FADHILAH SURAT WAQIAH

FADHILAH SURAT WAQIAH

Surat Al Waqiah (سورة الواقعة) adalah salah satu surat yang penuh dengan fadhilah dan keberkahan. Surah Al-Waqi’ah adalah surah yang ke-56 dalam Al-Quran, terletak pada juz ke 27 dan terdiri dari 96 ayat. Surat yang diturunkan setelah Surah Taahaa ini dinamakan dengan Al-Waaqi’ah (Hari Kiamat), diambil dari perkataan Al-Waaqi’ah yang terdapat pada ayat pertama. Surat ini banyak menceritakan tentang perihal hari kiamat dan bagaimana nanti pembagian umat di hari tersebut. Akan tetapi surat ini banyak memiliki fadhilah terutama dalam hal rezeki. Surat Al-Waqi’ah adalah salah satu yang dikenal sebagai surat penuh berkah. Keberkahannya mampu melenyapkan kemiskinan dan mendatangkan rejeki bagi siapa saja yang membacanya dengan rutin.

Dalam membaca dan mengamalkan Surat al- Waqi’ah, Sebenarnya cukuplah bagi kita meyakini bahwa surat al-waqiah adalah bagian dari al-Quran yang didalamnya terdapat syifa (kesembuhan) dan Rahmat Allah.

Namun untuk lebih memotivasi kepada orang yang mengamalkan Surat al- Waqi’ah, maka saya kemukakan disini tentang beberapa keutamaan mengamalkan bacaan surat waqiah dalam konteks Fadhailul A’maal.

  1. Surat Pesugihan

روي عن أنس بن مالك, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: علموا نساءكم سورة { الواقعة } ، فإنها سورة الغنى

Dari Anas bin malik RA, Rasulullah SAW bersabda: Ajarilah isteri-isteri kalian surat waqiah, karena ia adalah suratul ghina (surat kekayaan/pesugihan)

Dalam riwayat lain dari ad-Dailamiy dari Anas bahwa Rasulullah saw bersabda:”Surat al-Waqi’ah adalah surat kekayaan maka bacalah dan ajarkanlah ia kepada anak-anakmu.”

  1. Terhindar dari Golongan Ghofilin ‘

Ubay bin Ka’b berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:

من قرأ سورة الواقعة لم يكتب من الغافلين

“Barangsiapa yang membaca surat Al-Wâqi’ah, ia akan dicatat tidak tergolong pada orang-orang yang lalai.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/203).

  1. Terhindar dari kemeralatan

Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:

من قرأ سورة الواقعة كل ليلة لم تصبه فاقة ابدا

“Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah, ia tidak akan tertimpa oleh kefakiran selamanya.” .” (HR Imam Baihaqi).

  1. Surat Mahabbah

Imam Ja’far Ash-Shadiq berkata:

 من قرأ في كل ليلة جمعة ” الواقعة ” أحبه الله وحببه إلى الناس أجمعين، ولم ير في الدنيا بؤسا أبدا ولا فقرا ولا فاقة ولا آفة من آفات الدنيا

“Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah pada malam Jum’at, ia akan dicintai oleh Allah, dicintai oleh manusia, tidak melihat kesengsaraan, kefakiran, kebutuhan, dan penyakit dunia (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/203).

  1. Bukti Merindukan Surga

Imam Ja’far Ash-Shadiq berkata:

من اشتاق إلى الجنة والى صفتها فليقرء الواقعة ومن احب أن ينظر إلى صفة النار فليقرأ سجدة لقمن

“Barangsiapa yang merindukan surga dan sifatnya, maka bacalah surat Al-Waqi’ah; dan barangsiapa yang ingin melihat sifat neraka, maka bacalah surat As-Sajadah.” (Tsawabul A’mal, hal 117).

  1. Wajah Bersinar

Imam Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abu Thalib berkata:

من قرء الواقعة كل ليلة قبل ان ينام لقى الله عزوجل ووجهه كالقمر ليلة البدر

“Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah sebelum tidur, ia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan wajahnya seperti bulan purnama.” (Tsawabul A’mal, hal 117).

  1. Cahaya Orang beriman

Dari Ibnu Abbas berkata : Abu Bakar berkata,”Wahai Rasulullah saw tampak dirimu telah beruban.” Beliau bersabda,”Yang (membuatku) beruban adalah surat Huud, al Waqi’ah, al Mursalat, عما يتساءلون (An Naba’, pen) dan إذا الشمس كورت.” (HR Tirmidzi) Maksudnya : Uban itu adalah cahayanya orang yang beriman. Membaca waqiah adalah sebab yang mendatangkan cahaya bagi seorang mukmin.

  1. Surat Warisan

Dari Abu Zhobiyah berkata ketika Abdullah bin Mas’ud  menderita sakit, ia dijenguk oleh Utsman bin‘Affan dan bertanya, ”Apa yang kau rasakan? ” Abdullah berkata, ”Dosa-dosaku. ”Utsman bertanya, ”Apa yang engkau inginkan? ”Abdullah menjawab, ”Rahmat Tuhanku.” Utsman berkata, ”Apakah aku datangkan dokter untukmu.” Abdullah menjawab, ”Dokter membuatku sakit. ”Utsman berkata, ”Apakah aku datangkan kepadamu pemberian? ”Abdullah menjawab, ”Aku tidak membutuhkannya.” Utsman berkata, ”(Mungkin) untuk putri-putrimu sepeningalmu.” Abdullah menjawab,

أتخشى على بناتي الفقر؟ إني أمرت بناتي يقرأن كل ليلة سورة الواقعة ، وإني سمعت رسول الله (ص) يقول : “من قرأ سورة الواقعة كل ليلة لم تصبه فاقة أبدا

”Apakah engkau mengkhawatirkan kemiskinan menimpa putri-putriku? Sesungguhnya aku telah memerintahkan putri-putriku membaca surat al- Waqi’ah setiap malam. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang membaca surat al- Waqi’ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya.”Dan Abu Zhobiyah pun tidak pernah meninggalkan dari membaca surat waqiah.

Dengan melihat kedudukan surat Al-Waqiah yang sedemikian besar khasiatnya untuk mendatangkan rejeki bagi kita, marilah mulai sekarang membacanya secara rutin setiap hari atau setiap malam. Karena memang surat itu penuh berkah dan mengundang kekayaan serta mengusir kemiskinan bagi siapa saja yang mau secara rutin membacanya.

AMALIYAH WAQIAH

Dalam membaca surat waqiah yang dijadikan sebagai amalan / amaliyah / wirid dengan tatacara tertentu maka seyogyanya haruslah memiliki ijazah, karena tanpa ijazah maka suatu amalan tidak mendatangkan asrar/khasiat yang sempurna. Maka Jika anda ingin mengamalkan surat waqiah datanglah langsung kepada para masyaikh pengamal surat waqiah.

Berikut ini akan saya sebutkan sebagian contoh tatacara amaliyah Surat Al-Waaqiah seperti yang telah dijelaskan dalam kitab khozinatul Asror, mujarabot ad-Daerabi, Syamsul Ma’rif kubro,Jawahir al-luma’ah dll,  sebagai pengetahuan sebelum anda mengamalkannya.

  1. Barang siapa yg membaca Surat Al Waqi’ah sebanyak 41 kali dalam satu majelis, maka didatangkan hajatnya, terutama urusan rezeki, Barang siapa membaca surat ini sesudah shalat Ashar sebeanyak 14 kali dalam satu majelis, maka didatangkan hajatnya terutama dalam urusan rejeki.
  2. Jika menginginkan datangnya rejeki dari Allah SWT dengan tak terkira-kira datang (min haytsu la yahtasib), maka bacalah surat Al Waqi’ah selama 40 hari berturut-turut tanpa terputus, dan setiap harinya dibaca 40 kali.
  3. “Barangsiapa membaca surah Al-Waqi’ah pada setiap hari dan malam dalam satu majlis sebanyak 40 kali, selama 40 hari pula, maka Allah akan memudahkan rezekinya dengan tanpa kesukaran dan mengalir terus dari pelbagai penjuru serta berkah pula.”
  4. Supaya menjadi orang yang kaya dan bersyukur, amalkan membaca surah ini sebanyak 3 kali selepas sholat subuh dan 3 kali selepas solat Isya’. InsyaAllah tidak akan berlalu masa setahun itu melainkan ia akan di jadikan oleh Allah Swt seorang yang hartawan lagi dermawan.
  5. Supaya dilimpahkan rezeki, Hendaklah berpuasa selama seminggu dimulai hari Jum’at. Setiap ba’da solat fardhu bacalah Surah Al-Waqi’ah ini sebanyak 25 kali sampai pada malam Jumat berikutnya; pada malam Jumat berikutnya itu, setelah solat Maghrib bacalah surah ini sebanyak 25 kali, selepas solat Isya’ bacalah surah ini sebanyak 125 kali diikuti dengan sholawat 1000 kali. Setelah selesai, hendaklah ia memperbanyakkan sedekah. Kemudian amalkanlah surah ini sekali pada waktu pagi dan petang. Insya’Allah berhasil.
  6. Dalam Kitab Jawahir al-luma’ah as-syaikh Abu Hayyillah al-Marzuqi menuliskan. Barang siapa yang membaca surat al-waaqiah setelah sholat subuh 1 kali kemudian membaca Ya Kariim Ya Wadud 1000 kali secara rutin InsyaAllah tidak akan berlalu masa setahun  melainkan ia akan di jadikan seorang yang hartawan lagi dermawan.

CARA MENGAMALKAN SURAT AL WAQIAH

Berikut ini tatacara mengamalkan surat al-Waqi’ah. Sebelum kita mengamalkan surat al waqi’ah terlebih dahulu kita membaca  tawasul seperti dibawah ini:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

لِرِضَاءِ اللهِ وَلِشَفَاعَةِ رَسُوْلِ اللهِ وَبِكَرَمَةِ اَوْلِيَاءِ اللهِ وَبِبَرَكَةِ عُلَمَاءِ اللهِ وَلِمَقَاصِدِناَ وَلِقَضَاءِ حَوَائِجِناَ وَعَلي نِيَةِ الْقَبُوْل وَحُصُوْلِ الْمَأمُوْل وَعَلي نِيَةِ فُتُوْحِ قُلُوْبِنَا  وَعَلي مَنْ نَوي الصَّالِحَ , الْفَاتِحَةُ… اِلي حَضَرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفي سَيِّدِنَا وَشَفِيْعِنَا وَحَبِيْبِنَا وَقُرَّةِ اَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ وَاِخْوَانِهِ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عليه وعَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ ……..اِلي حَضَرَةِ جَمِيْعِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكَرْ وعُمَرْ وَعُثْمَانْ وعَلِى وَطَلْحَةَ وَسَعْدٍ وَسَعِيْدٍ وَعَبْدِ الرَّحْمنِ ابْنِ عَوْفٍ وَابِي عُبَيْدَةَ عَامِرِ ابْنِ الْجَرَّاحِ وَالزُّبَيْرِ ابْنِ الْعَوَّامِ ثُمَّ اِلَى حَضْرَةِ عَبْدِاللهِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ وَبَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ اَجْمَعِيْنَ وَاَزْوَاجِهِمْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَاَهْلِ بَيْتِهِمْ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ … ….اِلي حَضَرَةِ جَمِيْعِ اَرْوَاحِ اْلاَئِمَّةِ اْلاَرْبَعَةِ اْلمُجْتَهِدِيْنَ وَمُقَلِّدِيْهِمْ فِى الدِّيْنِ وَالْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ وَالْفُقَهَاءِ وَالْمُحَدِّثِيْنَ وَالْقُرَّاءِ وَالْمُفَسِّرِيْنَ وَالسَّادَاتِ الصُّوْفِيَّةِ الْمُحَقِّقِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِاِحْسَانٍ اِلي يَوْمِ الدِّيْنِ لَهُمُ الْفَاتِحَة……….اِلي حَضَرَةِ جَمِيْعِ الْعُلَمَاءِ وَاْلاَوْلِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ خُصُوْصًا سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرْ اَلْجَيْلاَنِى وَسَيِّدِ الشَّيْخِ اَبِيْ الْقَاسِمِ الْجُنَيْدِ الْبَغْدَادِيِّ وَالشَّيْخِ اَحْمَدَ الرِّفَاعِيْ والشَّيْخِ اَحْمَدَ الْبَدَوِي وَالشَّيْخِ اَبِيْ الحَسَنِ وَاْلاِمَامِ الْغَزَالِيْ  وَسَائِرِ اْلاَوْلِيَاءِ التِّسْعَةِ اَلَّذِيْنَ بَلَغُوْا الدِّيْنَ بِبُلْدَتِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا هَذِهِ وَاَزْوَاجِهمْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَمَشَايِخِهِمْ وَاَهْلِ بَيْتِهِمْ وَاَحْبَابِهِمْ وَمُرِيْدِهِمْ وَمُحِبِّهِمْ وَاَهلِ سِلْسِلَتِهِمْ وَاْلاخِذِيْنَ مِنْهُمْ  ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ وَمَنْ بَعْدَهُمْ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ إِنَّ اللهَ يُعْلِى دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيُعِيْنُنَا عَلَى ذِكْرِهِ وشُكْرِهِ وَحُسْنِ عِبَادَتِهِ بِبَرَكَاتِهِمْ وَاَسْرارِهِمْ وَأَنَّ اللهَ يُبَلِّغُنَا زِيَارَةَ الْحَرَمَيْنِ بِجَاهِهِم عِنْدَ اللهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ …… ثُمَّ اِلي حَضَرَةِ جَمِيْعِ اَسَاتِذِنَا وَمَشَايِخِنَا وَوَالِدِيْنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَاَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا اِلَى نَبِىِ اللهِ اَدَمَ وَحَوَاءَ وَاِلَى جَمِيْعِ مَنْ اَحْسَنَ اِلَيْنَا وَذَوِى الْحُقُوْقِ الْوَاجِبَةِ عَلَيْنَا إِنَّ اللهَ يَتَغَشَّاهُمْ بِالرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ ……. ثُمَّ اِلي اَرْوَاحِ جَمِيْعِ اَبَائِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَاَزْوَاجِنَا وَاَوْلاَدِنَا وَاِخِوَانِنَا وَاَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَمَشَايِخِنَا وَمَشَايِخَ مَشَايِخِنَا وَجَمِيْعِ اَرْوَاحِ  الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِناتِ  وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ واْلاَمْوَاتِ مِنَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِاْلاِيْمَانِ ثُمَّ اِلي اَرْوَاحِ جَمِيْعِ اَهْلِ قُبُوْرِ مَنْ حَضَرَ فِيْ هَذَا الْمَجْلِيْسِ شَيْئُ لِلّهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ……. اِلي حَضَرَةِ كُلِّ اَحَدٍ مِنْ هَذِهِ الْجَمْعِيِّةِ حَاضِرِيْهِمْ وَغَائِبِيْهِمْ إِنَّ اللهَ يُوَسِّعُ لَهُمُ الرِّزْقَ الْحَلاَلِ وَيُيَسِّرُ لَهُمْ اُمُوْرَ الدُّنْيَا وَاْلاَخِرَةِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ ……. اِلي حَضَرَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وسَيِّدِنَا سُلَيْمَانَ وَسِيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ َعَلَيْهِمَ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ وَإِسْكَنْدَارْ ذِى الْقَرْنَيْنِ إِنَّ اللهَ يُؤْتِيْنَا بِبَرَكَتِهِمْ رِزْقَ اْلاَشْبَاحِ وَاْلاَرْوَاحِ بِلاَ نَصَبٍ وَلاَ ضَيْرٍ وَلاَ تَعَبٍ وَإِنَّ اللهَ يَقْضِى بِبَرَكَتِهِمْ حَاجَاتِنَا وَيُطِيْلُ اَعْمَارَنَا فِى طَاعَةِ اللهِ وَيَخْتِمُ لَنَا بِالسَّعَادَةِ وَحُسْنِ الْخَاتِمَةِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ …

Kemudian membaca surat Al-Waqiah:

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

إِذَا وَقَعَتْ الْوَاقِعَة ؕ  لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ  خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ ؕ  إِذَا رُجَّتْ الأَرْضُ رَجّا ؕ وَبُسَّتْ الْجِبَالُ بَسّا ؕ فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثّاً ؕ وَكُنتُمْ أَزْوَاجاً ثَلاثَةً ؕ فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَة ؕ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ ؕ وَأَصْحَابُ الْمَشْئَمَةِ ؕ مَا أَصْحَابُ الْمَشْئَمَةِ ؕ وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَؕ أُوْلَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ ؕ  فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ ؕ  ثُلَّةٌ مِنْ الأَوَّلِينَ  ؕ وَقَلِيلٌ مِنْ الآخِرِينَ  ؕ  عَلَى سُرُرٍ مَوْضُونَةٍ ؕ مُتَّكِئِينَ عَلَيْهَا مُتَقَابِلِينَ ؕ يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ ؕلايُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلا يُنزِفُونَ ؕ وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ  ؕ  وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ  ؕ   وَحُورٌ عِينٌ كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ ؕ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ؕ   لا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْواً وَلا تَأْثِيماً  ؕ  إِلاَّ قِيلاً سَلاماً سَلاماً  ؕ   وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ ؕ فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ ؕ وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ ؕ وَظِلٍّ مَمْدُود ؕ ٍ وَمَاءٍ مَسْكُوبٍ ؕ وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ ؕ  لا مَقْطُوعَةٍ وَلا مَمْنُوعَةٍ ؕ  وَفُرُشٍ مَرْفُوعَةٍ ؕ إِنَّا أَنشَأْنَاهُنَّ إِنشَاءً ؕ فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَاراً ؕ عُرُباً أَتْرَاباً ؕ  لأَصْحَابِ الْيَمِينِ ؕ ثُلَّةٌ مِنْ الأَوَّلِينَ ؕ وَثُلَّةٌ مِنْ الآخِرِينَ ؕ وَأَصْحَابُ الشِّمَالِ مَا أَصْحَابُ الشِّمَالِؕ فِي سَمُومٍ وَحَمِيمٍ ؕ وَظِلٍّ مِنْ يَحْمُومٍ ؕ  لا بَارِدٍ وَلا كَرِيمٍ ؕ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُتْرَفِينَ ؕ وَكَانُوا يُصِرُّونَ عَلَى الْحِنثِ الْعَظِيمِ ؕ وَكَانُوا يَقُولُونَ أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَاباً وَعِظَاماً أَئِنَّا لَمَبْعُوثُونَ ؕ أَوْ آبَاؤُنَا الأَوَّلُونَ ؕ قُلْ إِنَّ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ ؕ  لَمَجْمُوعُونَ إِلَى مِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُومٍ ؕ ثُمَّ إِنَّكُمْ أَيُّهَا الضَّالُّونَ الْمُكَذِّبُونَ ؕ لآكِلُونَ مِنْ شَجَرٍ مِنْ زَقُّومٍ ؕ فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَؕ فَشَارِبُونَ عَلَيْهِ مِنْ الْحَمِيم ؕ فَشَارِبُونَ شُرْبَ الْهِيمِ ؕ هَذَا نُزُلُهُمْ يَوْمَ الدِّينِ ؕ  نَحْنُ خَلَقْنَاكُمْ فَلَوْلا تُصَدِّقُونَ ؕ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تُمْنُونَ ؕ أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَؕ نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمْ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ ؕ عَلَى أَنْ نُبَدِّلَ أَمْثَالَكُمْ وَنُنْشِئَكُمْ فِي مَا لا تَعْلَمُونَ ؕ وَلَقَدْ عَلِمْتُمْ النَّشْأَةَ الأُولَى فَلَوْلا تَذكَّرُونَ ؕ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونؕأَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ ؕ لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَاماً فَظَلَلْتُمْ تَتَفَكَّهُونَ ؕ إِنَّا لَمُغْرَمُونَ بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ ؕ أَفَرَأَيْتُمْ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ ؕ أَأَنْتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنْ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ ؕ لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجاً فَلَوْلا تَشْكُرُونَ ؕ أَفَرَأَيْتُمْ النَّارَ الَّتِي تُورُو ؕ أَأَنْتُمْ أَنشَأْتُمْ شَجَرَتَهَا أَمْ نَحْنُ الْمُنشِئُونَ ؕ نَحْنُ جَعَلْنَاهَا تَذْكِرَةً وَمَتَاعاً لِلْمُقْوِينَ ؕ فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ ؕ فَلا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ؕ وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ ؕ إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ لا يَمَسُّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ ؕ تَنزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ أَفَبِهَذَا الْحَدِيثِ أَنْتُمْ مُدْهِنُونَ ؕ وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ ؕ فَلَوْلا إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ ؕ وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنظُرُونَ ؕ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لا تُبْصِرُونَ ؕ فَلَوْلا إِنْ كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ ؕ تَرْجِعُونَهَا إِنْ كُنتُمْ صَادِقِينَ ؕ  فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ الْمُقَرَّبِينَ ؕ فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ ؕ وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ ؕ فَسَلامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِين ؕ وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ  ؕ  فَنُزُلٌ مِنْ حَمِيمٍ وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ ؕ إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ ؕ

 

DOA WAQIAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً طَيِّبَةً مُبَارَكَةً تُسكِّنُ بِهَا قُلُوْبَنَا مِنْ طَلَبِ الرِّزْقِ وَخَوْفِ الْخَلْقِ صَلَّى اللهُ عَلَيْكَ يَارُوْحَ الْكَوْنَيْنِ عَدَدَ مَا كَانَ وَمَا يَكُوْنُ وَالسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَانُوْرَ حَيَاةِ الدَّرَيْنِ عَدَدَ مَا كَانَ وَمَا يَكُوْنُ اَللّهُمَّ صُنْ وُجُوْهَنَا بِالْيَسَارِ وَلاَ تُهِنَّا بِاْلاِقْتَارِ فَنَسْتَرْزِقَ طَالِبِى رِزْقِكَ وَنَسْتَعْطِفَ شِرَارَ خَلْقِكَ وَنَسْتَغِلَ بِحَمْدِ مَنْ اَعْطَانَا وَنُبْتَلَى بِذَمِّ مَنْ مَنَعَنَا وَاَنْتَ مِنْ وَرَاءِ ذالِكَ كُلِّهِ اَهْلُ الْعَطَاءِ وَالْمَنْعِ اَللّهُمَّ كَمَا صُنْتَ وُجُوْهَنَا عَنِ السُّجُوْدِ اِلاَّ لَكَ فَصُنَّا عَنِ الْحَاجَةِ اِلاَّ اِلَيْكَ .اَللّهُمَّ يَاغَنِيُّ يَاحَمِيْدُ يَامُبْدِئُ يَامُعِيْدُ يَارَحِيْمُ يَاوَدُوْدُ اَغْنِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ الّلهُمَ ارْزُقْنَا رِزْقاً حلالاً طيِّبا واسِعاً مِن غَيرِ كَدَّ،واستَجَب دَعْوتَنا مِن غَيرِ رَدِّ، ونعوذُ بِكَ مِنَ الفَضِيحَتَينِ الفَقْرِ والدَيْنِ، بحَقِّ السَيّدَينِ السَنَدَينِ السِبطَينِ الحَسنِ والحسينِ صلواتُ الله عليهِما وعلى جَدَّهِما وعَلى اَبَويهِما وعلى أولادِهما الطَيِبِينَ الطاهرين ورحمَةُ اللهِ وبَرَكاتُهُ، الّلهُمّ يا رَازِقَ المُقَلِّينَ، ويا رَاحِمَ المَساكِينَ,ويا ذا القُوَّةِ المَتِينِ, ويا غشياثَ الْمستَغِيثينَ، ويا خَيرَ الناصِرين، اِيّاكَ نَعبُدُ واِيّاكَ نَستَعِينُ،الّلهُمَ اِن كانَ رِزْﻘﻨﺎ فِي السَمآءِ فأنْزلهُ, واِن كانَ في الأرض فأخرِجهُ, وان كانَ بَعِيداً فَقَرِّبْهُ، واِن كان قَرِيباً فَيَسِّرْهُ واِن كانَ يَسِيراً فَكَثِّره، وان كان كثِيراً فَخَلِّدهُ، واِن كانَ حَراماً فَحَلِّلهُ, واِن كان حلالاً فَطَيّبهُ, وان كانَ طَيِّبا فباركه لنا برَحمَتك يا ارحَمَ الراحِمِينَ اَللّهُمَّ اجْعَلْ اَيْدِيْنَا عُلْيَا بِاْلاِعْطَاءِ وَلاَتَجْعَلْ اَيْدِيْنَا سُفْلَى بِاْلاِسْتِعْطَاءِ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللّهُمَّ اِنَّا نَشْهَدُ اَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِكَ فَاءْتِنَا اْلاَرْزَاقَ بِسُهُوْلَةٍ بَيْنَ خَلْقِكَ حَتَّى تَشْهَدَ النَّاسَ عَجَائِبَ فَضْلِكَ يَا ذَا الطَّوْلِ الْعَظِيْمِ . اَللّهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْوَاسِعِ وَجُوْدِكَ السَّابِغِ مَا تُغْنِيْنَا بِهِ عَنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَاوَاسِعُ يَاجَوَّادُاَللّهُمَّ وَسِّعْ رِزْقَ كُلِّ اَحَدٍ مِنْ هذِهِ الْجَمْعِيَّةِ حَاضِرِهِمْ وَغَائِبِيْهِمْ وَجَمِيْعِ مَنْ نَصَرَهَا وَعَمَرَهَا بِاَسْرَارِ قِرَأَةِ سُوْرَةِ الْوَاقِعَةِ وَاقْضِ حَوَائِجِهِمْ يَاقَاضِيَ الْحَاجَاتِ يَاوَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ رَبَّنَا أتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. وصلّى اللهُ عَلى خَيْرِ خلقِه محمّدٍ وآلِهِ الطَيِّبِينَ الطاهِرينَ, والحمدُ لله ربِّ العالَمينَ.

Bagi saudara-saudaraku yang berminat untuk izazah pengamalan surat waqiah silahkan datang langsung ke pondok pesantren

IKHLAS BERAMAL

“Ikhlas dalam beramal karena Allah ta’ala merupakan rukun paling mendasar bagi setiap amal salih. Ia merupakan pondasi yang melandasi keabsahan dan diterimanya amal di sisi Allah ta’ala, sebagaimana halnya mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dalam melakukan amal merupakan rukun kedua untuk semua amal salih yang diterima di sisi Allah.”

Al-Imam Ibnu Attaillah dalam kitab Hikam menuliskan sebagai berikut:

الأعمال صور قائمة وأرواحها وجود سر الإخلاص فيها

“Amal-amal yang dhohir itu ibarat gambaran-gambaran yang berdiri, sedangkan ruhnya adalah wujudnya ikhlas di dalamnya”

Di dalam hikmah ini Ibnu ‘Atha’illah mencoba mengulas tentang pentingnya ikhlas. Setelah kita mengetahui bahwa amal-amal yang di gunakan seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT tidak hanya terbatas pada hal-hal yang wajib, melainkan mencakup semua hal yang bisa memberi manfaat dan maslahah kepada individu maupun masyarakat. Dan setelah kita mengerti bahwa Allah membagi amal-amal tersebut kepada para hamba-Nya sesuai dengan kemampuan dan kapasitas mereka, maka Ibnu ‘Atha’illah mengingatkan kita melalui hikmah ini, bahwa untuk mencapai ridla Allah SWT, amal-amal ini di syaratkan harus di lakukan dengan ikhlas tanpa tercampur dengan tujuan-tujuan lain kecuali hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Untuk mengetahui makna hikmah ini kita harus mengerti bahwa setiap ibadah yang dilakukan oleh setiap muslim untuk mencapai ridla Allah SWT itu tersusun dari dua komponen, yaitu amal dan tujuan (Qasdu). Sehingga amal ibadah yang baik dan bermanfaat secara dhahirnya. Akan tetapi tidak ada niat mencari ridla Allah SWT, maka amal tersebut tidak ada harganya. Sedangkan niat yang baik tanpa di wujudkan dengan amal ibadah, maka niat tersebut tidak ada harganya di dalam kebanyakan hal. Ini di karenakan niat yang baik tanpa di wujudkan dengan amal terkadang bisa bernilai ketika seseorang tidak mampu melakukannya. Contohnya adalah orang miskin yang berniat untuk shadaqah, hanya saja dia tidak mampu melakukannya, karena tidak memiliki uang dan harta.

 Dalam Surat Al-Furqan ayat 23 Allah SWT berfirman

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا.

Artinya :Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.(QS.Al-Furqon:23)

Dari ayat di atas, kita bisa mengambil sebuah makna bahwa amal ibadah itu harus di sertai dengan ikhlas. Hal ini di karenakan amal perbuatan orang-orang yang berdosa dan amal ibadah yang di lakukan dengan ikhlas itu di ibaratkan seperti debu yang tertiup oleh angin, atau nama lainnya adalah amal yang sia-sia dan batil.

Banyak sekali gambaran-gambaran yang kita temukan dalam kehidupan masyarakat mengenai amal-amal yang tidak di dasari rasa ikhlas.

Diantaranya adalah seseorang yang bertumpuk hutang. Ketika tiba waktu pelunasan dia melihat orang yang menghutanginya sedang menuju kepadanya dari jauh. Sehingga dia bergegas menuju masjid yang terdekat dan melakukan rantaian shalat sunnah yang banyak. Tidak bisa diragukan lagi bahwa dia melakukan shalat bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, melainkan semata-mata hanya ingin lari dan terbebas dari tagihan hutang.

Contoh lain adalah, seorang pekerja yang tersibukkan oleh tugasnya di perusahaan, ketika mendengar adzan dhuhur dia bergegas meninggalkan pekerjaannya dengan dalih ingin melakukan shalat dhuhur. Lalu dia berwudlu dengan waktu yang lama dan shalat dengan panjang, kemudian dia mengambil tempat bersandar untuk istirahat dan memperbanyak dzikir dan tilawatul Qur’an. Tentunya ibadah-ibadah dengan keadaan ini bukanlah termasuk amal-amal yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena dia melakukan ibadah-ibadah ini tidak lain hanyalah menjauihi tugasnya agar bisa beristirahat.

Salah satu yang bisa menjadi contoh adalah kelompok jamaah haji. Dan mereka sepakat untuk saling membantu dan menjaga kemaslahatan yang kembali pada mereka. Diantara mereka ada seseorang yang ingin lari dari pekerjaan yang memberi maslahat untuk sesama seperti menghidangkan makanan, mencuci piring atau yang lain. Sehingga diapun menyibukkan diri dengan selalu thawaf, shalat, membaca Al-Qur’an dan berdzikir, jelas sekali sesungguhnya ibadah-ibadah ini dilakukan bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, akan tetapi agar bisa terbebas dari pekerjaan-pekerjaan yang dibebankan padanya.

Kesimpulan: Intisari dari keterangan di atas adalah kita harus mengetahui dan tidak boleh lupa bahwa amal-amal shaleh yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya di dalam Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada perkara-perkara yang wajib dan rukun Islam, akan tetapi amal shaleh itu juga mencakup semua hal yang bisa mewujudkan kemaslahatan. Baik kemaslahatan individu maupun kemaslahatan sosial.

Adapun kemaslahatan-kkemaslahatan ini harus di jaga sesuai dengan urutan-urutan yang telah di tetapkan syara’, yaitu di awali dengan mendahulukan kemaslahatan agama (hifdhu diin), kemudian kemaslahatan hidup (hifdhu nafsi), lalu kemaslahatan akal (hifdhu ‘aqli), kemudian kemaslahatan keturunan (hifdhu nasab) dan terakhir adalah kemaslahatan harta (hifdhu mal).

Jadi semua hal-hal tersebut merupakan ibadah-ibadah yang dilakukan seorang muslim untuk mewujudkan makna ubudiyyah kepada Allah SWT.

Dan perlu kita ingat bahwa di dalam ummat Islam pasti akan selalu terdapat segolongan yang benar dan ikhlas didalam beribadah, dan mereka tidak mendapatkan madlarat dari orang-orang yang menentangnya. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW :

لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خالفهم حتى يأتي أمر الله وهم ظاهرون.(متفق عليه)

Artinya : “Di dalam umatku selalu ada golongan yang memperlihatkan kebenaran dan tidak mendapatkan bahaya dari orang-orang yang menentangnya sampai datang hari Qiamat sedangkan mereka dalam kebenaran”.

https://www.facebook.com/notes/a-khudori-yusuf/ikhlas-beramal

Amalan Bulan Rajab

Seperti yang telah kita ketahui bahwa bulan Rajab adalah bulan yang agung. Dia adalah salah satu Bulan yang di Haramkan oleh Allah SWT. Karena keagungannya tersebut maka, sudahlah wajar bagi kaum muslimin untuk mengagungkannya  dengan berbagai cara seperti ber Istighfar atau berpuasa atau berdzikir di bulan ini.

1. Berpuasa
Dalam sebuah Hadist di katakan:

عن عبد العزيز بن سعيد  عن أبيه  قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « من صام يوما من رجب كان كصيام سنة ، ومن صام سبعة أيام غلقت عنه سبعة أبواب جهنم ، ومن صام ثمانية أيام فتحت له ثمانية أبواب الجنة ، ومن صام عشرة أيام لم يسأل الله عز وجل شيئا إلا أعطاه ، ومن صام خمسة عشر يوما ناد منادمن السماء قد غفر لك ما سلف فاستأنف العمل قد بدلت سيئاتك حسنات ، ومن زاد زاده الله »

Artinya: Dari Abdul Aziz bin sa’id dari bapaknya berkata: Rasulullah SAW bersabda: ” barang siapa berpuasa sehari di bulan Rajab, maka seperti berpuasa  selama setahun, barang siapa berpuasa tujuh hari maka akan di tutup untuknya tujuh pintu Neraka, barang siapa berpuasa selama delapan hari maka akan di bukakan untuknya delapan pintu Sorga , barang siapa berpuasa sepuluh hari maka tidak akan meminta kepada Allah SWT sesuatu kecuali Allah SWT akan mengabulkannya, barang siapa berpuasa lima belas Hari maka akan memanggil seorang yang memanggil di langit; bahwa Allah SWT telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu, maka kembalilah beramal, sesungguhnya telah di ganti kejelekanmu dengan kebaikan. Barang siapa bertambah, maka Allah SWT akan menambahnya“.

Jadi berpuasa di Bulan Rajab mempunyai keutama’an yang sangatlah besar, seperti yang telah dijelaskan dalam Hadist tersebut. Maka disunahkan bagi kaum muslimin untuk melakukannya dibulan ini. Baik sehari atau dua hari atau seminggu atau lima belas hari. Kaum muslim di bolehkan untuk memilih. Akan tetapi berpuasa di hari Isra’ mi’raj yakni hari kedua puluh tujuh Rajab lebih dianjurkan, karena disitu Allah menjadikan seakan-akan berpuasa seratus tahun.

Seperti yang telah disebutkan dalam Hadist sebagai berikut:

عن أبي عثمان  عن سلمان الفارسي قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” في رجب يوم وليلة من صام ذلك اليوم وقام تلك الليلة كان كمن صام منالدهر مائة سنة وقام مائة سنة وهو لثلاث بقين من رجب ، وفيه بعث الله محمدا صلى الله عليه وسلم “.

Artinya: Dari Abi Utsman daru Salman Al Farisi berkata: Rasulullah SAW bersabda: ” Di Bulan Rajab Ada sehari semalam barang siapa berpuasa di siang hari tersebut dan mendirikan malam tersebut maka seperti orang yang telah berpuasa selama seratus Tahun, yaitu di Tiga hari terakhir dari bulan Rajab, dan di hari itulah AllahSWT mengutus Nabi Muhammad SAW“.

عن عامر بن شبل ، قال : سمعت أبا قلابة ، يقول : « في الجنة قصر لصوام رجب » .

Artinya: Dari Amir bin Syabil berkata: aku mendengar Abi Qilabah berkata: ” Di Surga terdapat istana untuk orang-orang yang berpuasa Rajab“.

2. Berdzikir.

Dianjurkan bagi kaum muslimin di malam pertama bulan Rajab untuk berdo’a. Karena malam itu do’a akan di kabulkan, sebagai mana di sebuah Hadist disebutkan:

عن ابن عساكر عن أبي أمامة رضي الله عنه : ((خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة : أول ليلة من رجب ، وليلة النصف من الشعبان ، وليلة الجمعة ، وليلة الفطر، وليلة النحر ))

Artinya: “Ada Lima malam dimana do’a-do’a di situ tidak ditolak: malam pertama di bulan Rajab, malam Nisfu Sya’ban, malam jum’at, malam Idul fitri, malam idhul adha“.

As-syeikh Abdul Qadir Al-Jailani menyebutkan di kitab nya yang bernama ” Al-Ghaniyyah” : dianjurkan bagi orang muslim diawal bulan Rajab untuk membaca Do’a berikut ini:

Do’a Malam pertama bulan Rajab

( إلهي تعرض لك في هذه الليلة المتعرضون ، وقصدك القاصدون ، وأمل فضلك ومعروفك الطالبون ؛ ولك في هذه الليلة نفحات وجوائز ، وعطايا ومواهب ، تمن بها على من تشاء من عبادك ، وتمنعها ممن لم تسبق له العناية منك ، وهأنذا عبدك الفقير إليك ، المؤمل فضلك ومعروفك ، فإن كنت  يا مولاي تفضلت في هذه الليلة على أحدمن خلقك ، وجدت عليه بعائدة من عطفك ، فصل على سيدنا محمد وآله وصحبه ، وجد علي بطولك ومعروفك ، يا رب العالمين ).

Do’a Istighfar di Bulan Rajab

Assayyid Hasan bin Abdullah Al-Haddad mengumpulkan do’a yang dinamakan Do’a istighfar Rajab dimana disitu terdapat keutama’an yang banyak.

( بسم الله الرحمن الرحمن الرحيم ، وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم ، أستغفر الله ( ثلاثا) ، وأتوب إلى الله مما يكره الله قولاً وفعلاً وخاطراً ، وباطنا وظاهراً ، أستغفر الله العظيم الذي لاإله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه ، اللهم إني أستغفرك لما قدمت وما أخرت ، وما أسررت وما أعلنت ، وما أنت أعلم به مني ، أنت المقدم وأنت المؤخر ، وأنت على كل شيء قدير ، أستغفر الله ذا الجلال والإكرام ، من جميع الذنوب والآثام أستغفرالله ذنوبي كلها ، سرها وجهرها ، وصغيرها وكبيرها ، وقديمها وجديدها ، وأولها وآخرها ، وظاهرها وباطنها ، وأتوب إليه ، اللهم إني أستغفرك من ذنب تبت إليك ثم عدت فيه ، وأستغفرك لما أردت به وجهك الكريم فخالطها ما ليس لك فيه رضا ، وأستغفرك لما وعدتك به من نفسي ثم أخلفتك فيه ، وأستغفرك لما دعاني إليه الهوى من قبل الرخص مما اشتبه علي وهو عندك حرام ، وأستغفرك يا من لا إله إلا أنت ، يا عالم الغيب والشهادة ، من كل سيئة عملتها ، في بياض النهار وسواد الليل ، في ملإ وخلاء ، وسر وعلانية ، وأنت ناظر علي إذا ارتكبتها ، وأتيت بها من العصيان ، فأتوب إليك يا حليم يا كريم يا رحيم ، وأستغفرك من النعم التي أنعمت بها علي فتقويت بها على معصيتك ، أستغفرك من الذنوب التي لا يعرفها أحد غيرك ، ولا يطلع عليها أحد سواك ، ولا يسعها إلا حلمك ، ولا ينجيني منها إلا عفوك ، وأستغفرك لكل يمين سلفت مني فحنثت فيها وأنا عندك مؤاخذ بها ، وأستغفرك يا من لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين ، ( فاستجبنا له ونجيناه من الغم ، وكذلك ننجي المؤمنين ) ( وزكريا إذ نادى ربه رب لا تذرني فردا وأنت خير الوارثين ) ( رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين ) ، و أستغفرك من كل فريضة أوجبتها علي في آناء الليل وأطراف النهار فتركتها خطأً أو عمدا ً أو نسياناً أو تهاونا أو جهلاً وأنا معافب بها ، وأستغفرك من كل سنة من سنن سيد المرسلين وخاتم نبيك سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم فتركتها غفلة أو سهوا أونسيانا أو تهاونا أو جهلاً أو قلة مبالاة بها ، وأستغفرك يا من لا إله إلا أنت وحدك لا شريك لك ، وأن محمداً عبدك ورسولك ، سبحانك يا رب العالمين ، لك الملك ولك الحمد ، وأنت حسبنا ونعم الوكيل ، ونعم المولى ونعم النصير ، ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم .ياجابر كل كسير ويا مؤنس كل وحيد ، ويا صاحب كل غريب ، ويا ميسر كل عسير ، يا من لا يحتاج على البيان والتفسير ، وأنت على ما تشاء قدير ، وصلى الله على سيدنا محمد بعدد من صلى عليه ، وبعدد من لم يصلي عليه ، اللهم صلي على روح سيدنا محمد في الأرواح ، اللهم صل على تربة سيدنا محمد في الترب ، اللهم صل
على قبر سيدنا محمد في القبور ، اللهم صل على صور سيدما محمد في الصور ، اللهم صل على اسم سيدنا محمد في الأسماء ، ( لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤوف الرحيم ، فإن تولوا فقل حسبي الله لا إله إلا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم ) وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم .

Telah selesai Do’a Istighfar Rajab yang masyhur , semoga do’a ini bermanfa’at bagi kita , Amin… Dan janganlah lupa dengan sayyidul Istighfar  yang datang dari Rasullullah SAW, yaitu sebagai berikut:

( اللهم أنت ربي لا إله إلا أنت خلقتني وأنا عبدك ، وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت ، وأبوء بنعمتك علي ، و أبوء لك بذنبي فاغفرلي ، فإنه لا يغفر الذنوب إلاأنت ) 3x

Di baca di pagi hari dan sore hari.

Tasbih Bulan Rajab:

Hendaklah kaum muslimin membaca setiap hari seratus kali:Dari hari pertama sampai ke sepuluh membaca: سبحان الله الحي القيوم 100 مرة
Dari Hari kesebelas sampai duapuluh Rajab: سبحان الله الأحد الصمد 100 مرة
Dari hari duapuluh satu hingga tiga puluh Rajab: سبحان الله الرؤوف الرحيم 100 مرة

Faidah:

Dari Assyekh Ali Al-Ajhuri -Rahimahullah- : Barang siapa membaca di Akhir Jum’at bulan Rajab ketika khatib berada di mimbar  :    أحمد رسول الله
محمد رسول الله” ” sebanyak 35 kali, maka uang akan tidak akan terputus dari tangannya di tahun itu.

Dzikir pada hari kedua puluh Tujuh Rajab:

عن أبان  عن أنس  عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال : « في رجب ليلة يكتب للعامل فيها حسنات مائة سنة وذلك لثلاث بقين من رجب فمن صلى فيها اثنتي عشرة ركعة يقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب وسورة من القرآن ، ثم يقول : سبحان الله ، والحمد لله ، ولا إله إلا الله ، والله أكبر ، مائة مرة ، ويستغفر الله مائة مرة ، ويصلي على النبي صلى الله عليه وسلم مائة مرة ، ويدعو لنفسه ما شاء من أمر دنياه وآخرته ، ويصبح صائما ، فإن الله يستجيب دعاءه كله إلا أن يدعو فيمعصية »

Dari Aban dari Anas Dari Rasulullah SAW bahwa: beliyau bersabda: ” di bulan Rajab, ada malam disitu di tulis bagi siapa yang berbuat kebaikan di situ selama seratus tahun, yaitu di tiga hari sebelum akhir bulan Rajab ( tanggal duapuluh tujuh Rajab) barang siapa shalat di malam itu dua belas Raka’at , setiap Raka’at membaca Fatihah dan sebuah surat dari Al-Qur’an m kemudian membaca:
” سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر”
sebanyak 100 kali , dan beristighfar sebanyak 100 kali dan bershalawat atas Nabi sebanyak 100 kali m kemudian berdo’a untuk dirinya sendiri apa yang dia inginkan dari perkara dunia atau Akherat , kemudian paginya berpuasa , maka Allah SWT akan mengabulkan do’anya semua, kecuali jika berdo’a maksiyat”. Barang siapa membaca do’a ini pada tanggalduapuluh tujuh Rajab dan berkehendak sesuatu, niscaya Allah SWT akan memenuhi perminta’an tersebut, yaitu sbb:

اللهم إني أسألك بمشاهدة أسرار المحبين وبالخلوة التي خصصت بها سيد المرسلين حين أسريت به ليلة السابع والعشرين أن ترحم قلبي الحزين وتجيب الدعوة يا أكرمالأكرمين.

Dianjurkan juga untuk berdo’a seperti do’a Rasulullah SAW, sebagaimana di riwayatkan di sebuah Hadist:

عن أنس ، قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل رجب قال : « اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان »

Artinya: Dari Anas berkata : ” Rasulullah SAW jika memasuki bulan Rajab maka berdo’a :

 ” اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان  “

Adapun shalat Raghaib, yaitu shalat sebanyak duabelas Raka’at, yang dilaksanakan antara Maghrib dan Isya’ di malam jum’at pertama pada bulan Rajab , maka shalat itu adalah Bid’ah yang tercela. Akan tetapi seorang muslim boleh melakukan shalat Al Awwabin atau shalat tasbih atau shalat sunat Mutlak, tidak dibatasi dengan jumlah tertentu sebagai ganti shalat tersebut.

Hikmah Nikah Bag I

Islam telah menganjurkan kepada manusia untuk menikah. Dan ada banyak hikmah di balik anjuran tersebut. Antara lain adalah :

1. Sunnah Para Nabi dan Rasul

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).(QS. 13:38)

Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa Dia telah mengutus Rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad saw. dan mereka telah dikaruniai istri dan keturunan. Hal ini wajar menunjukkan bahwa kehidupan keluarga dan berketurunan adalah hal yang wajar dan merupakan salah satu dari sunatulllah bagi makhluk-Nya yang hidup di muka bumi ini yang juga berlaku bagi para Nabi dan Rasul-rasul-Nya. Hidup berkeluarga tidak boleh dianggap sebagai penghalang dalam beragama dan dalam perjuangan bagi kemajuan pribadi, masyarakat dan bangsa. Bahkan pernikahan menurut ajaran Islam, selain berfaedah untuk melanjutkan keturunan juga adalah memberikan ketenangan dan ketenteraman serta kestabilan dalam kehidupan yang wajar. Di samping itu pernikahan pun mempererat silaturahim antara keluarga-keluarga yang bersangkutan dan dapat pula menjadi sarana bagi dakwah Islamiah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw.

Oleh karena hidup berkeluarga adalah suatu naluri yang wajar dan merupakan sunatullah, maka manusia tak boleh menantangnya. Oleh sebab itu adalah suatu pandangan yang amat keliru apabila ada pemimpin agama yang mempunyai sikap dan anggapan bahwa mereka harus menjauhi hidup berkeluarga agar tidak menganggu tugas-tugas mereka dalam menjalankan agama. Sikap hidup membujang atau tabattul dan peraturan-peraturan yang melarang pemimpin-pemimpin agama untuk hidup berkeluarga adalah hal-hal yang tidak dikenal dalam agama Islam dan sangat ditentangnya. Perkawinan dan anak merupakan suatu nikmat dan rahmat Allah kepada hamba-Nya. Karenanya perlu dipelihara sebaik-baiknya.

Dalam suatu riwayat disebutkan orang-orang Yahudi mencela Nabi Muhammad saw. karena beliau mempunyai beberapa orang istri. Kata mereka, kalau benar-benar Muhammad adalah Nabi dan Rasul tentulah ia akan menyibukkan diri dengan tugas-tugas kenabiannya saja dan tidak akan mempedulikan wanita. Di samping itu mereka meminta bermacam-macam bukti tentang kenabiannya selain Alquran yang menjadi mukjizat-Nya. Maka Allah swt. telah membantah mereka itu dengan menegaskan bahwa Nabi Muhammad bukanlah Rasul Allah yang pertama melainkan sebelum itu Allah swt. telah mengutus beberapa Rasul dan semuanya adalah manusia yang memerlukan makan dan minum, berkeluarga dan berketurunan serta melakukan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang lainnya, berjalan di pasar dan sebagainya. Dalam hal ini Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk menegaskan:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ

Artinya: Sesungguhnya aku ini hanya manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku. (Q.S. Al-Kahfi: 110)

Kemudian dalam ayat yang sedang dibacakan ini ditegaskan tentang kewajaran dan kebolehan para Rasul itu hidup berkeluarga dan berketurunan. Allah menegaskan bahwa Dia mengaruniai mereka istri dan keturunan. Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:

وأما أنا فأصوم وأفطر وأقوم وأنام وآكل اللحم وأتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس مني

Artinya: Adapun aku, aku berpuasa dan berbuka, aku bersalat di waktu malam juga tidur, aku juga makan daging dan juga menikahi wanita; maka siapa yang tidak suka kepada sunahku tiadalah ia termasuk umatku. (H.R. Bukhari)

2. Bagian Dari Tanda Kekuasan

Allah Firman Allah:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.(QS. 30:21)

Manusia mengetahui bahwa mereka mempunyai perasaan-perasaan tertentu terhadap jenis yang lain. Perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran itu ditimbulkan oleh daya tarik yang ada pada masing-masing mereka, yang menjadikan yang satu tertarik kepada yang lain, sehingga antara kedua jenis pria dan wanita itu terjalin hubungan yang wajar. Mereka melangkah maju dan bergiat agar perasaan-perasaan itu dan kecenderungan-kecenderungan antara laki-laki dan wanita itu tercapai. Puncak dari semuanya itu ialah terjadinya perkaw nan antara laki-laki dan perempuan itu. Dalam keadaan demikian bagi laki-laki hanya istrinya itulah wanita yang paling cantik dan baik, sedang bagi wanita itu, hanya suaminyalah laki-laki yang menarik hatinya. Masing-masing mereka merasa tenteram hatinya dengan ada pihak yang lain itu. Semuanya ini merupakan modal yang paling berharga dalam membina rumah tangga bahagia. Kemudian dengan adanya rumah tangga yang berbahagia jiwa dan pikiran menjadi tenteram, tubuh dan hati mereka menjadi tenang serta kehidupan dan penghidupan menjadi mantap, kegairahan hidup akan timbul, dan ketenteraman bagi laki-laki dan wanita secara menyeluruh akan tercapai. Khusus mengenai kata-kata “mawaddah” (rasa kasih) dan “rahmah” (sayang), Mujahid dan Ikrimah berpendapat bahwa yang pertama adalah sebagai ganti dari kata “nikah” (bersetubuh, bersenggama) dan yang kedua sebagai kata ganti “anak”. Jadi menurut Mujahid dan Ikrimah, maksud perkataan Tuhan: “Bahwa Dia menjadikan antara suami dan istri rasa kasih sayang ialah adanya perkawinan sebagai yang disyariatkan Tuhan antara seorang laki-laki dengan seorang wanita dari jenisnya sendiri, yaitu jenis manusia, akan terjadilah persenggamaan yang menyebabkan adanya anak-anak dan keturunan. Persenggamaan adalah merupakan suatu keharusan dalam kehidupan manusia, sebegaimana adanya anak-anak adalah merupakan suatu keharusan yang umum pula. Ada yang berpendapat bahwa: “mawaddah” bagi anak muda, dan “rahmah” bagi orang tua. Sehubungan dengan mawaddah itu Allah mengutuk kaum Lut yang melampiaskan nafsunya dengan melakukan homosex, dan meninggalkan istri-istri mereka yang seharusnya kepada istri-istri itulah mereka melimpahkan rasa kasih sayang dan dengan merekalah seharusnya bersenggama. Allah SWT berfirman:

وتذرون ما خلق لكم ربكم من أزواجكم

Artinya: Dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu. (Q.S. Asy syu’ara: 166)

Dalam ayat ini Allah memberi tahukan kepada kaum laki-laki bahwa “tempat tertentu” itu ada pada perempuan dijadikan untuk laki-laki. Dalam hadis diterangkan bahwa para istri wajib melayani ajakan suaminya, kapan saja dikehendaki oleh sang suami. Jika ia menolak ajakan itu sedang dia dalam keadaan tidak terlarang, ia termasuk orang yang zalim dan berdosa besar. Nabi saw bersabda:

والذي نفسي بيده ما من رجل يدعو امرأته إلى فراشها فتأبى عليه إلا كان الذي في السماء ساخط عليها حتى يرضى عنها. وفي لفظ آخر: إذا باتت المرأة هاجر فراش زوجها لعنتها الملائكة حتى تصبح .

Artinya: Demi Tuhan yang jiwaku berada di kekuasaan-Nya, tidak ada seseorang lelakipun yang mengajak istrinya untuk bercampur, tetapi ia (istri) enggan, kecuali yang ada di langit akan marah kepada istri itu, sampai suaminya rida kepadanya”. Dalam lafal yang lain, hadis ini berbunyi: “Apabila istri tidur meninggalkan ranjang suaminya maka malaikat-malaikat akan melaknatinya hingga ia bangun di pagi hari”. (H.R. Muslim dari Abu Hurairah)

Dalam ayat-ayat yang lain Allah SWT menetapkan ketentuan-ketentuan hidup suami istri, untuk mencapai kebahagiaan hidup dan agar ketenteraman jiwa serta kerukunan hidup berumah tangga tercapai. Apabila hal itu belum tercapai, maka mereka semestinya mengadakan introspeksi terhadap diri mereka sendiri, meneliti apa yang belum dapat mereka lakukan serta kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat, kemudian menetapkan cara yang paling baik sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah, sehingga tujuan perkawinan yang diharapkan itu tercapai, yaitu ketenangan, saling mencintai dan kasih sayang. Demikianlah agungnya perkawinan itu, dan rasa kasih sayang ditimbulkannya, sehingga ayat ini ditutup dengan menyatakan bahwa semuanya itu terdapat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT bagi orang-orang yang mau menggunakan pikirannya. Tetapi sayang, sedikit sekali manusia yang mau mengingat kekuasaan Allah yang menciptakan istri-istri bagi mereka dari jenis-jenis mereka sendiri (jenis manusia) dan menanamkan rasa cinta dan kasih sayang dalam jiwa mereka.

Bertaubat Sebelum Ajal Menjemput

Bertaubat Sebelum Ajal Menjemput

Oleh: H.A,Khudori Yusuf

Asalamualaikum wr wb ,cepet…..cepetlah wahai sahabat ,qitq bertoubat jangan terbawa arus sesat,sebelum azal menjemput …..Demikian status sahabat FB ku (Nadhila Vega Farid) https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=132621916816558&id=100002062521031.Subhanallah status ini mengajak kepada kita agar  cepat-cepat bertaubat sebelum ajal menjemput.

Mengapa Kita harus cepat bertaubat sebelum ajal menjemput? Karena waktu itu  cepat sekali  berlalu. Mengalir tak pernah berhenti. Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, bergerak. Waktu tak dapat ditunda, tak dapat ditahan dan tak mungkin ada yang mampu mengulang. Itu artinya, usia kita pun berkurang. Kita… semakin dekat ke liang lahat. Saudaraku, entah, apakah pertambahan dan perguliran waktu itu, berarti mendekatkan diri kita pada kenikmatan surga. Atau mendekatkan kita pada kesengseraan neraka. Nauzubillah….

Rasulullahl saw. Menyifatkan cepatnya perjalanan waktu kehidupan seperti perjalanan seorang musafir yang hanya sejenak berhenti di bawah pohon di tengah perjalanan yang amat panjang. Para ulama juga banyak menguraikan ilustrasi tentang hidup yang amat singkat ini. “Umurmu akan mencair seperti mencairnya es, ” kata Imam Ibnul Jauzi. (Luthfu fil Wa’z, 31)

Semoga Allah memberkahi sisa usia kita, Permasalah terbesar setiap orang adalah ketika kecepatan umur dan waktu hidupnya tidak seiring dengan kecepatannya untuk menyelamatkan diri dari penderitaan abadi di akhirat. Ketika, usia yang sangat terbatas itu tidak berfungsi sebagai pelindung diri dari beratnya adzab dan siksa Allah swt. Di saat, banyaknya hembusan dan tarikan nafasnya tak sebanding dengan upaya dan jihadnya untuk terhindar dari lubang kemurkaan Allah. Ketika, jumlah detak jantung dan aliran darah yang di pompa di dalam tubuhnya, tak sebanyak gerak dan tingkahnya untuk menjauhi berbagai kemaksiatan yang dapat memunculkan kesengsaraan akhirat.

Sahabat…Hari demi hari berlalu, dosa demi dosa kita perbuat, kemaksiatan demi kemaksiatan menorehkan luka menganga dan noda-noda hitam di dalam hati kita, Maha Suci Allah!! Seolah-olah tidak ada hari kebangkitan, seolah-olah tidak ada hari pembalasan, seolah-olah tidak ada Zat yang maha melihat segala perbuatan dan segala yang terbesit di dalam benak pikiran, di gelapnya malam apalagi di waktu terangnya siang, innallaha bikulli syai’in ‘aliim (Sesungguhnya Allah, mengetahui segala sesuatu).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

 “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Robb-mu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah (surga) yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: ‘Ya Robb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah Kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’” (Qs. At Tahriim: 8 )

Allahumma, betapa zalimnya diri ini, bergelimang dosa dan mengaku diri sebagai hamba, hamba macam apakah ini? yang tidak malu berbuat maksiat terang-terangan di hadapan pandangan Robb ‘azza wa jalla, wahai jiwa… kenalilah kehinaan dirimu, sadarilah keagungan Robb yang telah menciptakan dan memberikan nikmat tak berhingga kepadamu, ingatlah pedihnya siksa yang menantimu jika engkau tidak segera bertaubat.

Cepatlah kembali tunduk kepada Ar Rahman, sebelum terlambat. Karena apabila ajal telah datang maka tidak ada seorang pun yang bisa mengundurkannya barang sekejap ataupun menyegerakannya, ketika maut itu datang… beribu-ribu penyesalan akan menghantui dan bencana besar ada di hadapan; siksa kubur yang meremukkan dan gejolak membara api neraka yang menghanguskan kulit-kulit manusia, subhaanAllah, innallaha syadiidul ‘iqaab (sesungguhnya Allah, hukuman-Nya sangat keras). Padahal tidak ada satu jiwa pun yang tahu di bumi mana dia akan mati, kapan waktunya, bisa jadi seminggu lagi atau bahkan beberapa detik lagi, siapa yang tahu? Bangkitlah segera dari lumpur dosa dan songsonglah pahala, dengan sungguh-sungguh bertaubat kepada Robb tabaaraka wa ta’ala.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. Al A’raaf: 23)

Kepada semua orang yang pernah berjasa kepadaku semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan balasan kebaikan yang sebesar-besarnya, dan kepada semua orang yang pernah terzalimi sudilah kiranya memaafkan kesalahan-kesalahanku, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua, semoga Allah mempertemukan kita di hari kiamat kelak sebagai sahabat di dalam jannah-Nya, Jannatul Firdaus, aamiin Yaa Robbal ‘aalamiin.

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallama tasliman katsiran. Wa akhiru da’wanaa anil hamdulillahi Robbil ‘aalamiin.

https://www.facebook.com/notes/a-khudori-yusuf/bertaubat-sebelum-ajal-menjemput/232480573446186

Jalan Taqwa

Jalan Taqwa

Oleh:H.A.Khudori Yusuf

Bismillahirrahmanirrahiim, “SEBENARNYA BUKAN SEBERAPA BESAR NIKMAT YANG DI LIMPAHKAN KEPADA KITA, BUKAN SEBERAPA BERAT UJIAN YANG DI COBAKAN KEPADA KITA, NAMUN SEBERAPA MAMPU MERASAKAN KEHADIRAN DAN KEBESARAN ALLAH SWT DI DALAMNYA DAN SEBERAPA MAMPU UNTUK SELALU BESRYUKUR MENJALANINYA” ( Jantung Hati )

https://www.facebook.com/profile.php?id=100002499783311

“Sebenarnya segala caci maki, fitnah, sakit, di ghibah, dll adalah juga manifestasi dari kenikmatan : cobaan akan membuat hati gigih bertahan dalam ketegaran iman, letakan Allah SWT di samudra hati, di tempat yang sangat dekat hingga ke urat nadi, hanya memandang Allah SWT tiada akan pernah ada rasa sakit itu ….., dan tanpa mengenyampingkan adanya korelasi hubungan antara sebab dan akibat.Ini adalah komentar sahabatku ukhti Jantung Hati dalam note https://www.facebook.com/notes/a-khudori-yusuf/perjalanan-mensucikan-jiwa-untuk-menjadi-hamba-allah-yang-bertakwa/231948693499374

Subhanallah….lagi2 malam jum’at yang penuh berkah ini saya mendapatkan pelajaran yang berharga dari sahabat FB ku …Komentar sahabatku itu adalah merupakan Muraqabah kepada Allah SWT.Muraqabah merupakan satu metode untuk menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Jika pilihan setiap manusia jatuh ke jalan ketaqwaan sudah dapat dibayangkan nilai akhir akan sampai kepada sebuah kemenangan yang hakiki. Diraihnya suatu kemenangan melalui aktivitas yang berat, tetapi atas dasar nilai-nilai ketaqwaan (ketaatan) itu, keberhasilan menyertainya. Secara tegas Allah SWT menyatakan ketaqwaan seseorang akan sampai kepada kemenangan: “Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan bertaqwa kepada Allah dan RasulNya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepadaNya maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS.24:52).

Untuk sampai ke arah kemenangan, sewajarnya setiap manusia mencari jalan dengan maksimal yang disertai sesuai ketentuan syari’at Islam. Maka jawaban yang tepat mencapainya, ustadz Dr. Abdullah Nasih Ulwan melalui sebuah kitab berjudul “Ruhaniyatud-Da’iah” memberikan cara mencapai ketaqwaan. Bahwa terdapat beberapa marhalah (langkah) yang perlu dilalui untuk menuju taqwa yaitu:

1.Mu’ahadah

Langkah awal yang harus dilakukan setiap orang merenungkan mu’ahadah (mengingat perjanjian) terhadap Allah SWT, maupun terhadap dirinya sendiri. Aktivitas shalat yang dijalankan sehari semalam jika dipahami dengan benar, adalah indikator janji kepada Allah SWT, kemudian disebutnya al-ibadah ritual. Akan tetapi shalat yang dijalankan kurang dipahami sebagai aspek perjanjian (bai’at) sehingga tidak mampu mengubah sikap dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kaitan ini Dr.Abdullah Nasih Ulwan memberi metode cara mu’ahadah yakni hendaklah seseorang mukmin berkhlwat (menyendiri) antara dia dan Allah untuk mengintrospeksi diri seraya mengatakan pada dirinya: “Wahai jiwaku, sesungguhnya kamu tidak berjanji kepada Rabbmu setiap hari di saat kamu berdiri membaca “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.” Janji itulah yang selalu keluar dari lisan maupun qalbu seorang muslim setiap melakukan shalat, dengan demikian, seharusnya ditepati sehingga terhindar dari stempel munafik. Padahal Allah SWT menekankan agar setiap orang menepati janji yang telah dibuatnya: “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji….” (QS.16:91). Kurang memperhatikan dengan perjanjian yang keluar dari lisan seseorang, jika tidak ditepatinya dapat menggugurkan jati diri kemuslimannya.

2. Muraqabah

Muraqabah adalah terpatrinya perasaan keagungan Allah Azza wa Jalla di setiap waktu dan keadaan serta merasakan kebesaranNya di kala sepi ataupun ramai. Kuatnya kebersamaan dengan Allah SWT dapat menumbuhkan sikap yang selalu berhati-hati dalam berbuat, artinya akan senantiasa disesuaikan dengan aturan syariat. Jika keberadaan seperti ini berjalan secara istimrariyah (berkesinambungan) sudah dapat dipastikan kelak akan lahir pribadi-pribadi yang hanif. Sikap muraqabah digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW, ketika menjelaskan kata ihsan: “Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya, dan jika memang kamu tidak melihatNya, maka sesungguhnya Allah melihat kamu.” Sikap seperti ini di jaman modern sangat dibutuhkan sebagai pengendali udara materialistis yang dapat merusak sendi-sendi keimanan seseorang. Pengendalian melalui muraqabah lebih jauh akan mampu menciptakan tatanan masyarakat yang aman tentram (betul-betul terkendali).

Pelaksanaan muraqabah dimulai ketika akan dimulai saat akan melakukan suatu pekerjaan dan di saat mengerjakannya, hendaknya setiap orang mengoreksinya, apakah telah sesuai dengan aturannya atau sebaliknya. Sehingga ketika sampai pada suatu waktu tertentu akan terlihat, lebih-lebih bertemu dengan kegagalan. Mengapa terjadinya suatu kegagalan, padahal menurut perasaan melakukannya secara maksimal. Inti muraqabah tercermin melalui firman Allah SWT: “Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan melihat pula perubahan gerak badanmu diantara orang-orang yang sujud.” (QS.26:218-219).

3. Muhasabah

Jika merenungkan apa yang disampaikan Umar Al-Farq r.a., tentang makna muhasabah (introspeksi diri) yaitu: “Hisablah (nilailah) diri kalian sebelum kalian dihisab (dinilai), timbanglah diri kalian sebelum ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk pertunjukan yang agung (hari kiamat).” Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal kalian barang satu pun. Kesalahan yang sering terjadi di kalangan manusia melarikan diri dari sikap muhasabah, sehingga melemahkan untuk meningkatkan prestasi ibadah, karena merasa sudah berhasil. Lebih jauh lagi hakikat muhasabah seharusnya seorang mukmin memperhatikan modal, keuntungan, dan kerugian, agar ia dapat mengontrol apakah dagangannya bertambah atau menyusut. Yang dimaksud modal di sini adalah Islam secara keseluruhan, mencakup segala perintah, larangan, tuntutan, dan hukum-hukumnya. Sedangkan pengertian laba adalah melaksanakan ketaatan dan menjauhi larangan. Kemudian yang dimaksud kerugian adalah melakukan perbuatan pelanggaran (dosa). Allah SWT memberikan acuan yang berkaitan dengan muhasabah seperti firmanNya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.59:18).

4. Mu’aqabah

Dalam setiap pekerjaan akan berhadapan dengan sebuah perbuatan kesalahan walaupun mungkin ada yang bersifat sengaja atau karena alpa. Ketika berhadapan dengan perbuatan kesalahan yang dilakukan secara sengaja perlu diambil sanksi (mu’aqabah). Namun ajaran Islam yang agung telah memberikan uswah, walaupun perbuatan kesalahan karena alpa sebagai pendidikan adanya tindakan mu’aqabah. Hal ini dapat dilihat dari riwayat, bahwa Uman bin Khatab ra., pergi ke kebunnya. Ketika pulang didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan shalat Ashar. Maka beliau berkata: “Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah shalat Ashar…kini kebunku aku jadikan shadaqah buat orang-orang miskin.” Ibrah yang dapat diambil dari riwayat shahabat, Umar bin Khatab ra bahwa kesadaran untuk mengakui kesalahan atas perbuatan dirinya kemudian diterapkan mu’aqabah secara konsekuen akan membawa dampak positif. Dalam pengertian, dapat dijadikan panutan orang lain, lebih-lebih jika dijadikan panutan oleh para elit kekuasaan. Sekaligus menerapkan aturan hukum diterapkan kepada siapapun tanpa kecuali, bukan perilaku rejim yang menerapkan norma kesewenangan. Pemberian sanksi diberikan atas dasar keadilan yang diberikan Allah SWT setelah sebelumnya diberikan peringatan agar berjalan di wilayah Al-Haq: “….dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan….(QS.2:195). Demikian juga di tempat terpisah Allah SWT mengingatkan manusia supaya waspada yaitu: “….dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS.4:29).

5. Mujahadah

Kerja keras secara maksimal merupakan tahapan yang harus diupayakan untuk mencapai keberhasilan. Karena sesuatu yang mustahil kesuksesan didapat tanpa melalui perjuangan dengan sungguh-sungguh dan itulah kemudian disebugt mujahadah (optimalisasi). Secara terminologi makna mujahadah yakni apabila seorang mukmin terseret dalam kemalasan, santai, cinta dunia dan tidak lagi melaksanakan amal-amal sunnah serta ketaatan yang lainnya tepat pada waktunya, maka ia harus memaksa dirinya melakukan amalan-amalan sunnah lebih banyak dari sebelumnya. Kemudian dalam kaitan ini, ia harus tegas, dan penuh semangat sehingga pada akhirnya ketaatan merupakan kebiasaan yang mulia bagi dirinya dan menjadi sikap yang melekat pada dirinya. Secara tersurat dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS.29:69). Bentuk mujahadah yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW diperlihatkan ketika menghadapi akhir ramadhan seperti sabdanya: “Apabila Rasulullah memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malam (dengan ibadah), membangunkan keluarganya bersungguh-sungguh dan mengencangkan ikat pinggang.” (HR.Bukhari Muslim).

https://www.facebook.com/note.php?saved&&note_id=231980186829558

Pemahaman Ahlussunnah Tentang Hadîts an-Nuzul

Pemahaman Ahlussunnah Tentang Hadîts an-Nuzûl

Ada sebuah hadits yang dikenal dengan nama Hadîts an-Nuzûl. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imâm al-Bukhari dan al-Imâm Muslim dalam kitab Shahih masing-masing. Redaksi hadits riwayat al-Bukhari adalah sebagai berikut: (Shahîh al-Bukhâri; Kitâb al-Shalât, Bâb al-Du’â Wa al-Shalât Âkhir al-Layl. Lihat pula Shahîh Muslim; Kitâb Shalât al-Musâfirîn Wa Qashruhâ; Bâb al-Targhîb Fî al-Du’â Wa al-Dzikr Fî Âkhir al-Layl Wa al-Ijâbah Fîh.)

“Telah mengkabarkan kepada kami Abdullah ibn Maslamah, dari Malik, dari Ibn Syihab, dari Abu Salamah dan Abu Abdillah al-Agarr, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda:

يَنْـزِلُ رَبّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيلَةٍ إلَى السّمَاءِ الدّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللّيلِ الآخِر يَقُوْل: مَنْ يَدْعُونِي فَأسْتَجِيْب لهُ وَمَن يَسْألنِي فأعْطِيه وَمنْ يَسْتَغْفِرني فأغْفِر لهُ (رواه البخاري)

Hadîts an-Nuzûl ini tidak boleh dipahami dalam makna zhahirnya, karena makna zhahirnya adalah turun dari arah atas ke arah bawah, artinya bergerak dan pindah dari satu tempat ke tampat yang lain, dan itu mustahil pada hak Allah.

Al-Imâm an-Nawawi dalam kitab Syarh Shahîh Muslim dalam menjelaskan Hadîts an-Nuzûl ini berkata:

“Hadist ini termasuk hadits-hadits tentang sifat Allah. Dalam memahaminya terdapat dua madzhab mashur di kalangan ulama;

Pertama: Madzhab mayoritas ulama Salaf dan sebagian ulama ahli Kalam (teolog), yaitu dengan mengimaninya bahwa hal itu adalah suatu yang hak dengan makna yang sesuai bagi keagungan Allah, dan bahwa makna zahirnya yang berlaku dalam makna makhluk adalah makna yang bukan dimaksud. Madzhab pertama ini tidak mengambil makna tertentu dalam memahaminya, artinya mereka tidak mentakwilnya. Namun mereka semua berkeyakinan bahma Allah Maha Suci dari sifat-sifat makhluk, Maha Suci dari pindah dari suatu tempat ke tempat lain, Maha Suci dari bergerak, dan Maha Suci dari seluruh sifat-sifat makhluk.

Kedua: Madzhab mayoritas ahli Kalam (kaum teolog) dan beberapa golongan dari para ulama Salaf, di antaranya sebagaimana telah diberlakukan oleh Malik, dan al-Auza’i, bahwa mereka telah melakukan takwil terhadap hadits ini dengan menentukan makna yang sesaui dengan ketentuan-ketentuannya.

Dalam penggunaan metode takwil ini para ulama madzhab kedua ini memiliki dua takwil terhadap Hadîts an-Nuzûl di atas.

Pertama; Takwil yang nyatakan oleh Malik dan lainnya bahwa yang dimaksud hadits tersebut adalah turunnya rahmat Allah, dan perintah-Nya, serta turunnya para Malaikat pembawa rahmat tersebut. Ini biasa digunakan dalam bahasa Arab; seperti bila dikatakan: “Fa’ala al-Sulthân Kadzâ…” (Raja melakukan suatu perbuatan), maka yang dimaksud adalah perbuatan yang dilakukan oleh bawahannya dengan perintahnya, bukan raja itu sendiri yang melakukan perbuatan tersebut.

Kedua; takwil hadits dalam makna isti’ârah (metafor), yaitu dalam pengertian bahwa Allah mengaruniakan dan mengabulkan segala permintaan yang dimintakan kepada-Nya saat itu. (Karenanya, waktu sepertiga akhir malam adalah waktu yang sangat mustajab untuk meminta kepada Allah)” (An-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, j. 6, h. 36).

Dengan demikian pendapat kaum Musyabbihah jelas batil ketika mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah turunnya Allah dengan Dzat-Nya. Di antara dalil lainnya yang dapat membatalkan pendapat mereka ini adalah bahwa sebagian para perawi hadits al-Bukhari dalam Hadîts an-Nuzûl ini telah memberikan harakat dlammah pada huruf yâ’, dan harakat kasrah pada huruf zây; menjadi “Yunzilu”, artinya; menjadi fi’il muta’addi; yaitu kata kerja yang membutuhkan kepada objek (Maf’ûl Bih). Dengan demikian menjadi bertambah jelas bahwa yang turun tersebut adalah para Malaikat dengan perintah Allah. Makna ini juga seperti yang telah jelas disebutkan dalam riwayat Hadîts an-Nuzûl lainnya dari sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudriy bahwa Allah telah memerintah Malaikat untuk menyeru di langit pertama pada sepertiga akhir malam tersebut. Dengan demikian kaum Masyabbihah sama sekali tidak dapat menjadikan hadits ini sebagai dalil bagi mereka.

Seorang ahli tafsir terkemuka; al-Imâm al-Qurthubi, dalam menafsirkan firman Allah: ”Wa al-Mustaghfirîn Bi al-Ashâr” (QS. Ali ’Imran: 17), artinya; ”Dan orang-orang yang ber-istighfâr di waktu sahur (akhir malam)”, beliau menyebutkan Hadîts an-Nuzûl dengan beberapa komentar ulama tentangnya, kemudian beliau menuliskan sebagai berikut:

“Pendapat yang paling baik dalam memaknai Hadîts an-Nuzûl ini adalah dengan merujuk kepada hadits riwayat an-Nasa-i dari sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudriy, bahwa Rasulullah bersabda

: إنّ اللهَ عَزّ وَجَلّ يُمْهِلُ حَتّى يَمْضِيَ شَطْرُ اللّيْلِ الأوّلِ ثُمّ يأمُرُ مُنَادِيًا فَيَقُوْل: هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَه، هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لهُ، هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى

”Sesungguhnya Allah mendiamkan malam hingga lewat paruh pertama dari malam tersebut, kemudian Allah memerintah Malaikat penyeru untuk berseru: Adakah orang yang berdoa?! Maka ia akan dikabulkan. Adakah orang yang meminta ampun?! Maka ia akan diampuni. Adakah orang yang meminta?! Maka ia akan diberi.

Hadits ini dishahihkan oleh Abu Muhammad Abd al-Haq. Dan hadits ini telah menghilangkan segala perselisihan tentang Hadîts an-Nuzûl, sekaligus sebagai penjelasan bahwa yang dimaksud dengan hadits pertama (hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim) adalah dalam makna dibuang mudlâf-nya. Artinya, yang dimaksud dengan hadits pertama tersebut ialah bahwa Malaikat turun ke langit dunia dengan perintah Allah, yang kemudian Malaikat tersebut menyeru. Pemahaman ini juga dikuatkan dengan adanya riwayat yang menyebutkan dengan dlammah pada huruf yâ’ pada kata “Yanzilu” menjadi “Yunzilu”, dan riwayat terakhir ini sejalan dengan apa yang kita sebutkan dari riwayat an-Nasa-i di atas” (Tafsîr al-Qurthubi, j. 4, h. 39).

Al-Imâm al-Hâfizh Ibn Hajar dalam kitab Syarh Shahîh al-Bukhâri menuliskan sebagai berikut: “Kaum yang menetapkan adanya arah bagi Allah dengan menjadikan Hadîts an-Nuzûl ini sebagai dalil bagi mereka; yaitu menetapkan arah atas, pendapat mereka ini ditentang oleh para ulama, karena berpendapat semacam itu sama saja dengan mengatakan Allah bertempat, padahal Allah Maha suci dari pada itu. Dalam makna Hadîts an-Nuzûl ini terdapat beberapa pendapat ulama” (Fath al-Bâri, j. 3, h. 30).

Kemudian al-Hâfizh Ibn Hajar menuliskan: “Abu Bakar ibn Furak meriwayatkan bahwa sebagian ulama telah memberikan harakat dlammah pada huruf awalnya; yaitu pada huruf yâ’, (menjadi kata yunzilu) dan objeknya disembunyikan; yaitu Malaikat. Yang menguatkan pendapat ini adalah hadits riwayat an-Nasa-i dari hadits sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudzriy, bahwa Rasulullah bersabda:

: إنّ اللهَ يُمْهِلُ حَتّى يَمْضِيَ شَطْرُ اللّيْلِ ثُمّ يأمُرُ مُنَادِيًا يَقُوْل: هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابُ لَه

”Sesungguhnya Allah mendiamkan waktu malam hingga lewat menjadi lewat paruh pertama dari malam tersebut. Kemudian Allah memerintah Malaikat penyeru untuk berseru: Adakah orang yang berdoa!! Ia akan dikabulkan”.

Demikian pula pemahaman ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan dari Utsman ibn al-Ash dengan redaksi sabda Rasulullah:

يُنَادِ مُنَادٍ هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَهُ ”…

maka Malaikat penyeru berseru: ”Adakah orang yang berdoa! Maka akan dikabulkan baginya”. Oleh karena itulah al-Qurthubi berkata: “Dengan demikian segala perselisihan tentang hadits ini menjadi selesai” (Fath al-Bâri, j. 3, h. 30).

Al-Imâm Badruddin ibn Jama’ah dalam kitab Idlâh al-Dalîl Fî Qath’i Hujaj Ahl al-Ta’thîl menuliskan sebagai berikut: “Ketahuilah, bahwa tidak boleh memaknai an-nuzûl dalam hadits ini dalam pengertian pindah dari satu tempat ke tempat lain, karena beberapa alasan berikut;

Pertama: Turun dari satu tempat ke tempat lain adalah salah satu sifat dari sifat-sifat benda-benda dan segala sesuatu yang baharu. Turun dalam pengertian ini membutuhkan kepada tiga perkara; Benda yang pindah itu sendiri, Tempat asal pindahnya benda itu, dan Tempat tujuan bagi benda itu. Makna semacam ini jelas mustahil bagi Allah.

Ke Dua: Jika Hadîts an-Nuzûl dimaknai bahwa Allah turun dengan Dzat-Nya secara hakekat, maka berarti pekerjaan turun tersebut terus-menerus terjadi pada Allah setiap saat dengan pergerakan dan perpindahan yang banyak sekali, supaya bertepatan dengan sepertiga akhir malam. Hal ini karena kejadian sepertiga akhir malam terus terjadi dan bergantian di setiap belahan bumi. Dengan demikian hal itu menuntut turunnya Allah setiap siang dan malam dari suatu kaum kepada kaum yang lain. Hal itu juga berarti bahwa Allah pada saat yang sama turun naik antara langit dunia dan arsy. Tentunya pendapat semacam ini tidak akan diungkapkan oleh seorang yang berakal sehat.

Ke Tiga: Pendapat yang menyebutkan bahwa Allah bertempat di atas arsy dan memenuhinya, bagaimana mungkin cukup bagi-Nya untuk bertempat di langit dunia, padahal luasnya langit dibanding arsy tidak ubahnya seperti sebesar kerikil dibanding lapangan yang luas. Dalam hal ini pendapat sesat tersebut tidak lepas dari dua kemungkinan;

Pertama: Bahwa langit dunia setiap saat berubah menjadi besar dan luas hingga mencukupi Allah.

Kedua: Atau bahwa Dzat Allah setiap saat menjadi kecil agar tertampung oleh langit dunia tersebut. Tentunya, kita menafikan dua keadaan yang mustahil tersebut dari Allah.

Dengan demikian setiap ayat dan hadits mutasyâbihât yang zahirnya seakan menunjukkan adanya keserupaan antara Allah dengan makhluk-Nya harus ditakwil dengan makna yang sesuai dengan keagungan Allah. Atau jika tidak memberlakukan takwil maka harus diyakini kesucian Allah dari segala sifat-sifat makhluk-Nya” (Idlâh al-Dalîl, h. 164).

KESIMPULAN: Allah bukan benda, dan Dia tidak disifati dengan sifat-sifat benda. Segala apa yang terlintas dalam benak manusia tentang Allah maka Dia tidak seperti demikian itu. Allah tidak terikat oleh dimensi; ruang dan waktu, Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah. Allah yang menciptakan arsy dan langit maka Dia tidak membutuhkan kepada keduanya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: