Hikmah Nikah Bag I


Islam telah menganjurkan kepada manusia untuk menikah. Dan ada banyak hikmah di balik anjuran tersebut. Antara lain adalah :

1. Sunnah Para Nabi dan Rasul

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).(QS. 13:38)

Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa Dia telah mengutus Rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad saw. dan mereka telah dikaruniai istri dan keturunan. Hal ini wajar menunjukkan bahwa kehidupan keluarga dan berketurunan adalah hal yang wajar dan merupakan salah satu dari sunatulllah bagi makhluk-Nya yang hidup di muka bumi ini yang juga berlaku bagi para Nabi dan Rasul-rasul-Nya. Hidup berkeluarga tidak boleh dianggap sebagai penghalang dalam beragama dan dalam perjuangan bagi kemajuan pribadi, masyarakat dan bangsa. Bahkan pernikahan menurut ajaran Islam, selain berfaedah untuk melanjutkan keturunan juga adalah memberikan ketenangan dan ketenteraman serta kestabilan dalam kehidupan yang wajar. Di samping itu pernikahan pun mempererat silaturahim antara keluarga-keluarga yang bersangkutan dan dapat pula menjadi sarana bagi dakwah Islamiah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw.

Oleh karena hidup berkeluarga adalah suatu naluri yang wajar dan merupakan sunatullah, maka manusia tak boleh menantangnya. Oleh sebab itu adalah suatu pandangan yang amat keliru apabila ada pemimpin agama yang mempunyai sikap dan anggapan bahwa mereka harus menjauhi hidup berkeluarga agar tidak menganggu tugas-tugas mereka dalam menjalankan agama. Sikap hidup membujang atau tabattul dan peraturan-peraturan yang melarang pemimpin-pemimpin agama untuk hidup berkeluarga adalah hal-hal yang tidak dikenal dalam agama Islam dan sangat ditentangnya. Perkawinan dan anak merupakan suatu nikmat dan rahmat Allah kepada hamba-Nya. Karenanya perlu dipelihara sebaik-baiknya.

Dalam suatu riwayat disebutkan orang-orang Yahudi mencela Nabi Muhammad saw. karena beliau mempunyai beberapa orang istri. Kata mereka, kalau benar-benar Muhammad adalah Nabi dan Rasul tentulah ia akan menyibukkan diri dengan tugas-tugas kenabiannya saja dan tidak akan mempedulikan wanita. Di samping itu mereka meminta bermacam-macam bukti tentang kenabiannya selain Alquran yang menjadi mukjizat-Nya. Maka Allah swt. telah membantah mereka itu dengan menegaskan bahwa Nabi Muhammad bukanlah Rasul Allah yang pertama melainkan sebelum itu Allah swt. telah mengutus beberapa Rasul dan semuanya adalah manusia yang memerlukan makan dan minum, berkeluarga dan berketurunan serta melakukan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang lainnya, berjalan di pasar dan sebagainya. Dalam hal ini Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk menegaskan:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ

Artinya: Sesungguhnya aku ini hanya manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku. (Q.S. Al-Kahfi: 110)

Kemudian dalam ayat yang sedang dibacakan ini ditegaskan tentang kewajaran dan kebolehan para Rasul itu hidup berkeluarga dan berketurunan. Allah menegaskan bahwa Dia mengaruniai mereka istri dan keturunan. Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:

وأما أنا فأصوم وأفطر وأقوم وأنام وآكل اللحم وأتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس مني

Artinya: Adapun aku, aku berpuasa dan berbuka, aku bersalat di waktu malam juga tidur, aku juga makan daging dan juga menikahi wanita; maka siapa yang tidak suka kepada sunahku tiadalah ia termasuk umatku. (H.R. Bukhari)

2. Bagian Dari Tanda Kekuasan

Allah Firman Allah:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.(QS. 30:21)

Manusia mengetahui bahwa mereka mempunyai perasaan-perasaan tertentu terhadap jenis yang lain. Perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran itu ditimbulkan oleh daya tarik yang ada pada masing-masing mereka, yang menjadikan yang satu tertarik kepada yang lain, sehingga antara kedua jenis pria dan wanita itu terjalin hubungan yang wajar. Mereka melangkah maju dan bergiat agar perasaan-perasaan itu dan kecenderungan-kecenderungan antara laki-laki dan wanita itu tercapai. Puncak dari semuanya itu ialah terjadinya perkaw nan antara laki-laki dan perempuan itu. Dalam keadaan demikian bagi laki-laki hanya istrinya itulah wanita yang paling cantik dan baik, sedang bagi wanita itu, hanya suaminyalah laki-laki yang menarik hatinya. Masing-masing mereka merasa tenteram hatinya dengan ada pihak yang lain itu. Semuanya ini merupakan modal yang paling berharga dalam membina rumah tangga bahagia. Kemudian dengan adanya rumah tangga yang berbahagia jiwa dan pikiran menjadi tenteram, tubuh dan hati mereka menjadi tenang serta kehidupan dan penghidupan menjadi mantap, kegairahan hidup akan timbul, dan ketenteraman bagi laki-laki dan wanita secara menyeluruh akan tercapai. Khusus mengenai kata-kata “mawaddah” (rasa kasih) dan “rahmah” (sayang), Mujahid dan Ikrimah berpendapat bahwa yang pertama adalah sebagai ganti dari kata “nikah” (bersetubuh, bersenggama) dan yang kedua sebagai kata ganti “anak”. Jadi menurut Mujahid dan Ikrimah, maksud perkataan Tuhan: “Bahwa Dia menjadikan antara suami dan istri rasa kasih sayang ialah adanya perkawinan sebagai yang disyariatkan Tuhan antara seorang laki-laki dengan seorang wanita dari jenisnya sendiri, yaitu jenis manusia, akan terjadilah persenggamaan yang menyebabkan adanya anak-anak dan keturunan. Persenggamaan adalah merupakan suatu keharusan dalam kehidupan manusia, sebegaimana adanya anak-anak adalah merupakan suatu keharusan yang umum pula. Ada yang berpendapat bahwa: “mawaddah” bagi anak muda, dan “rahmah” bagi orang tua. Sehubungan dengan mawaddah itu Allah mengutuk kaum Lut yang melampiaskan nafsunya dengan melakukan homosex, dan meninggalkan istri-istri mereka yang seharusnya kepada istri-istri itulah mereka melimpahkan rasa kasih sayang dan dengan merekalah seharusnya bersenggama. Allah SWT berfirman:

وتذرون ما خلق لكم ربكم من أزواجكم

Artinya: Dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu. (Q.S. Asy syu’ara: 166)

Dalam ayat ini Allah memberi tahukan kepada kaum laki-laki bahwa “tempat tertentu” itu ada pada perempuan dijadikan untuk laki-laki. Dalam hadis diterangkan bahwa para istri wajib melayani ajakan suaminya, kapan saja dikehendaki oleh sang suami. Jika ia menolak ajakan itu sedang dia dalam keadaan tidak terlarang, ia termasuk orang yang zalim dan berdosa besar. Nabi saw bersabda:

والذي نفسي بيده ما من رجل يدعو امرأته إلى فراشها فتأبى عليه إلا كان الذي في السماء ساخط عليها حتى يرضى عنها. وفي لفظ آخر: إذا باتت المرأة هاجر فراش زوجها لعنتها الملائكة حتى تصبح .

Artinya: Demi Tuhan yang jiwaku berada di kekuasaan-Nya, tidak ada seseorang lelakipun yang mengajak istrinya untuk bercampur, tetapi ia (istri) enggan, kecuali yang ada di langit akan marah kepada istri itu, sampai suaminya rida kepadanya”. Dalam lafal yang lain, hadis ini berbunyi: “Apabila istri tidur meninggalkan ranjang suaminya maka malaikat-malaikat akan melaknatinya hingga ia bangun di pagi hari”. (H.R. Muslim dari Abu Hurairah)

Dalam ayat-ayat yang lain Allah SWT menetapkan ketentuan-ketentuan hidup suami istri, untuk mencapai kebahagiaan hidup dan agar ketenteraman jiwa serta kerukunan hidup berumah tangga tercapai. Apabila hal itu belum tercapai, maka mereka semestinya mengadakan introspeksi terhadap diri mereka sendiri, meneliti apa yang belum dapat mereka lakukan serta kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat, kemudian menetapkan cara yang paling baik sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah, sehingga tujuan perkawinan yang diharapkan itu tercapai, yaitu ketenangan, saling mencintai dan kasih sayang. Demikianlah agungnya perkawinan itu, dan rasa kasih sayang ditimbulkannya, sehingga ayat ini ditutup dengan menyatakan bahwa semuanya itu terdapat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT bagi orang-orang yang mau menggunakan pikirannya. Tetapi sayang, sedikit sekali manusia yang mau mengingat kekuasaan Allah yang menciptakan istri-istri bagi mereka dari jenis-jenis mereka sendiri (jenis manusia) dan menanamkan rasa cinta dan kasih sayang dalam jiwa mereka.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: