang  baik.  Ketiga,  sekelompok  lelaki  kurang  dari sepuluh
orang, kesemuanya menggauli seorang wanita, dan bila ia  hamil kemudian  melahirkan,  ia  memanggil  seluruh anggota kelompok tersebut –tidak dapat  absen–  kemudian  ia  menunjuk  salah seorang pun yang seorang yang dikehendakinya untuk dinisbahkan kepadanya nama anak itu, dan  yang  bersangkutan  tidak  boleh mengelak.  Keempat,  hubungan  seks yang dilakukan oleh wanita tunasusila, yang memasang bendera atau  tanda  di  pintu-pintu
kediaman  mereka  dan  “bercampur”  dengan siapa pun yang suka kepadanya. Kemudian  Islam  datang  melarang  cara  perkawinan tersebut kecuali cara yang pertama.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: